Mastercard Bergabung dengan Marco Polo Network Milik R3

0
15

Raksasa layanan keuangan Amerika, Mastercard, telah bergabung dengan perusahaan perangkat lunak blockchain, Marco Polo Network, yang didukung R3 untuk pembiayaan perdagangan.

Dalam rilis berita yang diterbitkan pada 3 September, Mastercard mengungkapkan partisipasinya dalam proyek tersebut, yakni kolaborasi dari R3 dan perusahaan teknologi Irlandia, TradeIX, yang diluncurkan pada 2017. Inisiatif ini menyediakan platform kelas multi-aset yang menawarkan layanan pialang-dealer dan transaksi multicurrency sebagai salah satu layanannya.

Platform Mastercard Track perusahaan untuk perdagangan global secara bisnis-ke-bisnis telah bekerja sama dengan Marco Polo dalam upaya untuk memfasilitasi pengembangan lebih lanjut dan lebih banyak solusi untuk pembiayaan modal kerja.

Jacques Levet, kepala perbankan transaksi Eropa, Timur Tengah dan Afrika di BNP Paribas – salah satu anggota Marco Polo Network mengatakan:

“Aliran informasi yang lebih baik di seluruh nilai rantai memiliki potensi untuk mendorong manfaat signifikan bagi semua anggota jaringan.”

Baru-baru ini, Standard Bank, bank terbesar di Afrika berdasarkan total aset, telah bergabung dengan Marco Polo Network. Standard Bank sekarang akan mengembangkan solusi pembiayaan perdagangan bersama dengan lembaga keuangan global utama seperti BNP Paribas dan ING.

Pada bulan April, Marco Polo menaiki tiga anggota baru untuk tujuan uji coba dan evaluasi, termasuk perusahaan jasa keuangan BayernLB, bank Helaba yang berbasis di Frankfurt, dan penyedia layanan back office, S-Servicepartner.

Disisi lain, sebelumnya, Kepulauan Marshall telah mengeluarkan mata uang berbasis blockchain nasional mereka sendiri dalam upaya untuk “memperoleh kemandirian moneter dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai Marshall.”

Penerbitan kedaulatan Marshall (SOV) diumumkan dalam esai oleh ‘Yang Terhormat’ David Paul – Menteri Bantuan kepada Presiden dan Lingkungan Kepulauan Marshall – yang diterbitkan oleh Coindesk pada 4 September.Kepulauan Marshall telah mengesahkan Sovereign Currency Act pada 2018, menyatakan niatnya untuk merilis mata uang digital nasional yang baru. Negara, yang telah merdeka sejak 1979 ini, sampai sekarang telah menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai mata uang resmi untuk semua pembayaran, hutang, biaya publik, pajak dan iuran.