Academy

110 Proyek Kripto Shutdown pada 2026, Soroti Fase Seleksi Alam Industri

Published

on

Industri kripto memasuki fase market cleansing pada 2026. Berdasarkan arsip RootData – 2026 Crypto Dead Projects List, hingga 26 Juli 2026 tercatat 110 proyek blockchain dan Web3 telah menghentikan operasionalnya atau tidak lagi dapat diakses dalam jangka panjang.

Gelombang shutdown ini terjadi di berbagai sektor, mulai dari decentralized finance (DeFi), infrastructure, social, NFT marketplace, centralized exchange, wallet, gaming, launchpad, stablecoin, hingga platform tokenisasi aset. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan industri kripto tidak lagi hanya dipengaruhi oleh volatilitas harga aset, tetapi juga oleh keberlanjutan model bisnis, adopsi pengguna, dan kemampuan proyek menghasilkan pendapatan.

Research Analyst Tokocrypto menilai, banyaknya proyek yang berhenti beroperasi pada tahun ini menjadi pengingat bahwa popularitas, pendanaan besar, maupun tren pasar tidak selalu menjamin keberlangsungan sebuah proyek kripto.

“Gelombang shutdown pada 2026 menunjukkan bahwa industri kripto sedang memasuki fase seleksi alam yang lebih matang. Proyek yang hanya bergantung pada hype, insentif jangka pendek, atau narasi pasar akan semakin sulit bertahan jika tidak memiliki utilitas nyata dan model bisnis berkelanjutan,” tulis Research Analyst Tokocrypto dalam risetnya, Selasa, 4 Agustus 2026.

DeFi Jadi Sektor Paling Banyak Terdampak

Dari 110 proyek yang tercatat shutdown pada 2026, sektor DeFi menjadi kategori paling banyak terdampak dengan 38 proyek atau sekitar 34,5% dari total. Setelah itu, sektor infrastructure mencatat 15 proyek atau 13,6%, disusul social sebanyak 11 proyek atau 10%.

Sektor NFT mencatat 7 proyek shutdown atau 6,4%, sementara centralized exchange mencatat 6 proyek atau 5,5%. Adapun kategori lainnya, yang mencakup wallet, gaming, launchpad, dan sektor lain, berjumlah 33 proyek atau sekitar 30% dari total.

Dengan demikian, lebih dari 50% proyek yang shutdown pada 2026 berasal dari tiga sektor utama, yakni DeFi, infrastructure, dan social. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada sektor eksperimental, tetapi juga pada fondasi penting ekosistem Web3.

Research Analyst Tokocrypto menjelaskan, banyak proyek yang sebelumnya memiliki produk dan pendanaan akhirnya gagal mempertahankan aktivitas karena jumlah pengguna menurun dan model bisnis tidak mampu menghasilkan pendapatan secara konsisten.

“Bear market bukan penyebab utama banyaknya project crypto yang shutdown pada 2026, melainkan katalis yang mempercepat seleksi alam industri. Ketika pendanaan semakin selektif dan likuiditas terkonsentrasi pada proyek besar, proyek yang belum memiliki pendapatan kuat akan semakin sulit bertahan,” jelasnya.

Baca juga: Mengenal Aerodrome Finance, Mesin Likuiditas di Jaringan Base

Popularitas Tidak Menjamin Proyek Bertahan

Gelombang shutdown pada 2026 juga menimpa sejumlah proyek yang telah dikenal di industri kripto, seperti BitMart, ICON, RealT, Wapal, dan Wizz Wallet. Masuknya nama-nama besar tersebut menunjukkan bahwa ukuran komunitas atau popularitas brand bukan jaminan keberlanjutan.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, proyek kripto dituntut memiliki utilitas yang jelas, basis pengguna aktif, serta model bisnis yang dapat bertahan dalam berbagai kondisi pasar. Tanpa faktor tersebut, proyek berisiko kehilangan relevansi meski sebelumnya sempat ramai diperbincangkan.

Salah satu penyebab utama banyaknya proyek yang berhenti adalah ketergantungan pada insentif jangka pendek, seperti airdrop, reward, atau liquidity mining. Strategi ini memang dapat menarik pengguna dalam waktu singkat, tetapi sering kali tidak mampu menciptakan loyalitas atau permintaan organik.

Ketika insentif berakhir, aktivitas pengguna ikut menurun. Akibatnya, proyek kehilangan daya tarik dan kesulitan membangun ekosistem yang berkelanjutan.

“Jumlah pengguna atau besarnya pendanaan tidak selalu mencerminkan keberhasilan sebuah proyek. Investor perlu melihat apakah proyek tersebut memiliki produk yang benar-benar digunakan, sumber pendapatan yang jelas, dan kemampuan tim untuk menjalankan bisnis dalam jangka panjang,” tambah Research Analyst Tokocrypto.

Shutdown Bukan Akhir Industri Kripto

Meski jumlah proyek yang tutup cukup besar, Tokocrypto menilai fenomena ini bukan tanda berakhirnya industri kripto. Gelombang shutdown pada 2026 berbeda dengan krisis kripto 2022 yang dipicu efek domino dari runtuhnya Terra, Celsius, dan FTX.

Pada 2026, sebagian besar proyek yang berhenti beroperasi merupakan kasus individual atau isolated failure. Artinya, penutupan proyek tersebut tidak memicu gangguan sistemik terhadap likuiditas maupun stabilitas pasar secara keseluruhan.

Fenomena ini justru menunjukkan industri kripto mulai bergerak ke fase yang lebih matang. Pengguna dan likuiditas semakin terkonsentrasi pada proyek yang memiliki utilitas nyata, model bisnis berkelanjutan, dan nilai tambah bagi ekosistem.

Dalam jangka panjang, proses seleksi alam ini dapat membantu industri menjadi lebih sehat. Proyek yang tidak memiliki fundamental kuat akan tersingkir, sementara proyek yang mampu membuktikan manfaat dan keberlanjutan bisnisnya berpeluang mendapatkan kepercayaan lebih besar dari pengguna maupun investor.

Investor Perlu Lebih Selektif

Tokocrypto menilai investor perlu mengambil pelajaran penting dari gelombang shutdown 2026. Investor tidak lagi cukup menilai proyek hanya dari narasi, airdrop, popularitas komunitas, atau besarnya pendanaan.

Sebelum mengambil keputusan investasi, investor perlu mengevaluasi fundamental proyek secara lebih menyeluruh. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain utilitas produk, pertumbuhan pengguna aktif, sumber pendapatan, aktivitas pengembangan, transparansi tim, serta kemampuan proyek bertahan di tengah perubahan kondisi pasar.

Di pasar yang semakin selektif, strategi investasi juga perlu menyesuaikan. Untuk investor jangka panjang, pendekatan seperti Dollar Cost Averaging (DCA) pada aset yang memiliki fundamental kuat dan ekosistem yang telah terbukti dapat menjadi salah satu cara mengelola risiko.

Namun, investor tetap perlu melakukan riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) sebelum mengambil keputusan. Pasar kripto tetap memiliki risiko tinggi, sehingga keputusan investasi tidak seharusnya hanya didasarkan pada tren sesaat atau sentimen komunitas.

“Gelombang shutdown sebanyak 110 proyek pada 2026 bukan sekadar tentang proyek yang gagal, tetapi menjadi pengingat bahwa masa depan industri kripto akan dibangun oleh proyek dengan fundamental kuat. Bagi investor, riset dan manajemen risiko harus menjadi prioritas utama dibanding sekadar mengikuti hype,” tutup Research Analyst Tokocrypto.

Baca juga: Rahasia SpaceX yang Baru IPO: Punya 18.712 Bitcoin, Lebih Banyak dari Tesla!


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending

Exit mobile version