Bitcoin News

Bitcoin Kebal Dolar: Mengapa BTC Tak Lagi Anjlok Saat USD Naik?

Bitcoin menunjukkan ketahanan yang tidak biasa di tengah penguatan signifikan dolar AS sepanjang Maret 2026.
Tim Research Tokocrypto mengatakan kalau dulu dolar kuat cukup buat memukul BTC keras, sekarang struktur pasar terlihat lebih tebal karena ETF spot.

Published

on

Bitcoin menunjukkan ketahanan yang tidak biasa di tengah penguatan signifikan dolar AS sepanjang Maret 2026. Indeks Dolar AS (DXY) bahkan berhasil menembus level 100, didorong oleh kenaikan real yield dan ketegangan geopolitik global.

Dilaporkan CryptoQuant, dalam kondisi normal, penguatan dolar biasanya memberikan tekanan besar terhadap Bitcoin, seperti yang terjadi pada 2022 saat likuiditas global mengetat. Namun kali ini, pergerakan pasar menunjukkan pola yang berbeda.

Menurut Tim Research Tokocrypto, kalau dulu dolar kuat cukup buat memukul BTC keras, sekarang struktur pasar terlihat lebih tebal karena ETF spot dan pool stablecoin aktif ikut menyerap tekanan risk-off.

“Itu bukan berarti BTC otomatis bullish, tapi jelas menunjukkan perubahan rezim: downside makro masih ada, namun arus modal siap deploy membuat pasar lebih tahan banting saat drawdown,” jelasnya.

Bitcoin lebih stabil di tengah tekanan makro

Meski belum menunjukkan kenaikan signifikan, penurunan harga Bitcoin relatif lebih terbatas dibandingkan siklus sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan struktur pasar yang membuat Bitcoin lebih tahan terhadap tekanan makro.

Salah satu faktor utama adalah hadirnya ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Produk ini membuka akses bagi investor institusional untuk masuk ke pasar secara lebih konsisten, menciptakan lapisan permintaan baru yang sebelumnya tidak ada.

Dengan adanya aliran dana institusional ini, Bitcoin mulai dipandang sebagai bagian dari portofolio investasi, bukan sekadar aset spekulatif.

Baca juga: Bitcoin Masih Terjebak di Bawah $70K: Sinyal Bearish Berlanjut?

Likuiditas meningkat, modal siap masuk kapan saja

Selain itu, aktivitas stablecoin juga mengalami peningkatan signifikan. Data on-chain menunjukkan pertumbuhan jumlah alamat aktif, yang menandakan bertambahnya partisipan sekaligus likuiditas di dalam ekosistem.

Kondisi ini menciptakan “modal siap pakai” yang dapat dengan cepat masuk ke pasar saat terjadi penurunan harga. Artinya, setiap koreksi berpotensi disambut oleh aliran dana baru, sehingga menahan penurunan lebih dalam.

Struktur pasar berubah, korelasi lama mulai tidak relevan

Saat ini, Bitcoin bergerak dalam dua kekuatan utama. Di satu sisi, tekanan makro seperti suku bunga tinggi dan dolar yang kuat masih membayangi. Di sisi lain, permintaan institusional dan likuiditas internal memberikan penopang yang cukup kuat.

Perubahan ini menunjukkan bahwa hubungan klasik antara dolar dan Bitcoin mulai bergeser. Untuk memahami pergerakan pasar saat ini, analisis tidak lagi cukup hanya melihat korelasi, tetapi juga harus mempertimbangkan arus modal dan struktur likuiditas yang terus berkembang.

Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending

Exit mobile version