Market
BitMEX Tutup Setelah 11 Tahun, Ini 3 Alasan Utama di Baliknya
Tim Research Tokocrypto menjelaskan penutupan BitMEX disebut bukan terjadi karena krisis mendadak seperti kasus FTX.
BitMEX, salah satu exchange kripto paling bersejarah, akan resmi menutup operasionalnya pada 23 September 2026. Platform yang dikenal sebagai pelopor perpetual swap ini pernah menjadi pusat perdagangan leverage kripto global, sebelum akhirnya kehilangan dominasi pasar dalam beberapa tahun terakhir.
Tim Research Tokocrypto menjelaskan penutupan BitMEX disebut bukan terjadi karena krisis mendadak seperti kasus FTX. Exchange ini masih memiliki dana untuk membayar pengguna dan proses penutupannya terlihat lebih teratur.
“Namun, ada beberapa faktor besar yang membuat BitMEX akhirnya memilih tutup daripada melanjutkan bisnis atau menjual perusahaan,” jelasnya.
BitMEX Kehilangan Pasar yang Dulu Dibangunnya
Dilaporkan BeInCrypto, BitMEX diluncurkan pada 2014 dan dikenal sebagai exchange yang mempopulerkan perpetual swap, produk derivatif kripto tanpa tanggal kedaluwarsa. Produk ini kemudian ditiru oleh hampir semua exchange besar dan menjadi salah satu instrumen paling penting dalam trading kripto modern.
Namun, meski menjadi pionir, BitMEX perlahan kehilangan pangsa pasar. Pada Agustus 2023, data CoinGecko menempatkan BitMEX di peringkat ke-9 untuk perdagangan derivatif, dengan market share hanya 0,9%. Pada periode yang sama, Binance menguasai sekitar 47,4% pasar.
Penurunan tersebut terus berlanjut. Menurut data Kaiko yang dikutip Reuters, pangsa pasar BitMEX kini berada di bawah 0,01%, dengan volume harian sekitar US$400.000.
Dalam pasar derivatif, likuiditas menjadi faktor utama. Trader cenderung memilih platform dengan volume besar, spread lebih ketat, dan lawan transaksi yang lebih banyak. Ketika trader berpindah ke exchange yang lebih besar, BitMEX semakin sulit mempertahankan posisinya.
Dengan kata lain, BitMEX kehilangan pasar yang dulu ikut dibangunnya sendiri.
Sulit Menemukan Pembeli
Exchange yang melemah biasanya masih bisa dijual jika memiliki aset, teknologi, atau basis pengguna yang menarik. Namun, BitMEX disebut gagal menemukan pembeli.
Menurut peneliti kripto Hasu, BitMEX telah mencari pembeli sejak Februari 2025, tetapi tidak ada transaksi yang berhasil diselesaikan. Di saat yang sama, sejumlah pesaing justru mampu memperoleh modal baru dari investor besar di sektor keuangan.
Salah satu penghambat utama adalah riwayat hukum BitMEX. Pada 2020, regulator Amerika Serikat menuduh BitMEX dan para pendirinya memiliki kontrol anti-money laundering yang lemah. Para pendiri sempat melawan kasus tersebut, sebelum akhirnya mengaku bersalah dan membayar denda tanpa menjalani hukuman penjara.
Biaya hukum BitMEX juga terus bertambah. Pada 2021, perusahaan menyelesaikan perkara dengan dua regulator AS senilai US$100 juta. Pada Januari 2025, BitMEX kembali membayar denda kriminal sebesar US$100 juta dan menerima masa percobaan selama dua tahun.
Presiden Donald Trump kemudian memberikan pardon kepada para pendiri BitMEX pada Maret. Namun, riwayat hukum tersebut tetap menjadi beban reputasi dan kemungkinan membuat calon pembeli lebih berhati-hati.
Baca Juga: Prediction Market Masuk Aplikasi Binance: Era Baru Trading
Insurance Fund Besar Jadi Masalah Tersendiri
Faktor lain yang menjadi sorotan adalah insurance fund BitMEX. Dalam exchange leverage, insurance fund berfungsi sebagai dana pengaman untuk menutup kerugian ketika posisi trader yang dilikuidasi tidak cukup menutupi kewajibannya.
BitMEX pernah memiliki salah satu insurance fund terbesar di industri. Data on-chain menunjukkan dana tersebut sempat mencapai sekitar 37.795 BTC pada Oktober 2021. Saat ini, jumlahnya turun menjadi sekitar 3.694 BTC, ditambah sekitar US$30,8 juta dalam USDT.
Meski sudah menyusut sekitar 90% dari puncaknya, nilai dana yang tersisa masih diperkirakan hampir US$270 juta. Dana ini dinilai tetap besar untuk sebuah exchange yang aktivitas perdagangannya sudah jauh menurun.
Pada November 2025, BitMEX memang sengaja mengurangi ukuran insurance fund. Namun, rasio perlindungan dana tersebut masih lebih tinggi dibanding sejumlah pesaing. Insurance fund BitMEX disebut menutup sekitar 0,88 kali nilai posisi terbuka, sementara Binance sekitar 0,11 kali.
Dana tersebut juga terbukti tidak berada dalam tekanan besar saat pasar mengalami likuidasi besar pada 10 Oktober. Ketika total likuidasi pasar mencapai US$19,35 miliar, BitMEX hanya mencatat sekitar US$38,5 juta di platformnya, dan insurance fund hanya berkurang sekitar US$2 juta.
Masalahnya, dana besar yang sehat justru berada di dalam bisnis yang hampir mati. Hal ini memunculkan pertanyaan soal bagaimana dana tersebut harus diperlakukan setelah exchange tutup.
Hasu menilai insurance fund tersebut bisa menjadi salah satu alasan BitMEX sulit dijual. Menurutnya, dana yang awalnya menjadi keunggulan akhirnya berubah menjadi beban struktural.
Tidak semua pihak sepakat dengan pandangan tersebut. BitMEX menyebut penutupan ini sebagai keputusan bisnis, sementara pendiri Binance, Changpeng Zhao, menilai tekanan regulator AS selama bertahun-tahun menjadi faktor utama.
Di sisi lain, gugatan hukum baru muncul sehari setelah pengumuman penutupan. Dua mantan pengguna menuduh BitMEX mengambil dana dari posisi yang dilikuidasi dan memasukkannya ke insurance fund. Mereka menuntut sekitar 623 BTC dikembalikan dalam bentuk koin, bukan dolar.
Gugatan tersebut juga menyoroti insiden outage pada Maret 2020, ketika pengguna disebut tidak dapat mengakses platform selama 25 menit saat posisi senilai US$800 juta dilikuidasi.
Siapa yang Bisa Menyusul?
Penutupan BitMEX menjadi peringatan bagi exchange kecil dan berisiko tinggi. Pasar perdagangan kripto semakin terkonsentrasi di beberapa pemain besar. Pada 2023, tiga exchange teratas sudah menguasai sekitar 78% volume perdagangan, dan kesenjangan itu diperkirakan semakin melebar.
Exchange yang paling berisiko adalah platform dengan leverage tinggi, cadangan dana terbatas, masalah hukum, dan model bisnis yang tidak terdiversifikasi.
Tekanan juga datang dari perdagangan on-chain. Perpetual futures terdesentralisasi mulai memproses volume besar, meskipun sektor ini tetap memiliki risiko keamanan. TRM Labs mencatat 207 peretasan dengan total kerugian sekitar US$972 juta pada awal 2026.
Di sisi lain, pemain teregulasi juga mulai masuk. Kalshi meluncurkan perpetual futures pertama di AS pada Mei, Kraken menyusul pada Juni, sementara Coinbase sudah lebih dulu masuk ke segmen ini setahun sebelumnya.
Untuk saat ini, pertanyaan terbesar masih belum terjawab: ke mana sisa insurance fund BitMEX senilai hampir US$270 juta akan pergi setelah 23 September?
BitMEX belum memberikan jawaban jelas. Namun, gugatan hukum yang baru muncul dapat memaksa perusahaan untuk membuka lebih banyak informasi.
Bagi exchange lain, pelajaran dari BitMEX cukup jelas. Tetap relevan, jaga kepatuhan, pertahankan likuiditas, dan pastikan bisnis cukup kuat untuk bertahan atau menarik pembeli. Di pasar yang semakin kompetitif, menjadi pionir saja tidak lagi cukup.
Baca Juga: Binance Resmi Integrasi RLUSD, Stablecoin Ripple Makin Ekspansif!
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
