Bitcoin, Alternatif di Tengah Krisis Ekonomi

0
44
Dalam sebuah wawancara, John Vaz, ekonom dan akademis di Monash University menegaskan prospek Bitcoin (BTC) dan cryptocurrency bergantung pada respon pemerintah terhadap krisis ekonomi saat ini.Vaz juga menekankan pentingnya adopsi dan penerimaan terhadap cryptocurrency yang lebih luas lagi. Vaz menyamakan peran Bitcoin sebagai komoditas uang dalam konteks krisis ekonomi yang semakin memburuk dengan keberadaan rokok di dalam penjara.

Bitcoin Jangka Pendek dan Pasar Utama

Dalam trading jangka pendek, Vaz tidak terlalu terkejut ketika harga Bitcoin turun, ia juga menambahkan Bitcoin telah menderita dalam krisis likuiditas yang sama seperti kebanyakan pasar lain. “Ketika terjadi kekacauan, orang-orang akan membuangnya”, ujarnya.

Ekonom ini menekankan bahwa “saat ini, semua hal sedang mengalami penurunan” dan mencatat hanya segelintir “tipe aset komoditas” seperti emas yang dianggap sebagai ‘safe havens’ yang tidak megalami penurunan harga yang sama cepatnya.

Vaz menggambarkan persepsi terhadap USD sebagai “safe haven” adalah hal yang sangat mengherankan. Hal itu ia sampaikan dengan alasan bahwa mata uang Amerika Serikat tersebut merupakan aset yang paling buruk untuk dikelola.

“Yang lebih mengherankan lagi, USD dipandang sebagai tempat yang aman, padahal mungkin USD adalah aset yang paling tidak bisa dikelola dengan baik […] mengingat beberapa pengeluaran yang terjadi di AS, seperti pemotongan pajak dengan jumlah besar dibebankan kepada sektor perusahaan dan semacamnya, pengeluaran untuk keamanan yang besar, dan sekarang bahkan pengeluaran yang lebih besar lagi untuk menstimulasi ekonomi. Jadi bagaimana hal itu dapa tertangani dengan baik?”

Baca juga: Trading Bitcoin Tetap Kuat Meskipun Kondisi Global Terpuruk

Bitcoin sebagai Alternatif

Di tengah maraknya pengelolaan ekonomi yang semrawut, Vaz mengidentifikasi “peluang” untuk aset crypto muncul sebagai “mata uang alternatif dengan beberapa stabilitas dan perlindungan dari ruang mata uang lain.”

Ia berpendapat, kebijakan ekonomi “dalam memotivasi awal terciptanya Bitcoin dan cryptocurrency” sama dengan “kebijakan stimulus yang akan dijalankan pasca-krisis”.

Dia juga menegaskan, beberapa negara akan memiliki situasi di mana “mereka ingin melindungi mata uang mereka dari devaluasi dan menerapkan kontrol mata uang”. Sebaliknya “cryptocurrency bisa menjadi sangat menarik bagi banyak pasar sebagai cara untuk menumbangkan kontrol mata uang tersebut.”

Vaz menambahkan, cryptocurrency lebih adil daripada mata uang kertas, “tidak akan ada bank atau pemerintahan yang membajak kerugian dan memprivatisasi keuntungan. Untuk melakukan hal semacam itu, cryptocurrency menawarkan peluang tersebut dan membuatnya berpotensi dalam membentuk uang alternatif.”

Bitcoin sebagai “Rokok dalam Penjara” di Tengah Krisis Ekonomi

Keberhasilan Bitcoin bergantung pada apakah cryptocurrency akan segera dapat diadopsi lebih luas lagi, khususnya pada wilayah institusi dan kelembagaan.

“Secara historis, uang memiliki nilai karena orang menggunakannya dan percaya bahwa uang layak untuk digunakan. Dengan itu, rokok yang punya ciri sebagai ‘uang’ di penjara, tidak ada yang benar-benar menganggapnya sebagai uang tetapi Anda bisa membuat seseorang dipukuli, dibunuh, atau hal jahat apapun hanya untuk sebungkus rokok. Sekarang, nilainya mungkin tidak lebih dari rokok, tetapi jika melihatnya dengan perumpamaan tersebut, Bitcoin mungkin memiliki nilai yang sama baiknya dengan emas.”

Diakhir wawancara, Vaz menyimpulkan “bagaimana pemerintah dan bagaimana ekonomi dikelola akan menjadi sangat penting di dunia Barat saat ini, dan (dapat) menciptakan peluang untuk cryptocurrency.”

Bagi dirinya, apakah crypto akan berhasil atau tidak, itu “sepenuhnya bergantung pada berapa banyak tahanan yang mau mengambil rokok tersebut”.

Sumber