Bisakah Bitcoin Tumbuh di Negara Berkembang?

0
20
bitcoin di negara berkembang

Bagi warga di negara maju, Bitcoin adalah rencana cadangan jika sistem keuangan konvensional saat ini runtuh atau jika perlu sebagai alat untuk menghindari pantauan pihak berwenang. Bagaiman dengan di negara di berkembang, apakah Bitcoin bisa tumbuh?

Salah satu negara yang rusak parah adalah Turki. Mata uangnya, lira melemah sebesar 85 persen terhadap dolar AS sejak awal 2008.

Bank sentral Turki melakukan intervensi, tetapi tidak berhasil menenangkan situasi. Laju depresiasi lira dapat dilawan dengan menaikkan tingkat suku bunga, tetapi dampaknya buruk bagi ekonomi.

Libanon, yang berada dekat Turki malah bangkrut. Sebelum ledakan besar baru-baru ini yang terjadi di ibukota Beirut, negara tersebut sudah terjerat hutang besar.

Pound Libanon telah kehilangan lebih dari separuh nilainya terhadap dolar AS, kendati dipatok satu banding satu terhadap mata uang itu.

Lalu Nigeria yang disebut sebagai Silicon Valley-nya di benua Afrika, tetapi permasalahan inflasi melanda, di mana rakyat tidak pernah merasakan inflasi kurang dari 5 persen sejak 1972.

Hal serupa dialami warga Kenya, dimana inflasi kurang dari 5 persen hanya terjadi empat kali sejak kurun waktu yang sama.

Permasalahan ini nyata dihadapi warga negara-negara tersebut. Jika mereka membeli barang yang dijual dalam mata uang asing, sementara mata uang lokal melemah, maka pembelian menjadi serba mahal.

Akses Kecil
Bagaimana dengan Bitcoin? Jika seseorang yang membeli di harga puncak sekitar US$20 ribu per BTC tidak akan banyak terganggu oleh penurunan hingga sekitar US$10 ribu saat ini.

Kendati warga AS merasakan penurunan aset sebesar 50 persen, warga Turki justru memiliki lira 15 persen lebih banyak. Hal ini tidak cukup untuk mempertahankan nilai tabungan warga Turki, tetapi jauh lebih baik dibanding jika tidak menyimpan Bitcoin.

Bagi warga di negara-negara ini, membeli dolar AS lebih stabil, tetapi tidak semua orang punya akses untuk membelinya.

Jika pun ada, harga dolar AS lebih mahal dibanding harga tukar resmi. Seperti di Suriah, melalui gabungan sanksi, virus corona, krisis Libanon dan perang, negara itu memasuki resesi parah, sampai-sampai warga Suriah rela menukar uang mereka untuk lira Turki.

Jarang ada yang bersedia menjual Bitcoin untuk pound Suriah atau lira Turki, sebab itu sedikit sekali modal yang diubah ke Bitcoin atau logam mulia di negara di mana mata uangnya runtuh.

Selain itu, warga yang semakin miskin tidak akan membeli Bitcoin dan juga masih sedikit yang sadar akan adanya aset kripto itu.

Permasalahan sebaliknya terjadi di negara maju. Bank sentral gagal mencetak angka inflasi tinggi, seperti di benua Eropa yang mencapai inflasi rata-rata 1,26 persen dalam dua tahun bahkan setelah melakukan pencetakan uang dan suku bunga negatif. Mata uang negara maju relatif lebih stabil dibanding negara berkembang.

Bagi warga negara maju, Bitcoin adalah eksperimen ekonomi yang inovatif dan membuka akses terhadap pasar modal yang sebelumnya hanya diakses segolongan tertentu.

Kripto ini menjadi rencana cadangan bila sistem keuangan runtuh, sementara di negara lain hal itu sudah terjadi.

Mata uang lemah pun mengalami masa-masa stabil. Kendati demikian, rencana cadangan menjadi penting saat kondisi mulai genting. Sebelumnya, rakyat mencari aman dalam bentuk logam mulia, tetapi hal itu kini berubah dimana dunia menjadi lebih digital, otomatis dan cepat.

Bitcoin cocok sebagai aset masa kekinian, sebab dapat disimpan secara digital. Sebagian besar warga negara berkembang memiliki ponsel yang bisa dipakai untuk bertransaksi Bitcoin.

Perubahan ini sudah mulai terjadi, dimana Nigeria menjadi negara yang paling banyak menelusuri istilah Bitcoin, disusul oleh Afrika Selatan dan Venezuela.

Bukan hanya soal transaksi keuangan, Bitcoin membantu menyimpan tabungan yang sulit disita dan juga menjadi komoditas untuk diperdagangkan.

Bitcoin juga demokratis dan siapapun bisa berpartisipasi. Kendati penipuan aset kripto masih marak terjadi, hanya soal waktu sebelum revolusi Bitcoin mulai merebak di negara berkembang yang membutuhkannya.