Connect with us

Blockchain

4 Cara Menghasilkan dari Kripto Selain Trading

Published

on

Ilustrasi mengenal berbagai kelebihan aset kripto.

Dalam pasar kripto saat ini, orang-orang lebih banyak tahu dan melakukan kegiatan trading untuk menghasilkan cuan selain berinvestasi.

Sekadar informasi, trading adalah kegiatan membeli dan menjual aset kripto untuk keuntungan jangka pendek dengan memanfaatkan volatilitas harganya yang tinggi.

Cara Menghasilkan Cuan dari Kripto Selain Trading

Namun tahukah Anda, saat ini kita juga masih dapat menghasilkan keuntungan selain dengan melakukan trading. Tentu saja, dengan tingkat risiko yang jauh lebih rendah dan dapat dilakukan sambil berinvestasi.

Staking 

Staking adalah cara termudah dan teraman untuk menghasilkan keuntungan dari kepemilikan aset kripto Anda. Staking adalah kegiatan mengunci aset untuk membantu validasi jaringan, yang akan memberi hadiah berupa aset kripto yang sama dengan yang Anda kunci.

Sederhananya, staking mirip seperti deposito.Sehingga Anda hanya perlu menyimpan dana Anda selama jangka waktu tertentu (tidak bisa diambil sebelum jangka waktu tersebut berakhir) dan kemudian menikmati bunga / bonus dari hasil kegiatan tersebut.

Persentase yang didapat akan berbeda untuk setiap aset kripto. Dan kegiatan ini bisa Anda lakukan dengan mudah dan aman di bursa Zipmex, melalui fitur terbaik mereka, ZipLock.

ZipLock adalah fitur staking yang disediakan Zipmex. Ada banyak aset yang ditawarkan untuk di-staking, sehingga Anda bisa dapat menghasilkan cuan sambil menunggu nilai investasi Anda meningkat di aset tersebut.

Baca jugaShiba Inu (SHIB) Bakal Hadir di Bioskop Ternama di AS Ini

Beberapa aset yang bisa Anda stake di ZipLock antara lain Bitcoin, Ethereum, Litecoin, USDT, USDC, dan ZMT. Di ZipLock, aset Anda akan dikunci selama 45 hari. Anda akan mendapatkan bunga hingga 14% untuk ZMT dan 11% untuk US Stablecoin per tahun yang dibayarkan setiap harinya.

Yield Farming

Pada dasarnya, yield farming adalah kegiatan yang hampir serupa dengan staking. Namun hadiah yang didapat adalah berupa aset kripto yang berbeda dengan yang dikunci.

Yield farming bisa diartikan dengan menjadi penyedia likuiditas bagi sebuah proyek baru yang akan listing di bursa yang menyediakan fitur ini.

Di bursa Zipmex, Anda juga dapat melakukan yield farming melalui fitur mereka, ZLaunch.

Di fitur tersebut, Anda akan menemui proyek-proyek potensial yang akan memberikan Anda aset kripto mereka secara cuma-cuma, hanya dengan melakukan penguncian aset untuk dijadikan likuiditas.

Untuk saat ini, proyek token yang tersedia di ZLaunch adalah Yieldly (YLDY). Anda bisa mendapatkannya hanya dengan mengunci aset ZMT (token asli Zipmex). Masa penguncian di ZLaunch lebih fleksibel dibandingkan ZipLock, karena Anda tidak perlu menunggu hingga 45 hari. Anda bisa mengunci dan melepaskannya kapan saja, sesuai kebutuhan.

Menabung Kripto

Ya, sama seperti aset pada umumnya, kripto juga bisa ditabung. Cara ini sebenarnya sama dengan berinvestasi kebanyakan. Salah satu metode yang dapat digunakan ketika menabung adalah Dolar Cost Averaging (DCA).

Menggunakan metode DCA, Anda bisa menyisihkan beberapa persen dari penghasilan bulanan untuk disimpan dalam bentuk aset kripto. Di Zipmex, Anda bisa menyimpan aset kripto tersebut dalam fitur menarik bernama ZipUp.

Baca jugaAkhirnya, Metaverse SandBox Alpha akan Diluncurkan Setelah 4 Tahun Pengembangan

Sama seperti tabungan pada umumnya, di ZipUp, aset kripto dapat disimpan secara fleksibel. Sehingga, dapat ditarik kapan saja ketika dibutuhkan. Selama aset disimpan di ZipUp, pengguna akan mendapatkan bonus berupa bunga yang besarannya berbeda untuk tiap jenis aset.

Untuk Anda yang tertarik menggunakan ZipUp, Anda bisa mengikuti program spesial dari Zipmex. Daftarkan diri Anda di ZipUp dan pindahkan aset Anda dari Trade Wallet ke Z Wallet minimum Rp100 ribu. Dapatkan cashback berupa GOLD senilai Rp25 ribu. Baca di sini untuk tahu lebih banyak tentang program spesial ZipUp.

Menambang Kripto

Cara keempat ini adalah cara paling tua dan menjanjikan, setidaknya sampai hari ini. Karena kita hanya memerlukan modal di awal yakni seperangkat rig penambangan untuk memperoleh penghasilan.

Keuntungan dari kegiatan ini didapat dari selisih nilai aset kripto yang didapat sesudah dikurangi biaya operasional seperti perawatan, penggunaan energi listrik dan lain-lain.

Menggunakan peralatan terbaik memang membutuhkan modal yang besar, tetapi keuntungan yang didapat akan berkepanjangan dan setimpal dengan apa yang diusahakan pada awalnya.

sumber.

Blockchain

BPS Pakai Teknologi Blockchain Olah Data Penduduk Indonesia

Published

on

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan menggunakan teknologi blockchain dalam pengolahan data penduduk Indonesia. BPS akan menerapkan blockchain pada platform digital data Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) sebagai bagian dari reformasi birokrasi BPS pada 2023.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono, mengatakan penggunaan blockchain akan menjaga akurasi dan akuntabilitas data. BPS juga berupaya membangun Regsosek yang mengintegrasikan seluruh data ke dalam sistem reformasi perlindungan sosial. Setiap gugus data yang saling terintegrasi dapat dibagi-pakai oleh kementerian/lembaga (k/l) hingga pemerintah daerah (pemda).

“Kami akan gunakan teknologi blockchain supaya akurasi data, akuntabilitas data, dan sejarah data tercatat dengan baik sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Jadi ini adalah sekaligus merupakan tugas BPS dalam perpres 132 2022 tentang Arsitektur SPBE Nasional,” kata Margo dikutip Antara, Rabu (1/2).

Integrasi Data

Ilustrasi blockchain.
Ilustrasi blockchain.

Baca juga: BI Pastikan Rupiah Digital Pakai Teknologi Blockchain, Kapan Dirilis?

Margo berharap Regsosek tidak hanya menjadi gugus data yang baru, tanpa ada integrasi dengan sistem data yang lain. Untuk melakukan integrasi, setiap gugus data harus terkoneksi dengan data Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

Harapannya, sistem data yang menggunakan teknologi blockchain itu terhubung pula dengan gugus data lainnya seperti data perkawinan dan perceraian, serta data lain sebagainya.

Dengan Regsosek, BPS tengah berupaya mendapatkan data terkait kondisi infrastruktur dasar kebutuhan masyarakat, dan terakhir menyangkut kondisi geografis dan kemudahan akses wilayah. Jika dapat diketahui bisa memberikan treatment dan kebijakan sesuai dengan kapabilitas dan kebutuhan masing-masing daerah.

“Jadi melihat si miskin ini spektrumnya 360 derajat, bisa dari kapabilitas individu dan keluarga, kondisi infrastruktur dasar yang menjadi kebutuhan penyangga masyarakat, dan bisa menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dari kondisi geografis dan kemudahan akses wilayah. Dengan melihat data statistik 360 derajat (statistical dataverse 360°), maka kita bisa melihat program yang cocok di setiap wilayah itu apa (mengingat antar daerah memiliki karakteristik yang berbeda),” jelas Kepala BPS.

Pemerintah Indonesia dan Blockchain

Ilustrasi CBDC Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.
Ilustrasi CBDC Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.

Baca juga: Elon Musk Ungkap Fitur Pembayaran Kripto di Twitter, Harga DOGE Naik?

BPS bukan menjadi lembaga pemerintahan yang mulai mengadopsi teknologi blockchain. Sebelumnya yang ramai diberitakan adalah Bank Indonesia yang tengah merancang Rupiah Digital dengan blockchain atau distributed ledger technology (DLT).

Bank Indonesia semakin dekat dengan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau yang bakal dikenal sebagai Rupiah Digital. Salah satu kabar terbaru adalah BI akan menggunakan teknologi blockchain untuk proses distribusinya.

Dikutip Antara, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pihaknya kini sedang dalam proses seleksi pemain terbesar di perbankan atau perusahaan sistem pembayaran, yang akan ditunjuk atau diamanatkan untuk mendistribusikan rupiah digital.

“Platform distribusinya nanti akan menggunakan Distributed Ledger Technology (DLT) blockchain dan perbankan yang ditunjuk akan memiliki dua akun, akun digital dan akun standar. Hanya bank yang bisa menggunakan DLT,” kata Perry.

Continue Reading

Blockchain

Mastercard & Polygon Kolaborasi Bikin Program Bantu Artis Eksis di Web3

Published

on

POLAND - Ilustrasi Mastercard.. Foto: Omar Marques/SOPA Images/LightRocket via Getty Images.

Mastercard telah bermitra dengan Polygon MATIC untuk memperkenalkan artis atau konten kreator baru ke dalam teknologi Web3. Program akselerator ini, akan mengajari lima artis pendatang baru yang berbeda, termasuk penyanyi, musisi, DJ, dan produser, untuk menggunakan teknologi blockchain untuk mengembangkan brand dan keterlibatan penggemar mereka.

Ada berbagai keuntungan yang bisa didapatkan para artis tersebut dengan memanfaatkan blokchain, seperti efisiensi biaya, mencetak koleksi NFT sendiri untuk menumbuhkan keterlibatan penggemar online mereka, dan hadir dalam konser berbasis metaverse dan lainnya.

Web3 memiliki potensi untuk memberdayakan artis pendatang baru yang dapat menumbuhkan basis penggemar, mendapatkan penghasilan, dan memperkenalkan media baru untuk ekspresi diri dan koneksi dengan cara mereka sendiri,” kata Ryan Watts, CEO Polygon Studios dikutip TechCrunch.

Metaverse Fashion Week akan kembali hadir di tahun 2023.
Metaverse Fashion Week akan kembali hadir di tahun 2023.

Baca juga: Solana dan Cardano Naik 21% Raih Kenaikan Tertinggi Bulanan

Web3 dan Musik

Tidak hanya dengan Polygon, hubungan antara Mastercard dan musik telah berjalan lama, karena perusahaan saat ini menjadi sponsor resmi Grammy dan bahkan mencoba-coba produksi musik, meluncurkan rekamannya sendiri pada tahun 2022. Pentingnya teknologi terdesentralisasi untuk Mastercard sudah jelas, karena berusaha untuk memberdayakan artis baru dalam ekosistem untuk mencapai relevansinya sendiri.

“Musik adalah hasrat universal, menginspirasi kita, menggerakkan kita, dan menyatukan kita; Namun, rasanya mustahil bagi seniman pemula untuk menerobos masuk,” kata Raja Rajamannar, CMO Mastercard, memperkuat relevansi teknologi ini untuk perkembangan artis masa kini.

Lima artis yang akan mengikuti program ini masih belum terpilih, mereka masih dapat mendaftar dan menunjukan karyanya. Program ini dijadwalkan akan dimulai pada musim semi 2023, dan penggemar juga akan dapat bergabung dengan para penampil ini, bekerja sama untuk mempelajari cara kerja teknologi blockchain dan web3.

Baca juga: Lido DAO Naik 57% Dalam Seminggu, Bagaimana Prospek ke Depan?

Continue Reading

Metaverse

McKinsey: Metaverse Ciptakan Potensi Ekonomi US$ 5 T di Tahun 2030

Published

on

Ilustrasi metaverse

Metaverse menjadi topik yang paling dibahas pada tahun 2022 lalu, karena memiliki potensi ekonomi besar di masa depan. Namun ternyata, seiring dengan lesunya pasar kripto, perkembangan metaverse juga mengalami pelambatan bahkan kerugian.

Banyak orang, termasuk CEO Meta Inc., Mark Zuckerberg, tetap percaya metaverse masih berada di posisi yang baik untuk jangka panjang. Mempertimbangkan banyak sekali kasus penggunaan yang berpusat pada konsumen dan bisnis yang dapat dipenuhi oleh metaverse, laporan McKinsey & Company menyoroti potensi teknologi untuk menghasilkan nilai hingga US$ 5 triliun pada tahun 2030.

Agar metaverse dapat mencapai potensi penuhnya, laporan tersebut menyoroti kebutuhan akan empat pendukung teknologi — perangkat (AR/VR, sensors, haptics, dan peripherals, interoperabilitas dan standar terbuka, memfasilitasi platform dan alat pengembangan.

Fokus pada Manusia

Laporan McKinsey menyebutkan metaverse kemungkinan menciptakan nilai US$ 5 triliun pada tahun 2030. Sumber: McKinsey.
Laporan McKinsey menyebutkan metaverse kemungkinan menciptakan nilai US$ 5 triliun pada tahun 2030. Sumber: McKinsey.

Baca juga: Kenal Aset Kripto DODO, Fundamental Protokol Blockchain DeFi Optimal

Kesuksesan metaverse ditimbang dengan fokus yang lebih besar untuk memaksimalkan pengalaman manusia yang bertujuan memberikan pengalaman positif bagi konsumen, pengguna akhir, dan masyarakat.

Sampai saat ini, inisiatif metaverse masih seputar pemasaran, pembelajaran, dan pertemuan virtual dan telah melihat tingkat adopsi yang tinggi di berbagai industri. Namun, mayoritas inisiatif di sekitar metaverse telah melihat adopsi rendah-menengah, menurut survei April 2022 terhadap eksekutif senior yang dilakukan oleh McKinsey.

Metaverse terlalu besar untuk diabaikan,” tulis laporan tersebut dikutip Cointelegraph.

McKinsey memperkirakan bahwa lebih dari 50 persen kegiatan dapat diadakan di metaverse pada tahun 2030, berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga US$ 5 triliun. Hal tersebut berkaitan dengan sorotan dampaknya terhadap kehidupan komersial dan pribadi.

Kesenjangan Gender

Ilustrasi metaverse.
Ilustrasi metaverse.

Baca juga: WEF Percaya Kripto dan Blockchain Jadi Bagian Integral Ekonomi Modern

Laporan McKinsey juga menemukan kesenjangan gender dalam metaverse mirip dengan yang ada di perusahaan Fortune 500, di mana kurang dari 10% CEO adalah perempuan. Ini terlepas dari lebih banyak perempuan daripada pria yang mengunjungi metaverse, dan perempuan menghabiskan lebih banyak waktu di dunia virtual.

McKinsey mengatakan bahwa 35% wanita yang disurvei adalah “pengguna kuat” metaverse – artinya mereka menghabiskan lebih dari tiga jam seminggu di sana – dibandingkan dengan 29% pria.

Selain itu, perempuan memimpin lebih banyak inisiatif terkait metaverse di perusahaan tempat mereka bekerja, dengan 60% dari 450 eksekutif wanita yang disurvei telah mendorong rencana ke depan, dibandingkan dengan 50% pria.

Continue Reading

Popular