Connect with us

Blockchain

Catat! Acara Penting di Dunia Kripto Selama Tahun 2022

Published

on

Ilustrasi tanggal penting.

Terdapat beberapa agenda dan momen besar yang berhubungan dengan pasar serta aset kripto global.

Agenda-agenda tersebut akan berdampak besar pada sejumlah aset kripto dan memberi gambaran strategis bagi investor hingga akhir 2022.

Beberapa agenda berfokus pada aset kripto tertentu. Sementara agenda lain seperti rapat atau pertemuan federsi akan berdampak pada pasar kripto secara global.

Transisi GBTC

Salah satu momen yang menjadi perbincangan utama adalah pergerakan GBTC yang berusaha masuk ke dalam jajaran spot ETF. Upaya tersebut berpotensi menempatkan GBTC pada posisi yang semakin strategis.

Babak akhir dari pengajuan tersebut akan bisa didapatkan pengamat dan investor paling lambat pada Rabu, 6 Juli 2022 mendatang. Meski begitu terdapat peluang SEC (Securities and Exchange Commission) dapat memberikan putusan lebih awal.

Dalam riwayat sebelumnya, terdapat catatan penolakan atas pengajuan GBTC sebagai spot ETF. Sehingga terdapat banyak pihak yang berasumsi tentang potensi keberhasilan upaya GBTC saat ini.

Meski begitu, sejumlah pengamat menilai terdapat dua kunci utama yang berperan sebagai dorongan terhadap kepercayaan publik atas GBTC yang diasumsikan memiliki masa depan cerah.

Komisaris SEC, Hester Pierce merilis pernyataan publik yang menghimbau lembaga tersebut untuk tidak menghalangi pengajuan spot ETF dari GBTC.

Ia juga mengatakan bahwa lembaga tersebut sebaiknya mulai mengambil langkah produktif dan kooperatif untuk meregulasi aset kripto dengan pendekatan regulasi nyata yang dapat diberikan.

“Dibanding asumsi pada aset kripto, merupakan tanggung jawab investor dan SEC untuk memberikan pendekatan yang lebih produktif,” ujarnya dikutip dari dokumentasi konferensi pers SEC.

Hal tersebut diungkapkannya sebagai pernyataan publik untuk mendapatkan dukungan terhadap proses yang kini sedang berjalan.

Dari sumber lain, investor bisa menemukan informasi yang bersebrangan tentang aset kripto tersebut. Hal tersebut menunjukkan peluang pembelian GBTC yang dapat sejajar dengan Bitcoin pada harga USD30 dengan kondisi penurunan terkini.

Nilai tersebut terhitung lebih murah meski tanpa opsi penjualan atau konversi langsung sebagai ETF. Selisih antara GBTC dan Bitcoin menjadi daya tarik investor untuk mendapatkan keuntungan besar yang sangat menjanjikan.

Secara umum, investor besar akan melihat peluang tinggi pada pengajuan ETF tersebut. Hal demikian akan berdampak pembelian besar-besaran GBTC. Meski akan berdampak pada terkikisnya selisih harga, hal tersebut bukan merupakan kekhawatiran besar.

Meski begitu, faktanya GBTC juga terus meningkat masuk ke jajaran aset kripto bernilai tinggi. Selain itu, terdapat komitmen tim legal yang memiliki proyeksi proses pengadilan apabila pengajuan spot ETF tersebut tidak membuahkan hasil.

Baca juga: Digaet Binance, Cristiano Ronaldo Akan Luncurkan NFT Eksklusif

Pertemuan Federasi Reserve (FOMC Meeting)

Investor juga perlu mengamati beberapa momen dan agenda besar terkait FOMC (Federal Open Market Committee) serta berbagai rilis yang berhubungan dengan data perkiraan inflasi.

Dalam beberapa periode lalu, hal-hal tersebut tidak berdampak pada pasar kripto. Namun dengan semakin tertautnya aset kripto pada pasar tradisional, kondisi terkini pada sektor tersebut akan menjadi hal yang harus diantisipasi investor dan mendapatkan perhatian lebih.

Beruntungnya, terdapat beberapa jadwal yang telah dapat Anda akses dalam sejumlah agenda di masa depan. Sehingga investor dapat mempersiapkan strategi dan waktu. Dibanding hanya menyiapkan mental terhadap perubahan dan mengambil tindakan secara radikal.

Pertemuan FOMC berjalan delapan kali dalam satu tahun. Dalam catatan terkini, empat di antara pertemuan tersebut telah berjalan di tahun 2022. Masing-masing pertemuan umumnya berjalan selama dua hari penuh.

Namun, perhatian besar dapat ditempatkan pada hari kedua di masing-masing agenda. Momen tersebut menjadi rutinitas pengumuman perkembangan nilai tukar dan Ketua FOMC, Jerome Powel akan menyampaikan konferensi tentang ekspektasi ekonomi di masa depan.

Data inflasi juga dapat diketahui melalui penerbitan CPI setiap bulannya. Hal tersebut menjadi catatan penting atas performa satu bulan terakhir.  Data tersebut berhubungan erat dengan hal yang akan menjadi kebijakan FOMC pada setiap pertemuan.

The Merge

Agenda The Merge menjadi momen penting bagi pasar kripto yang belum diketahui secara pasti pelaksanaannya. Namun informasi teranyar mengungkapkan bahwa agenda tersebut akan digelar dalam beberapa bulan ke depan.

The Merge sebelumnya telah mengalami beberapa kali penundaan. Sehingga banyak pihak berspekulasi akan kepastian proses tersebut.

Proses yang dijanjikan dalam The Merge telah mencapai Robsten TestNet yang merupakan pengujian jaringan serupa dengan rantai utama Ethereum.

“Beberapa pihak menduga bahwa The Merge akan berjalan mendekati akhir tahun 2022,” dikutip dari Bloomber BNN Canada.

Penundaan tersebut menjadikan penantian terhadap proses The Merge yang dapat disaksikan publik kembali tertunda hingga Agustus 2022.

Co-founder Ethereum, Vitalik Buterin sebelumnya mengungkapkan bahwa Agustus 2022 menjadi ekspektasi terhadap The Merge apabila segala hal berjalan dengan baik. Namun ia juga mengungkapkan bahwa terdapat potensi penundaan hingga Oktober.

Meski begitu, agenda The Merge akan menjadi peningkatan terbesar bagi jaringan Ethereum sejak perilisannya. Pasalnya, hal tersebut tidak hanya mentransisikan ETH menjadi blockchain yang ramah investor dan hemat biaya pembakaran (burn fee).

Agenda The Merge akan menjadikan ETH lebih mudah diakses oleh institusi yang berkaitan dengan regulasi burn fee berskala rendah. Di saat yang sama, hal tersebut juga akan berdampak pada gejolak pasar.

Baca juga: Bos Binance: Bearish Pasar Kripto Mungkin Segera Usai

Setelah momen “The Merge”, isu tentang ETH diprediksi akan semakin menurun secara signifikan hingga titik burn fee tersebut akan mendorong deflasi pada token ETH. Meski begitu, prediksi kontradiktif beredar di komintas kripto.

Dalam perkiraan tersebut, pasar tidak akan secara spontan dibanjiri ETH merespon proses yang direncakan dalam The Merge. Saat ini terdapat sekitar 10% dari total pasokan yang terkunci dalam kontrak ETH.

Pihak ETH tidak akan merilis asetnya secara sporadis, justru aset kripto tersebut diprediksi bahwa baru kembali tersedia mengikuti peningkatan lanjutan dalam enam bulan berikutnya.

Lebih jauhnya, setelah agenda tersebut diperkirakan masih terdapat beberapa mekanisme lain yang menjaga pasokan agar tidak semua pihak meraup aset tersebut sekaligus.

Panic Dump Juli 2022

Agenda lain yang perlu diantisipasi oleh investor adalah histeria masal pada Juli 2022 mendatang. Asumsi tersebut berkembang dalam opini pada artikel yang dirilis oleh analis Arthur Hayes.

Momen tersebut diprediksi terjadi pada pekan perdana Juli 2022 mendatang. Dalam artikel tersebut, Hayes mengungkapkan akan adanya satu atau lebih histeria masal (panic dump).

Pekan tersebut menjadi babak akhir dari kuartal kedua tahun 2022. Bersamaan dengan momen tersebut, Juli 2022 juga menjadi agenda peningkatan utama dari bank sentral di Eropa.

Ia juga mengungkapkan bahwa pada periode tersebut, federasi Amerika Serikat akan memulai proses penjualan aset. Hal tersebut berkaitan dengan penyesuaian neraca di pertengahan tahun.

Tidak hanya berdampak pada bursa tradisional, hal tersebut juga akan berkontribusi pada penurunan likuiditas Dollar Amerika Serikat dalam beberapa waktu.

Baca juga: Memahami Aset Kripto, NFT dan Gagasan “Greater Fool Theory”

Apabila penurunan nilai yang terjadi saat ini terus berlanjut, maka sejumlah aset kripto dan platformnya berpotensi menutup penukaran dan transaksi pengguna. Alternatif lain juga mengindikasikan akan adanya penjualan holding kripto untuk meningkatkan fiat.

Umumnya, volume dan likuiditas menurun selama akhir pekan dan libur nasional. Sehingga dorongan lain seperti penutupan withdrawal atau likuidasi besar-besaran akan mengguncang pasar dan meyebabkan histeria masal.

Pada momen tersebut, lembaga perbankan tidak akan memiliki cukup fiat untuk menangani tekanan tersebut hingga sekitar 5 Juli 2022.

Meski hal tersebut masih bersifat spekulasi, namun tidak ada salahnya investor melakukan antisipasi apabila hal tersebut benar-benar terjadi.

Artikel ini telah tayang di Cryptoharian dengan judul “Catat! Acara Penting Untuk Dunia Kripto Pada Tahun 2022

Metaverse

Bos Meta Mark Zuckerberg Optimis Metaverse Berpotensi Jangka Panjang

Published

on

CEO Meta, Mark Zuckerberg. Foto: Michael Nagle/Bloomberg.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyatakan masih memiliki optimisme jangka panjang untuk metaverse. Ungkapannya itu disampaikan untuk menjawab pandang negatif masa depan metaverse di tengah crypto winter.

Pada pertemuan beberapa nama besar di sektor keuangan, Zuckerberg ditanyai tentang meningkatnya kekhawatiran atas Metaverse. Ia juga tidak terpengaruh oleh skeptisisme seputar kondisi model metaverse saat ini.

“Skeptisisme tidak terlalu mengganggu saya,” kata CEO perusahaan induk Facebook di DealBook Summit pada hari Rabu (30/11).

Zuckerberg mengatakan dia masih optimis tentang metaverse dalam jangka waktu yang lebih lama. Ia mengakui bahwa Meta perlu beroperasi dengan “lebih banyak efisiensi dan disiplin” dalam waktu dekat karena kesengsaraan ekonomi makro telah memaksa perusahaan untuk mengurangi pengeluaran.

Zuckerberg Rugi dari Metaverse

Meta, perusahaan induk Facebook setop rekrut karyawan. Foto: Meta, perusahaan induk Facebook setop rekrut karyawan. Foto: Getty Images.Getty Images.
Meta, perusahaan induk Facebook setop rekrut karyawan. Foto: Getty Images.

Baca juga: Negara Tuvalu Terancam Tenggelam, Rencana Pindah ke Metaverse

Sejak diumumkan, metaverse telah mendapat banyak penentang dan skeptis. Namun, suara-suara itu tampaknya tidak menembus proses pemikiran CEO Meta yang berbicara dengan gemilang tentang prospek masa depannya.

“Cara kita berkomunikasi menjadi lebih kaya dan mendalam,” kata Zuckerberg. Selanjutnya, dia berbagi bahwa Meta optimis tentang bagaimana platform akan berkembang di sepanjang “lima hingga sepuluh tahun”.

Pernyataan itu pasti memberi pandangan Zuckerberg tetap fokus pada pengembangan metaverse, meski telah menghasilkan kerugian miliaran dolar AS bagi perusahaan.

Fokus Metaverse

Avatar CEO Meta, Mark Zuckerberg di Metaverse.
Avatar CEO Meta, Mark Zuckerberg di Metaverse.

Baca juga: Bank Indonesia Rilis White Paper Proyek Garuda CBDC Digital Rupiah

Pendiri Facebook itu bersikukuh bahwa kemajuan bergerak ke arah yang benar.

“Skeptisisme tidak terlalu mengganggu saya,” Zuckerberg menyatakan, “Kami memiliki keraguan sepanjang waktu.”

Sebaliknya, dia mengakui bahwa Meta membutuhkan “lebih banyak efisiensi dan disiplin” dalam jangka pendek. Terutama mengikuti realitas ekonomi yang akan berdampak pada bagaimana platform dikembangkan di tengah keadaan ekonomi makro.

Secara meyakinkan, Zuckerberg berbagi bahwa 80% waktu Meta dihabiskan untuk rangkaian medianya, mengerjakan host aplikasinya, termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan lainnya. Jadi, sisa waktunya dihabiskan untuk mengembangkan Metaverse.

Continue Reading

Metaverse

Negara Tuvalu Terancam Tenggelam, Rencana Pindah ke Metaverse

Published

on

Negara Tuvalu terancam tenggelam, rencana pindah ke metaverse. Foto: Brandi Mueller | Moment | Getty Images.

Negara Tuvalu mengatakan tidak punya pilihan selain pindah ke metaverse karena terancam tenggelam. Suhu global yang diperkirakan akan meningkat sebanyak 2,8 derajat Celcius pada akhir abad ini, membuat air laut meninggi.

Menteri Luar Negeri Tuvalu, Simon Kofe menjelaskan pada KTT iklim COP27 bahwa Tuvalu akan melihat ke arah metaverse untuk melestarikan budaya dan sejarahnya di tengah naiknya permukaan laut.

“Saat tanah kami menghilang, kami tidak punya pilihan selain menjadi negara digital pertama di dunia. Tanah kami, lautan kami, budaya kami adalah aset paling berharga dari rakyat kami. Dan untuk menjaga mereka aman dari bahaya, apa pun yang terjadi di dunia fisik, kami akan memindahkan mereka ke cloud,” kata Kofe dikutip Reuters.

Negara Digital

Menteri Luar Negeri Tuvalu, Simon Kofe. Foto: Reuters.
Menteri Luar Negeri Tuvalu, Simon Kofe. Foto: Reuters.

Baca juga: Bank Indonesia Rilis White Paper Proyek Garuda CBDC Digital Rupiah

Kofe menarik perhatian global pada COP26 tahun lalu ketika dia berpidato di konferensi sambil berdiri setinggi lutut di laut untuk menggambarkan bagaimana Tuvalu berada di garis depan perubahan iklim.

Tuvalu harus bertindak karena negara-negara laing secara global tidak cukup berbuat untuk mencegah perubahan iklim.

Tuvalu akan menjadi negara pertama yang mereplikasi dirinya sendiri di metaverse. Langkah ini mengikuti kota Seoul dan negara kepulauan Barbados yang tahun lalu mengatakan mereka akan memasuki metaverse untuk masing-masing menyediakan layanan administrasi dan konsuler.

“Idenya adalah untuk terus berfungsi sebagai negara dan lebih dari itu untuk melestarikan budaya kita, pengetahuan kita, sejarah kita dalam ruang digital,” kata Kofe kepada Reuters menjelang pengumuman tersebut.

Ancaman Tenggelam

Negara Tuvalu terancam tenggelam, rencana pindah ke metaverse. Foto: Getty Images.
Negara Tuvalu terancam tenggelam, rencana pindah ke metaverse. Foto: Getty Images.

Baca juga: Kelas Kripto: Apa Itu Airdrop?

Tuvalu adalah negara kepulauan yang terdiri dari sembilan pulau yang terletak di antara Australia dan Hawaii. Ini adalah rumah bagi sekitar 12.000 orang. Ilmuwan iklim mengantisipasi seluruh negara Tuvalu akan berada di bawah air pada akhir abad ke-21.

Tuvalu telah lama menjadi penyebab utama risiko perubahan iklim dan naiknya permukaan laut. Hingga 40% dari ibukota distrik berada di bawah air saat air pasang, dan seluruh negara diperkirakan akan terendam air pada akhir abad ini.

Kofe mengatakan dia berharap pembentukan negara digital akan memungkinkan Tuvalu untuk terus berfungsi sebagai sebuah negara bahkan jika itu benar-benar terendam.

Hal ini penting karena pemerintah memulai upaya untuk memastikan bahwa Tuvalu terus diakui secara internasional sebagai sebuah negara dan batas lautnya – dan sumber daya di dalam perairan tersebut – dipertahankan bahkan jika pulau-pulau tersebut terendam.

Continue Reading

Blockchain

World Blockchain Summit Bangkok 2022 Digelar Desember Mendatang

Published

on

World Blockchain Summit Bangkok 2022 Siap Digelar Desember Mendatang.

World Blockchain Summit akan kembali digelar pada akhir tahun 2022. Salah satu acara konferensi blockchain terbesar ini akan diselenggarakan di Bangkok pada tanggal 8-9 Desember mendatang.

World Blockchain Summit edisi ke-23 nanti akan mengeksplorasi tren terbaru dalam lingkup blockchain, kripto, dan web3. Para pakar, pengusaha, dan investor terkemuka di industri blockchain akan berkumpul dan berbagi pengetahuan serta membangun jaringan.

Nicole Nguyen, Co-founder, APAC DAO, mengatakan World Blockchain Summit edisi Bangkok bertujuan untuk menjadi penghubung bagi semua pemangku kepentingan penting dari ekosistem blockchain, kripto, dan web3. Seluruh stakeholders, investor, perusahaan dapat membahas dan mempertimbangkan masa depan industri blockchain yang secara revolusioner dapat mengubah bisnis dan fungsi pemerintah.

“Bangkok dan WBS selalu menjadi jantung dari gerakan web3 di APAC dan sebagai komunitas web3 terkemuka di Asia, APAC DAO tertarik untuk berjejaring dan mengeksplorasi potensi kolaborasi dengan mitra global dan pemimpin bisnis untuk menjadi landasan peluncuran terkemuka untuk pembuat web3 di wilayah ini,” kata Nguyen dalam pernyataan resminya.

Thailand sendiri mencatat US$ 135,9 miliar dalam nilai kripto yang ditransaksikan sepanjang tahun dan muncul sebagai salah satu pusat perdagangan kripto di ASEAN.

Pembicara World Blockchain Summit Bangkok 2022

Baca juga: JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

WBS Bangkok 2022 akan mengumpulkan para tokoh terkemuka dari ruang blockchain global dan regional. Beberapa tokoh yang berbicara dalam acara tersebut antara lain:

  • Jirayut Srupsrisopa, Pendiri dan CEO Grup, Bitkub Capital Group Holdings Co., Ltd;
  • Sanjay Popli, CEO, Grup Cryptomind, Penasihat, Asosiasi Aset Digital Thailand;
  • Daniel Oon , Kepala DeFi, Algorand Foundation;
  • Kanyarat Saengsawang, Kepala Pertumbuhan, The Sandbox;
  • Matt Sorg, Kepala Teknologi, Solana Foundation;
  • Nicole Nguyen, Co-founder, APAC DAO.

“Saya menantikan untuk terhubung dengan para pemimpin pasar dan komunitas yang lebih luas, di acara utama blockchain di Asia Tenggara untuk tahun 2022.” kata Toby Gilbert, Cofounder & CEO, Coinweb, salah satu pembicara di WBS Bangkok 2022.

Mohammed Saleem, Founder & CEO, World Blockchain Summit menyatakan “Dengan adopsi global teknologi blockchain yang memiliki dampak signifikan pada setiap sektor bisnis dan industri, Thailand muncul sebagai pemimpin kripto di pasar ASEAN, kami bermaksud untuk menyatukan para pecinta kripto di konferensi dua hari dengan tujuan ‘Fostering the Future of Web 3.0’.”

Bagi kamu yang tertarik untuk menghadiri World Blockchain Summit Bangkok 2022 bisa mendapatkan diskon atau potongan harga tiket sebesar 15% dengan memasukan kode voucher TOKCRYP15. Link pembelian tiket bisa akses di sini.

Continue Reading

Popular