Bitcoin News
Bitcoin Terperosok ke $108 Ribu, Market Cap Menyusut

Bitcoin, raja aset kripto, kembali menunjukkan volatilitasnya setelah turun ke level $108.507,44 per BTC.
Penurunan ini menekan kapitalisasi pasar Bitcoin menjadi $2,16 triliun, meski masih mendominasi lebih dari 50% pangsa pasar kripto global.
Bahkan dalam 24 jam terakhir, Bitcoin terkoreksi -2,78% dengan volume perdagangan mencapai $80,73 miliar.
Baca Juga: Harga Bitcoin Drop ke $110 Ribu, Pasar Kripto Masuki Fase Konsolidasi
Daftar Isi
Tekanan Jangka Pendek Menahan Laju Bitcoin
Dalam periode 24 jam terakhir, Bitcoin bergerak di rentang $107.444 – $111.580. Koreksi tajam ini menambah daftar kerugian dalam sepekan terakhir, di mana harga sudah jatuh -6,25%.
Jika ditarik lebih panjang, Bitcoin kehilangan -8,45% dalam 30 hari terakhir, meski masih mencatat pertumbuhan tipis +1,4% dalam 60 hari dan +3,63% dalam 90 hari.
Performa ini menunjukkan bahwa meskipun tren jangka panjang Bitcoin masih positif, sentimen jangka pendek investor sedang tertekan.
Level tertinggi sepanjang masa di $124.457,12 kini semakin menjauh dari jangkauan.

Grafik di atas menunjukkan simulasi pergerakan harga Bitcoin dalam 90 hari terakhir. Terlihat bahwa setelah sempat menembus level $118.522 sebulan lalu, harga BTC kini turun ke sekitar $108.507 akibat tekanan jual dan sentimen pasar yang melemah.
Faktor Penyebab Penurunan Harga Bitcoin
- Likuiditas Menyusut di Tengah Ketidakpastian Global
Salah satu alasan utama penurunan harga Bitcoin adalah penurunan likuiditas pasar. Dengan meningkatnya suku bunga global dan ketatnya likuiditas dolar AS, investor cenderung menahan modal mereka, termasuk pada aset berisiko tinggi seperti kripto. - Tekanan dari Pasar Derivatif
Data on-chain menunjukkan lonjakan likuidasi posisi long dalam perdagangan derivatif. Saat harga Bitcoin menembus level teknikal tertentu, gelombang stop-loss dan margin call otomatis terpicu, yang semakin mempercepat penurunan harga. - Ketidakpastian Regulasi
Regulasi yang belum sepenuhnya jelas di Amerika Serikat, terutama terkait ETF spot Bitcoin dan peraturan pajak aset digital, menambah kekhawatiran investor. Beberapa investor institusional memilih melakukan aksi ambil untung sambil menunggu kepastian hukum yang lebih jelas. - Profit Taking Pasca Lonjakan Harga
Bitcoin sempat mencatatkan rekor tertinggi di $124.457,12 beberapa bulan lalu. Kenaikan besar tersebut mendorong sebagian investor untuk mengunci keuntungan. Tekanan jual yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir masih menjadi efek domino dari aksi profit taking tersebut.
Apakah Bitcoin Kehilangan Dominasi?
Meskipun harganya turun, Bitcoin tetap menjadi aset kripto terbesar dengan kapitalisasi pasar $2,16 triliun, menguasai hampir separuh kapitalisasi total pasar kripto global.
Namun, penurunan harga ini memberi ruang bagi altcoin untuk mengambil panggung. Beberapa altcoin justru mencatat kenaikan signifikan, didorong narasi sektor AI, DeFi, hingga ekosistem Solana.

Indikator On-Chain Masih Memberikan Harapan
Di balik tekanan jangka pendek, data on-chain memperlihatkan tanda-tanda positif:
- Jumlah Bitcoin yang disimpan di bursa terus menurun, menunjukkan investor lebih banyak memindahkan aset mereka ke cold wallet. Hal ini biasanya menandakan keyakinan jangka panjang.
- Hashrate jaringan Bitcoin tetap tinggi, mencerminkan kepercayaan para penambang terhadap masa depan ekosistem.
- Permintaan ETF spot Bitcoin meski fluktuatif, masih menjadi pendorong utama arus masuk institusional.
Hal ini menunjukkan bahwa meski harga jangka pendek tertekan, fondasi Bitcoin tetap kuat.
Koreksi Sehat atau Awal Tren Turun?
Penurunan harga Bitcoin ke level $108 ribu adalah sinyal bahwa pasar sedang berada dalam fase konsolidasi.
Tekanan dari likuidasi derivatif, aksi profit taking, serta ketidakpastian regulasi masih menjadi faktor utama pelemahan harga.
Namun, secara fundamental, Bitcoin tetap kokoh dengan sirkulasi 19,91 juta BTC atau sekitar 94,83% dari total suplai maksimal 21 juta BTC.
Baca Juga: Harga Bitcoin Sentuh $111.558, Mengapa BTC Kembali Menguat?
Faktor kelangkaan ini membuat Bitcoin masih dipandang sebagai aset lindung nilai jangka panjang oleh banyak investor.
Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan berhati-hati terhadap fluktuasi jangka pendek, namun tetap memperhatikan indikator fundamental yang menunjukkan kekuatan Bitcoin dalam jangka panjang.
Dengan penurunan harga yang cukup tajam, Bitcoin kembali mengingatkan dunia bahwa volatilitas adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan aset kripto terbesar ini.
Bagi trader, ini bisa menjadi peluang, sementara bagi investor jangka panjang, koreksi semacam ini sering dianggap sebagai kesempatan untuk akumulasi.
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.