Academy
Bitcoin Terbang 23%, Bull Market Crypto 2026 Sudah Dimulai?
Riset terbaru Research Analyst Tokocrypto pada 27 Agustus 2026 mencatat Bitcoin telah melalui tekanan bearish selama sekitar 233 hari dengan penurunan maksimum mencapai 51,2%.
Kondisi pasar mulai berbalik setelah BTC melesat hampir 23% dari kisaran US$64.600 menuju US$79.000.
Pasar kripto kembali bergairah setelah Bitcoin (BTC) mencatat reli tajam dan kembali mendekati level US$80.000. Kenaikan tersebut memunculkan spekulasi bahwa fase bearish yang berlangsung sejak akhir 2025 mulai berakhir dan pasar tengah memasuki awal bull market crypto 2026.
Riset terbaru Research Analyst Tokocrypto pada 27 Agustus 2026 mencatat Bitcoin telah melalui tekanan bearish selama sekitar 233 hari dengan penurunan maksimum mencapai 51,2%. Namun, kondisi pasar mulai berbalik setelah BTC melesat hampir 23% dari kisaran US$64.600 menuju US$79.000.
Data historis CoinGecko turut menunjukkan Bitcoin berada di sekitar US$64.686 pada 18 Agustus sebelum melonjak ke kisaran US$78.974 pada 24 Agustus. Harga BTC kemudian bergerak di sekitar US$79.000 pada pekan terakhir Agustus.
Meski demikian, reli tersebut belum otomatis memastikan bull market telah sepenuhnya dimulai. Sejumlah indikator menunjukkan kondisi pasar masih berada dalam tahap transisi, terutama karena kenaikan belum merata ke seluruh altcoin.
Daftar Isi
Bitcoin Mulai Keluar dari Tekanan Bearish
Tekanan yang dialami Bitcoin sepanjang 2025–2026 sebenarnya bukan yang terburuk dalam sejarah pasar kripto.
Dalam lima tahun terakhir, BTC setidaknya telah menghadapi dua fase koreksi besar. Koreksi pada 2021 berlangsung sekitar 80 hari dengan penurunan mencapai 52,9%. Kondisi lebih berat terjadi pada bear market 2022–2023 yang berlangsung sekitar 381 hari dan membuat Bitcoin kehilangan sekitar 76,7% nilainya.
Saat itu, pasar kripto dihantam serangkaian krisis besar, mulai dari runtuhnya ekosistem Terra/LUNA, Three Arrows Capital (3AC), Celsius, hingga kebangkrutan FTX.
Sementara itu, menurut riset Tokocrypto, siklus bearish 2025–2026 berlangsung sekitar 233 hari dengan koreksi maksimum 51,2%. Artinya, meski berlangsung lebih lama dibanding koreksi 2021, kedalaman penurunannya relatif lebih ringan.
Momentum mulai berubah pada Agustus ketika Bitcoin kembali bergerak naik dan menembus rata-rata pergerakan 200 hari atau MA200, salah satu indikator teknikal yang kerap digunakan investor untuk membaca tren jangka panjang.
Baca juga: Coldcard Hack Tembus US$130 Juta, Self-Custody Bitcoin Jadi Sorotan
Apa yang Bisa Menandakan Bull Market?
Secara umum, bull market menggambarkan periode ketika harga aset bergerak naik secara berkelanjutan karena permintaan, likuiditas, dan optimisme investor meningkat.
Kenaikan sebesar 20% dari titik terendah sering digunakan sebagai salah satu patokan teknis. Namun, untuk pasar kripto yang memiliki volatilitas tinggi, satu reli besar belum cukup untuk memastikan perubahan siklus.
Bull market yang lebih kuat biasanya ditandai beberapa kondisi sekaligus, seperti tren harga yang terus meningkat, volume perdagangan dan likuiditas yang bertambah, serta reli yang mulai meluas dari Bitcoin menuju Ether dan berbagai altcoin.
Dengan Bitcoin sudah melonjak lebih dari 20%, pertanyaan kini bergeser dari seberapa tinggi BTC dapat naik menjadi apakah reli tersebut mampu bertahan dan menyebar ke pasar kripto secara keseluruhan.
Treasury AS dan ETF Jadi Bahan Bakar Reli Bitcoin
Salah satu katalis terbesar reli Bitcoin kali ini datang dari perubahan kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat.
Pada 19 Agustus 2026, US Treasury mengumumkan akan meningkatkan setidaknya dua kali lipat ukuran operasi liquidity support buyback untuk obligasi pemerintah berjangka panjang. Batas maksimum pembelian yang sebelumnya US$2 miliar per operasi akan meningkat menjadi setidaknya US$4 miliar mulai 9 September 2026.
Kebijakan tersebut meningkatkan optimisme investor terhadap kondisi likuiditas pasar dan turut menghidupkan kembali narasi Bitcoin sebagai aset yang dapat memperoleh keuntungan ketika likuiditas meningkat atau nilai mata uang tertekan.
Sentimen positif juga datang dari Washington. Dalam pertemuan pemerintah AS dengan sejumlah pemimpin industri kripto pada 19 Agustus, Presiden Donald Trump kembali mendorong kemajuan legislasi aset digital, termasuk CLARITY Act. Pembahasan mengenai strategic bitcoin reserve juga muncul, meski belum disertai rincian langkah lanjutan.
Arus dana institusional kemudian ikut memperkuat reli.
Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat membukukan sekitar US$1,6 miliar net inflow hanya dalam empat hari, dengan sekitar US$606 juta masuk pada Kamis pekan tersebut.
Kombinasi sentimen regulasi, likuiditas, dan masuknya dana ETF ikut membawa Bitcoin dari area US$64.000 menuju US$79.000–US$80.000 dalam waktu relatif singkat.
Bitcoin Naik, Altseason Segera Dimulai?
Reli kali ini tidak hanya terjadi pada Bitcoin.
Menurut riset Tokocrypto, Ether (ETH) sempat melonjak sekitar 31% dalam sepekan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Bitcoin yang berada di kisaran 24%. Rasio ETH/BTC juga mulai menunjukkan penguatan, sementara kapitalisasi pasar aset kripto di luar Bitcoin bertambah sekitar US$215 miliar.
Kondisi tersebut menjadi indikasi awal bahwa sebagian modal mulai berpindah dari Bitcoin menuju aset kripto lainnya.
Namun, altseason belum sepenuhnya terkonfirmasi.
Altcoin Season Index pada akhir Agustus masih berada di sekitar 42 dari 100 atau masuk kategori transisi, jauh dari level 75 yang umumnya digunakan untuk menandai altcoin season.
Dengan dominasi Bitcoin yang masih tinggi, kenaikan pasar berpotensi berlangsung lebih selektif dibandingkan siklus sebelumnya.
Artinya, bukan tidak mungkin Bitcoin dan sejumlah aset dengan fundamental kuat melanjutkan reli, sementara sebagian altcoin lainnya tertinggal.
Stablecoin, RWA, dan Tokenized Stocks Mulai Jadi Sorotan
Di tengah potensi perubahan siklus pasar, investor juga mulai mengamati narasi yang memiliki penggunaan nyata.
Riset Tokocrypto menempatkan stablecoin, real-world assets (RWA), dan tokenized stocks sebagai tiga sektor yang berpotensi menjadi perhatian besar sepanjang 2026.
Kapitalisasi stablecoin telah mencapai sekitar US$303 miliar dan semakin banyak digunakan sebagai infrastruktur likuiditas serta settlement di ekosistem aset digital.
Pertumbuhan stablecoin kemudian membuka jalan bagi tokenisasi aset dunia nyata atau RWA, yakni aset tradisional seperti obligasi, kredit, komoditas, hingga instrumen keuangan lain yang direpresentasikan secara on-chain. Nilai sektor ini disebut telah mencapai sekitar US$38,17 miliar.
Perkembangan berikutnya terlihat pada tokenized stocks. Nilai sektor ini telah mencapai sekitar US$2,37 miliar dengan lebih dari satu juta pemegang, menunjukkan meningkatnya minat terhadap akses on-chain terhadap instrumen pasar tradisional.
DeFi hingga Prediction Market Ikut Berebut Likuiditas
Narasi berikutnya datang dari protokol yang mampu menghasilkan aktivitas dan pendapatan nyata.
Perpetual decentralized exchange atau perp DEX menjadi salah satu sektor yang mendapat sorotan. Hyperliquid, misalnya, menurut data yang dikutip dalam riset Tokocrypto memproses sekitar US$210 miliar volume perpetual dalam 30 hari dengan fees sekitar US$59,2 juta.
Fenomena tersebut mulai mengubah cara pasar menilai proyek DeFi.
Investor tidak lagi hanya melihat total value locked (TVL) atau jumlah insentif token, tetapi juga memperhatikan jumlah pengguna berulang, fees, revenue, hingga seberapa besar nilai ekonomi yang benar-benar mengalir kepada pemegang token.
Prediction market juga berkembang dengan memungkinkan berbagai peristiwa, mulai dari politik hingga ekonomi dan cuaca, diterjemahkan menjadi probabilitas yang dapat diperdagangkan.
Namun, pertumbuhan sektor ini masih disertai risiko mulai dari manipulasi pasar, pemanfaatan informasi orang dalam, hingga ketidakpastian regulasi.
AI hingga Layer 2 Jadi Kandidat Narasi Berikutnya
Sektor artificial intelligence juga masih diperkirakan menjadi magnet likuiditas, tetapi pasar mulai lebih selektif.
Perhatian investor perlahan bergeser dari sekadar token yang membawa label “AI” menuju proyek yang mempunyai penggunaan konkret untuk pembayaran antarmesin, data, model AI, serta infrastruktur komputasi GPU.
Jaringan seperti Bittensor dan Render menjadi contoh proyek yang berada dalam narasi tersebut.
Selain AI, sektor collectible cards on-chain mulai berkembang dengan kapitalisasi sekitar US$119 juta. Meski masih relatif kecil, sektor ini berusaha menghubungkan budaya koleksi aset fisik dengan teknologi blockchain.
Persaingan Layer 1 dan Layer 2 juga kembali meningkat. Robinhood Chain, L2 berbasis Arbitrum Orbit, misalnya, dalam riset Tokocrypto disebut telah mencapai sekitar US$1,08 miliar total value secured (TVS) dalam waktu kurang dari dua bulan dengan TVL DeFi sekitar US$775 juta.
Bull Market Bukan Berarti Harga Akan Terus Naik
Terlepas dari berbagai sinyal positif, investor tetap perlu mewaspadai risiko volatilitas.
Reli cepat sering kali memicu fear of missing out (FOMO) dan mendorong investor menggunakan leverage berlebihan untuk mengejar kenaikan harga.
Padahal, koreksi tajam tetap bisa terjadi bahkan ketika pasar sedang berada dalam bull market. Leverage tinggi dapat memperbesar kerugian dan memicu likuidasi ketika harga bergerak berlawanan dalam waktu singkat.
Riset Tokocrypto menyarankan investor tetap membatasi ukuran posisi, menghindari penggunaan dana pinjaman, dan menggunakan modal yang kerugiannya masih dapat ditanggung.
Strategi pembelian berkala atau dollar-cost averaging (DCA) juga dapat menjadi alternatif bagi investor jangka panjang karena tidak mengharuskan investor menebak secara presisi titik terendah maupun puncak pasar.
Jadi, Bull Market Crypto 2026 Sudah Dimulai?
Sejumlah indikator menunjukkan kondisi pasar kripto pada akhir Agustus 2026 jauh lebih konstruktif dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Bitcoin telah bangkit lebih dari 20% dari level terendah Agustus, arus dana kembali masuk ke ETF, kebijakan Treasury AS memberikan sentimen tambahan terhadap likuiditas, sementara perkembangan regulasi di Amerika Serikat ikut meningkatkan optimisme pasar.
Namun, tanda-tanda tersebut belum berarti seluruh pasar telah memasuki fase euforia.
Altseason belum terkonfirmasi, dominasi Bitcoin masih relatif tinggi, dan rotasi modal menuju altcoin masih berlangsung selektif.
Dengan demikian, reli Bitcoin saat ini dapat menjadi salah satu sinyal awal perubahan siklus menuju bull market, tetapi keberlanjutannya tetap akan bergantung pada likuiditas global, arus dana institusional, regulasi, serta kemampuan narasi-narasi baru di pasar kripto menghasilkan penggunaan dan fundamental yang nyata.
Bagi investor, momentum bullish dapat membuka peluang baru. Namun, disiplin pengelolaan risiko tetap menjadi kunci karena bull market sekalipun tidak pernah bergerak dalam satu garis lurus.
Baca juga: Rahasia SpaceX yang Baru IPO: Punya 18.712 Bitcoin, Lebih Banyak dari Tesla!
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
