Market
Bukan Cuma Harga Naik, 4 Tren Ini Bisa Jadi Penggerak Siklus Kripto Berikutnya
Tim Research Tokocrypto melihat perkembangan ini mulai terlihat dari ekspansi perusahaan keuangan besar seperti Robinhood hingga integrasi exchange tersentralisasi dengan protokol DeFi seperti Hyperliquid.
Reli harga Bitcoin dan aset kripto kembali menjadi perhatian pasar pada 2026. Namun, di balik pergerakan harga tersebut, sejumlah perubahan struktural mulai berkembang dan berpotensi menentukan arah industri kripto dalam siklus berikutnya.
Analisis Crypto.news yang diterbitkan pada 28 Agustus 2026 menyoroti empat tren utama, yakni semakin luasnya kepemilikan aset secara on-chain, konvergensi CeFi dan DeFi, pertumbuhan stablecoin, serta kemunculan agentic finance berbasis kecerdasan buatan (AI).
Tim Research Tokocrypto melihat perkembangan ini mulai terlihat dari ekspansi perusahaan keuangan besar seperti Robinhood hingga integrasi exchange tersentralisasi dengan protokol DeFi seperti Hyperliquid.
Daftar Isi
1. Tokenisasi Buka Era Baru Kepemilikan Aset
Tren pertama adalah semakin mudahnya investor ritel mendapatkan eksposur terhadap berbagai kelas aset melalui blockchain.
Robinhood menjadi salah satu perusahaan yang agresif masuk ke sektor ini melalui Robinhood Chain, blockchain Layer-2 berbasis teknologi Arbitrum yang dibangun untuk aset dunia nyata atau real-world assets (RWA).
Robinhood Chain telah memasuki mainnet pada 2026 dan dirancang untuk mendukung produk seperti tokenized stocks, lending, perpetual futures, serta berbagai layanan keuangan on-chain. Robinhood menyebut jaringan tersebut sebagai infrastruktur yang mempertemukan pasar tradisional, kripto, dan RWA dalam satu ekosistem.
Salah satu fokus utamanya adalah Stock Tokens, yakni aset berbentuk token ERC-20 yang memberikan eksposur ekonomi terhadap saham atau ETF tertentu. Token tersebut dapat disimpan, ditransfer, hingga digunakan dalam aplikasi berbasis blockchain.
Perkembangan ini menunjukkan tokenisasi tidak lagi hanya menjadi eksperimen industri kripto. Infrastruktur blockchain mulai digunakan untuk membawa instrumen pasar tradisional ke lingkungan on-chain.
2. CeFi dan DeFi Mulai Menyatu
Tren kedua adalah semakin tipisnya batas antara centralized finance (CeFi) dan decentralized finance (DeFi).
Pada siklus sebelumnya, banyak exchange membangun blockchain, wallet, dan likuiditasnya sendiri. Kini, beberapa platform justru mulai menghubungkan antarmuka exchange tersentralisasi langsung dengan likuiditas DeFi.
Salah satu contohnya adalah VALR yang mengintegrasikan infrastruktur Hyperliquid untuk menyediakan lebih dari 200 pasar perpetual kepada penggunanya.
Produk tersebut mencakup tidak hanya aset kripto, tetapi juga eksposur terhadap saham global, indeks, emas, minyak, komoditas hingga pasangan mata uang. VALR menyebut integrasi ini sebagai pertama kalinya sebuah exchange teregulasi besar menggunakan protokol Layer-1 on-chain secara native sebagai sumber likuiditas dan eksekusi perdagangan lintas aset.
Model seperti ini mulai dikenal sebagai CeDeFi, yakni layanan yang mencoba menggabungkan pengalaman pengguna dan akses dari platform terpusat dengan likuiditas serta infrastruktur blockchain.
Jika semakin banyak exchange mengadopsinya, pengguna dapat memperoleh akses ke pasar DeFi tanpa harus berinteraksi langsung dengan berbagai protokol, bridge, atau wallet secara terpisah.
Baca juga: Tokenized Stock Holder Hampir Tembus 2 Juta, Volume Naik 246%
3. Stablecoin Makin Jadi Infrastruktur Keuangan
Tren berikutnya datang dari stablecoin.
Jika sebelumnya stablecoin lebih banyak digunakan sebagai alat untuk masuk dan keluar dari perdagangan aset kripto, fungsinya kini berkembang menjadi infrastruktur pembayaran dan settlement.
Stablecoin memungkinkan nilai berbasis dolar atau mata uang fiat lainnya berpindah melalui blockchain selama 24 jam, tanpa harus mengikuti jam operasional sistem keuangan tradisional.
Perkembangan CeDeFi juga memperkuat fungsi tersebut. VALR, misalnya, melihat stablecoin dan settlement on-chain sebagai salah satu cara pasar negara berkembang memperoleh akses lebih cepat dan murah terhadap sistem keuangan global.
Namun, stablecoin pada dasarnya masih merepresentasikan mata uang fiat. Karena itu, pertumbuhannya juga berjalan berdampingan dengan narasi aset dengan suplai terbatas seperti Bitcoin maupun aset fisik yang ditokenisasi seperti emas.
Dengan kata lain, stablecoin dapat menjadi jalur transaksi, sementara Bitcoin, RWA, dan berbagai aset tokenisasi berpotensi menjadi tempat penyimpanan atau investasi modal di atas infrastruktur yang sama.
4. AI Agent Mulai Masuk ke Pasar Keuangan
Tren keempat yang mulai berkembang adalah agentic finance, yakni penggunaan AI agent untuk menjalankan aktivitas finansial secara otomatis.
Alih-alih investor harus memantau pasar dan mengeksekusi setiap transaksi sendiri, AI agent berpotensi menganalisis data, mencari peluang hingga menjalankan strategi berdasarkan batasan yang ditentukan pengguna.
Robinhood pada Juli 2026 mengumumkan rencana menghadirkan Agentic Accounts untuk perdagangan kripto. Melalui sistem tersebut, pengguna yang memenuhi syarat dapat menghubungkan model AI dengan data dan perangkat trading Robinhood.
AI kemudian dapat memantau jutaan titik data dan mengeksekusi strategi sesuai parameter yang telah ditentukan investor, sementara pengguna tetap menentukan modal dan batas risiko.
Robinhood Chain sendiri juga dirancang sebagai jaringan yang mendukung AI agent untuk melakukan transaksi seperti trading, swap, lending, maupun interaksi dengan tokenized RWA secara on-chain.
Jika berkembang lebih luas, pola tersebut dapat mengubah cara investor berinteraksi dengan pasar, dari eksekusi manual menuju transaksi yang semakin otomatis.
Siklus Kripto Mulai Bergeser dari Sekadar Spekulasi?
Empat tren tersebut menunjukkan siklus kripto kali ini berpotensi memiliki karakter yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
Tokenized assets memperluas jenis aset yang dapat berada di blockchain. CeDeFi menghubungkan likuiditas on-chain dengan pengguna exchange. Stablecoin berkembang menjadi jalur pembayaran dan settlement, sementara AI agent mulai mengotomatisasi cara modal dikelola dan diperdagangkan.
Meski harga tetap menjadi magnet utama bagi investor, perubahan yang terjadi di tingkat infrastruktur dapat memiliki dampak lebih panjang dibandingkan reli satu atau dua aset.
Artinya, persaingan pada siklus berikutnya kemungkinan tidak hanya tentang token mana yang naik paling tinggi, tetapi juga platform mana yang mampu membawa lebih banyak aset, pengguna, dan aktivitas ke dalam ekonomi on-chain secara berkelanjutan.
Baca juga: CZ Sebut Miliarder pun Bisa Sulit Punya 1 Bitcoin, Ini Alasannya
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
