Connect with us

Fork

Published

on

Situasi di mana blockchain terbagi menjadi dua rantai terpisah dan umumnya terjadi, jika ada aturan tata kelola baru dibuat ke dalam kode blockchain.

Continue Reading

Bitcoin News

Bitcoin Kembali Turun ke Harga di Bawah $ 20 Ribu, Apakah Investor Mulai Menyerah?

Published

on

Bitcoin Kembali Turun ke Harga di Bawah $ 20 Ribu

Pergerakan harga Bitcoin pada perdagangan hari ini, Kamis, 30 Juni 2022, berada pada fase kritis. BTC kembali menyentuh area di bawah US$ 20 ribu, setelah sehari sebelumnya sempat breakout ke level US$ 21 ribu. 

Saat laporan ini ditulis, BTC diperdagangkan di area US$ 19,522, atau turun 2,96% dalam 24 jam terakhir. Titik support terkuat BTC saat ini berada di area US$ 19,3-19,5 ribu. Jika breakdown atau turun dari level tersebut, bukan tidak mungkin BTC anjlok ke area US$ 14,900.

BTC/USDT TF 4 jam. By: Portalkripto/TR

Penurunan ini kembali menegaskan bahwa musim bearish masih mengintai pasar crypto. Meski, sempat membaik selama dua hari ke belakang, namun aktivitas on-chain dan sentimen makro menunjukan bahwa pasar belum baik-baik saja. 

Berdasarkan analisa on-chain, perusahaan analitik blockchain, Glassnode menyebutkan, pasar crypto saat ini tengah berada dalam tekanan yang cukup ekstrem. Kerugian trader di musim ini menjadi paling parah sepanjang masa.

Glassnode mencatat, kondisi harga spot yang diperdagangkan di bawah harga realisasi sebenarnya jarang terjadi. Kondisi ini baru terjadi tiga kali dalam enam tahun terakhir dan lima kali sejak peluncuran Bitcoin pada 2009.

Baca juga: Bos Binance: Bearish Pasar Kripto Mungkin Segera Usai

“Harga spot saat ini diperdagangkan lebih rendah 11,3% dari harga realisasi, menandakan bahwa rata-rata pelaku pasar sekarang berada di bawah posisi saat mereka membeli,” ujar Glassnode.

Sementara itu arus keluar investor institusional di Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya pun mengalami peningkatan. Coinshares melalui laporan mingguannya mencatat bahwa investor institusional telah menarik keluar aset digital mereka sebanyak US$ 422 juta pada pekan lalu. 

Kondisi ini membuat cemas trader dan investor, di mana menurut Glassnode, fase ini sangat memungkinkan pasar menghadapi kapitulasi atau kondisi di mana investor menyerah dengan keadaan pasar yang merah berkepanjangan. 

“Mengingat durasi dan ukuran bearish yang luas, 2022 dapat dikatakan sebagai bear market paling signifikan dalam sejarah aset digital,” tulis laporan mingguan Glassnode berjudul A Bear of Historic Proportions, yang terbit pada 24 Juni 2022.

Artikel ini telah tayang di Portalkripto.com dengan judul “Bitcoin Kembali Turun ke Harga di Bawah $ 20 Ribu, Apakah Investor Mulai Menyerah?

Continue Reading

Blockchain

Wacana Pemilu Berbasis Blockchain Kembali Dibahas di Indonesia

Published

on

sistem e-Voting

Teknologi blockchain kini sudah jauh lebih berkembang dan maju pertumbuhannya dibanding lima tahun lalu. Saat ini di Indonesia, blockchain sedang menjadi topik perbincangan karena memiliki berbagai manfaat, salah satunya yaitu pemilu berbasis blockchain.

CEO Decentralized Bio Network (DAOGenics, Ltd), Pandu Sastrowardoyo, mengungkap blockchain saat ini sedang naik daun karena perbincangan banyak pihak, terutama setelah pembahasan tentang NFT sebagai salah satu produk dari teknologi baru tersebut.

Lebih lanjut, Pandu menjelaskan secara umum, blockchain adalah buku besar digital yang memungkinkan orang untuk mentransfer data peer-to-peer, dengan mendistribusikan database ke beberapa titik tanpa memerlukan satu server.

Blockchain dapat didefinisikan sebagai teknologi yang memungkinkan pertukaran data terjadi tanpa menggunakan pihak ketiga dalam proses transaksi,” katanya dalam siaran pers yang diterima TokoNews.

Pandu Sastrowardoyo, CEO Decentralized Bio Network (Debio.network). Foto: Dok. Angin.
Pandu Sastrowardoyo, CEO Decentralized Bio Network (Debio.network). Foto: Dok. Angin.

Baca juga: Apa Itu Web3: Konsep Baru Internet di Masa Depan

Pemilu Berbasis Blockchain

Pertukaran data yang transparan, aman dan cepat membuat teknologi blockchain dianggap cocok untuk membantu proses pemilu di Indonesia. Ide pemilu berbasis blockchain belum lama ini muncul ke publik, namun kembali ramai diperbincangkan di Indonesia.

Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc selaku anggota kehormatan Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I) mengatakan digitalisasi proses pemilu ini secara khusus akan dibuat dalam bentuk e-Voting. Nantinya, jika sistem e-Voting resmi diterapkan pada pemilu nasional, maka akan menghilangkan kebutuhan akan tempat pemungutan suara (TPS) dan peran tim khusus pemilu. Skema e-voting berbasis blockchain juga diklaim memiliki banyak keuntungan.

“Ide pemilu berbasis blockchain ini cukup bagus karena dapat memangkas biaya, di mana tidak perlu mencetak kertas untuk melakukan pemilu, apalagi di masyarakat saat ini sudah sangat familiar dengan smartphone. Sehingga pemilu berbasis blockchain ini bisa membuatnya lebih mudah bagi masyarakat,” kata Andry.

“Sistem e-Voting ini juga bisa langsung diterapkan, apalagi sudah banyak yang mengetahui dan melihat ke arahnya, namun yang perlu diperhatikan adalah kesiapan teknik dan pengembangan berbasis blockchain. sistem pemilihan itu sendiri.”

sistem e-Voting
Ilustrasi sistem e-Voting.

Baca juga: Persija Rilis Fan Token Kripto untuk Penggemarnya

Kesenjangan Digital Jadi Hambatan

Senada dengan Andy, Ir. Budi Rahardjo Msc., PhD sebagai praktisi IT dan anggota kehormatan A-B-I juga menyampaikan saat ini kebanyakan orang fokus pada aset kripto, sementara e-Voting adalah implementasi Blockchain yang sempurna di Indonesia.

“Sayangnya, kesenjangan digital masih menjadi masalah di Indonesia, sehingga akan ada implementasi hybrid, berbasis online dan offline. Pemilihan berbasis blockchain ini sangat aman, karena blockchain menggunakan pencatatan multi server dan terdesentralisasi, sehingga semua pencatatan tidak hanya dilakukan pada satu server saja, tetapi semua server dalam jaringan blockchain. Jadi kalau salah satu server down, tidak akan mempengaruhi server lain atau data di dalamnya,” tutur Budi.

Soal keamanan, menurut Budi, perekaman di blockchain itu dilakukan di semua server, bukan hanya satu server. Jika mau diretas, hacker harus meretas setidaknya 50% plus satu dari total jumlah server. Jadi, jika ada satu juta komputer di blockchain, peretas harus meretas setidaknya 500 ribu plus satu komputer untuk memanipulasi data.

Asih Karnengsih, Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).
Asih Karnengsih, Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

Baca juga: Potensi Aset Kripto dan NFT di Rumah Tangga hingga Industri Olahraga

Bisakan Pemilu 2024 Pakai Sistem Blockchain?

Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia, Asih Karnengsih, mengatakan belum memungkinkan untuk menerapkan sistem e-Voting dengan teknologi blockchain pada tahun 2024 mendatang. Menurutnya, Indonesia perlu menyiapkan pengamanan partisipasi pemilu jarak jauh yang baik, hingga kecepatan perekaman voting.

“Untuk tahap awal, infrastruktur basis ‘pemilu blockchain’ ini tentunya akan memakan biaya. Kita harus kembali melihat kesiapan dari pihak penyelenggara dan juga kita sebagai pemilih, dari segi infrastruktur, diperlukan personel yang kompeten dalam membangun infrastruktur blockchain yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, kemudian biaya juga harus diperhitungkan dalam pelaksanaannya. Pembentukan infrastruktur ini, yang pasti tidak murah,” jelas Asih.

Lebih lanjut, Asih menjelaskan bahwa teknologi blockchain tidak hanya berfungsi dalam menciptakan sistem e-Voting, NFT, atau kripto yang saat ini sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat umum, namun blockchain memiliki banyak manfaat lain yang bisa dimaksimalkan di bidang dan berbagai sektor lainnya.

Continue Reading

Blockchain

Riset: Industri NFT Bakal Tetap Tumbuh, Meski Bear Market

Published

on

ilustrator nft

Industri NFT dikhawatirkan akan mengalami penurunan pertumbuhan di saat market aset kripto diketahui sedang lesu. Namun sebuah laporan riset terbaru, menyebutkan sektor NFT masih dapat tumbuh, meski industri kripto sedang bear market.

Laporan terbaru dari perusahaan akutan publik, Deloitte bersama Credit Suisse Research Insititute menjelaskan industri NFT masih akan terus tumbuh ke depannya, terlepas dari penurunan pasar yang terjadi saat ini. Namun, dari data saat ini, pasar NFT sedang mengalami penurunan, jika dibandingkan dengan loncatan drastis yang terjadi di tahun 2021.

Total volume transaksi di kuartal pertama 2022 menurun menjadi hampir US$ 17 miliar, tapi masih jauh di atas volume pada periode yang sama tahun lalu. Jumlah transaksi NFT juga turun cukup drastis sejak mencapai puncaknya di kuartal ketiga 2021.

Menurut laporan itu, ada banyak faktor yang memengaruhi fluktuasi pasar NFT. Salah satunya sentimen investor yang melemah akibat guncangan situasi geopolitik global yang sedang terjadi.

ilustrasi stok nft
Ilustrasi NFT.

Baca juga: Apa Itu Web3: Konsep Baru Internet di Masa Depan

Meski begitu, Deloitte memprediksi sektor NFT akan terus berkembang dalam hal popularitas dan keberagaman, dan yang lebih penting, di atas basis fundamental ketimbang sebatas pertumbuhan spekulatif seperti yang terjadi tahun lalu. Di sisi lain, ekosistem metaverse play-to-earn (P2E) menciptakan peluang bagi kripto asli untuk menghasilkan uang terlepas dari kondisi pasar.

Seperti yang telah kita lihat dari siklus pasar sebelumnya, ekosistem kripto selalu kembali. Mengikuti tren saat ini, NFT dan metaverse tampaknya menjadi DApps yang paling disukai di era ini. Tahun lalu, NFT mencatat penjualan lebih dari US$ 25 juta sementara penilaian metaverse meroket hingga lebih dari US$ 1 Miliar.

Kategori NFT

Laporan Deloitte membagi NFT menjadi lima kategori: Crypto art, Collectible, Gaming, Metaverse dan Utility. Pertama, NFT Collectible mengacu pada aset-aset NFT berupa avatar yang umumnya dikoleksi untuk membentuk suatu komunitas atau digunakan dalam video game dan olahraga merupakan salah satu segmen yang populer di kategori ini.

Di posisi kedua ada NFT Gaming dengan volume transaksi sebesar US$ 5,17 miliar. Contoh NFT yang masuk kategori ini adalah senjata atau equipment di game RPG, maupun skin eksklusif buat karakter. Kategori ketiga, NFT Crypto art, dengan proyek-proyek artistik yang terjual dengan harga fantastis, semisal NFT bikinan Beeple yang laku US$ 69 juta pada bulan Maret 2021.

ilustrasi nft marketplace
Ilustrasi NFT.

Baca juga: Memahami Aset Kripto, NFT dan Gagasan “Greater Fool Theory”

Posisi keempat dan kelima ditempati oleh kategori NFT Metaverse dan Utility, masing-masing dengan volume transaksi di kisaran setengah miliar dolar AS. Kategori metaverse umumnya tak hanya mengacu aset NFT yang merepresentasikan lahan virtual, melainkan juga pakaian dan aksesori untuk mendandani avatar di dunia virtual.

Kategori NFT utility mengacu pada aset yang berfungsi sebagai nama domain, tiket konser, maupun kode akses ke konten eksklusif. Data dari NonFungible.com, tercatat kategori collectible adalah yang terbesar volume transaksinya, dengan angka mencapai US$ 8,47 miliar per akhir 2021 lalu.

Dari kelima kategori tersebut, NFT Gaming adalah yang paling likuid, jika ditinjau dari segi jumlah pemilik, wallet, dan jumlah transaksi. Harga rata-rata NFT Gaming berada di kisaran US$ 200, sementara harga rata-rata NFT Metaverse dan Crypto art bisa mahal menembus angka US$ 3.500.

Melihat fundamental ini, beberapa analis memperkirakan bahwa NFT dan metaverse tidak hanya akan bertahan di bear market, tetapi juga berkembang setelah pembalikan terjadi. Bagaimanapun, seni secara historis merupakan lindung nilai inflasi yang baik. Pergerakan crypto bull berikutnya kemungkinan akan didominasi oleh NFT dan dunia metaverse P2E yang menawarkan insentif yang besar.

Baca juga: Ini 5 Game NFT Gratis yang Dapat Memberi Keuntungan

Continue Reading

Popular