Bitcoin News
Data Tenaga Kerja AS Jadi Ujian Bitcoin, BTC Bisa Tertekan Lagi?
Tim Research Tokocrypto menilai pada rilis sebelumnya, data tenaga kerja Juni yang lebih lemah dari ekspektasi berhasil mendorong Bitcoin naik.
Bitcoin kembali menghadapi pekan penting karena pasar menunggu rilis data nonfarm payrolls AS untuk Juli. Laporan ketenagakerjaan yang dijadwalkan rilis pada Jumat, 7 Agustus 2026, berpotensi menjadi katalis utama bagi arah BTC dalam jangka pendek.
Tim Research Tokocrypto menilai pada rilis sebelumnya, data tenaga kerja Juni yang lebih lemah dari ekspektasi berhasil mendorong Bitcoin naik.
“Saat itu, ekonomi AS hanya menambah 57.000 pekerjaan, jauh di bawah perkiraan ekonom sekitar 115.000,” jelasnya.
Setelah data tersebut keluar pada 2 Juli, Bitcoin melonjak sekitar 4% ke dekat US$62.000. Harga kemudian terus menguat menuju US$64.000 pada akhir pekan karena trader menilai lemahnya data tenaga kerja dapat menahan Federal Reserve dari kebijakan suku bunga yang lebih agresif.
Namun, kondisi pekan ini terlihat berbeda. Ekspektasi pasar terhadap data Juli jauh lebih tinggi, sehingga risiko volatilitas juga meningkat.
Data Juli Punya Ekspektasi Lebih Tinggi
Untuk laporan tenaga kerja Juli, ekonom memperkirakan payrolls bertambah sekitar 85.000 hingga 88.000. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding realisasi Juni yang hanya 57.000.
Jika data aktual lebih kuat dari perkiraan, pasar dapat menilai ekonomi AS masih cukup solid. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi peluang pemangkasan suku bunga dan bahkan memperkuat pandangan bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan ketat.
Hal ini penting bagi Bitcoin karena aset kripto cenderung sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Saat peluang pemangkasan suku bunga meningkat, aset berisiko seperti Bitcoin biasanya mendapat dukungan. Sebaliknya, jika pasar melihat potensi kebijakan moneter yang lebih ketat, tekanan jual dapat kembali muncul.
Tekanan tersebut sudah mulai terlihat pada akhir Juli. Bitcoin sempat turun sekitar 3% pada 31 Juli dan diperdagangkan di sekitar US$63.080.
Pada saat yang sama, yield Treasury AS tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield ini menunjukkan pasar obligasi mulai memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat, bukan pelonggaran.
Baca juga: Samsung Akan Hadirkan Stablecoin USDC di Samsung Wallet, Apa Dampaknya bagi Dunia Kripto?
The Fed Masih Jadi Faktor Utama
Dikutip BeInCrypto, data pekerjaan Jumat akan menjadi semakin penting karena muncul di tengah sinyal hawkish dari beberapa pejabat The Fed. Sejumlah pembuat kebijakan disebut masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga, sementara perbedaan pendapat di internal The Fed juga mulai terlihat.
Jika data payrolls Juli lebih panas dari perkiraan, tekanan terhadap Bitcoin dapat meningkat. Data tenaga kerja yang kuat, terutama jika disertai kenaikan upah yang solid, akan memperkuat argumen bahwa inflasi masih perlu dikendalikan dengan kebijakan ketat.
Average hourly earnings atau pertumbuhan upah rata-rata juga menjadi komponen penting dalam laporan ini. Jika upah terus naik, pasar dapat menilai tekanan inflasi masih bertahan, sehingga The Fed lebih sulit melonggarkan kebijakan.
Sebaliknya, jika data pekerjaan kembali melemah seperti Juni, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat kembali menguat. Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpeluang mendapat dorongan seperti yang terjadi pada awal Juli.
Dengan kata lain, arah BTC pekan ini sangat bergantung pada apakah data Jumat menunjukkan ekonomi AS melambat atau justru masih terlalu kuat.
Bitcoin Menunggu Arah Baru
Rilis data nonfarm payrolls pada 7 Agustus akan datang sekitar lima minggu sebelum pertemuan The Fed pada 16 September. Artinya, data ini akan menjadi salah satu bahan pertimbangan penting bagi bank sentral sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya.
Selain data pekerjaan, pasar juga akan menunggu data inflasi AS yang dijadwalkan rilis pada 12 Agustus. Kombinasi kedua data tersebut dapat membentuk ekspektasi baru terhadap keputusan The Fed.
Untuk Bitcoin, skenarionya cukup jelas. Jika data pekerjaan lebih lemah dari perkiraan, BTC berpeluang menguat karena pasar akan kembali memperhitungkan peluang kebijakan moneter yang lebih longgar.
Namun, jika data lebih kuat dari ekspektasi dan pertumbuhan upah tetap tinggi, Bitcoin berisiko mengalami tekanan jual. Kondisi tersebut dapat membuat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan kembali memilih aset yang lebih aman.
Saat ini, Bitcoin masih berada di area penting setelah sempat bergerak di sekitar US$63.000. Level ini menjadi zona yang perlu dipantau karena dapat menentukan apakah BTC mampu mempertahankan momentum pemulihan atau kembali terkoreksi.
Pekan ini, laporan pekerjaan AS kemungkinan menjadi katalis terbesar bagi pasar kripto. Jika data mendukung ekspektasi suku bunga lebih rendah, Bitcoin dapat mencoba melanjutkan rebound. Namun, jika data terlalu kuat, BTC berisiko kembali tertekan dan menguji support yang lebih rendah.
Baca juga: Stablecoin Institusi Naik Daun: Yen Stablecoin, Chainlink Pangea, & OpenUSD, Apa Artinya?
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
