Market

Drama Tarif Trump Berlanjut, Bitcoin Kehilangan Level Kunci $90.000

Published

on

Harga Bitcoin kembali tertekan dan jatuh menembus level psikologis US$90.000 untuk pertama kalinya sejak awal tahun. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat menunda putusan terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Berdasarkan data TradingView, Bitcoin sempat menyentuh level terendah harian di US$89.800, turun lebih dari 2 persen dalam sehari dari posisi tertingginya di sekitar US$93.000. Penurunan ini membuat Bitcoin hampir menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun dan kini hanya mencatatkan kenaikan sekitar 2 persen secara year-to-date (YTD).

Penurunan Harga Bitcoin Tak Terduga

Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 21 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.

Penurunan harga Bitcoin terjadi setelah Mahkamah Agung AS tidak mengeluarkan putusan atas gugatan tarif Trump meskipun hari tersebut telah dijadwalkan sebagai hari pengumuman opini. Dari tiga putusan yang dirilis, tidak satu pun menyentuh perkara tarif, sehingga memperpanjang ketidakpastian mengenai kewenangan presiden dalam menetapkan kebijakan tarif impor.

Dilaporkan Coingape, situasi ini semakin diperburuk oleh rencana pemerintah AS untuk memberlakukan tarif 10 persen terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Denmark, Norwegia, Finlandia, dan Swedia mulai 1 Februari. Jika Mahkamah Agung memutuskan mendukung kebijakan tarif tersebut, pasar menilai langkah ini berpotensi menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.

Selain faktor AS, tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari Asia. Pasar merespons kekhawatiran akan kenaikan suku bunga lanjutan di Jepang, setelah Bank of Japan memberi sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini dinilai dapat memicu runtuhnya strategi yen carry trade dan mendorong aksi jual di berbagai aset global.

Baca juga: Pakistan Gandeng Proyek Kripto Terkait Trump untuk Stablecoin USD1

Ketidakpastian Makroekonomi dan Nasib Tarif Trump

Ketidakpastian di Jepang turut diperparah oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah, menyusul pengumuman Perdana Menteri Sanae Takaichi mengenai rencana pemilu dadakan untuk meningkatkan belanja fiskal.

Sementara itu, data dari Polymarket menunjukkan peluang Mahkamah Agung AS memutuskan mendukung tarif Trump kini mencapai 37 persen, naik signifikan dari sekitar 28 persen sebelumnya. Peningkatan peluang ini turut membebani sentimen pasar kripto.

Kebijakan tarif Trump sebelumnya juga disebut sebagai salah satu pemicu koreksi tajam Bitcoin pada akhir tahun lalu. Pasar kripto sempat anjlok pada 10 Oktober, setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap barang-barang asal China.

Di sisi lain, sejumlah analis tetap bersikap pesimistis. Analis teknikal veteran Peter Brandt memprediksi harga Bitcoin masih berpotensi turun lebih dalam ke kisaran US$58.000 hingga US$62.000.

Seiring tekanan tersebut, pelaku pasar juga mulai menurunkan ekspektasi reli jangka pendek. Polymarket mencatat peluang Bitcoin menembus US$100.000 sebelum akhir bulan kini hanya tersisa 12 persen, mencerminkan melemahnya optimisme investor terhadap pergerakan harga dalam waktu dekat.

Baca juga: 8,4 Juta WLFI Gratis! Begini Cara Mendapatkannya Lewat Program USD1


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending

Exit mobile version