Market
Kerugian Kripto di Januari 2026 Tembus Hampir $400 Juta, Phishing Jadi Ancaman Utama
Industri kripto kembali menghadapi tantangan serius di awal 2026.
Sepanjang Januari, total kerugian akibat eksploitasi dan serangan siber tercatat hampir $400 juta, menurut laporan terbaru dari firma keamanan blockchain CertiK.
Angka ini menegaskan bahwa ancaman keamanan tidak hanya berasal dari celah smart contract, tetapi semakin didominasi oleh serangan social engineering yang menargetkan pengguna secara langsung.
Data CertiK menunjukkan bahwa sekitar 71% dari total kerugian, atau setara $284 juta, berasal dari satu insiden phishing masif.
Dalam kasus ini, pelaku kejahatan menyamar sebagai tim dukungan resmi Trezor, salah satu merek hardware wallet paling populer di industri kripto.
Baca Juga: Cina: Blokir Semua yang Sebut Blockchain ‘Scam’ dan Peluncuran Mata Uang Digital DCEP
Phishing Trezor
Menurut laporan BeInCrypto pada Senin (2/2), serangan phishing tersebut menjadi kasus terbesar di Januari 2026 dan sekaligus yang paling mengkhawatirkan.
Dengan memanfaatkan email dan pesan palsu yang tampak meyakinkan, pelaku berhasil mengelabui korban untuk menyerahkan kredensial sensitif atau menandatangani transaksi berbahaya.
Ironisnya, banyak korban merupakan pengguna hardware wallet, yang selama ini dianggap sebagai standar emas keamanan aset kripto.
Insiden ini menegaskan bahwa sekuat apa pun teknologi penyimpanan aset, kesalahan manusia tetap menjadi celah terbesar.
Pola ini juga menunjukkan pergeseran strategi para peretas.
Alih-alih menghabiskan waktu mencari bug teknis yang kompleks, mereka kini lebih fokus mengeksploitasi psikologi pengguna: mulai dari rasa panik, kepercayaan pada merek besar, hingga kurangnya literasi keamanan digital.
Step Finance dan Truebit
Selain phishing Trezor, Januari 2026 juga diwarnai oleh beberapa eksploit besar lain.
Step Finance, protokol di ekosistem Solana, dilaporkan mengalami kerugian sekitar $30 juta akibat eksploit yang memanfaatkan celah tertentu dalam sistemnya.
Sementara itu, Truebit, proyek yang berfokus pada verifikasi komputasi off-chain, kehilangan sekitar $26,6 juta dalam insiden terpisah.
Meski secara nominal lebih kecil dibanding phishing Trezor, dua kasus ini tetap menegaskan bahwa smart contract hack belum sepenuhnya hilang dari lanskap ancaman kripto.
Namun, jika dilihat secara agregat, dominasi kerugian dari social engineering menunjukkan tren yang jelas: vektor serangan telah bergeser dari kode ke manusia.
Rotasi Dana Curian ke Monero Soroti Isu Privacy Coin
Laporan tersebut juga menyoroti pola menarik dalam pergerakan dana hasil kejahatan.
Sebagian besar aset curian dilaporkan dirotasi ke Monero (XMR), aset kripto yang dikenal dengan fitur privasi tingkat tinggi.
Menurut Tim Research Tokocrypto, dominasi serangan social engineering dibanding smart contract hack menunjukkan bahwa faktor manusia tetap menjadi celah keamanan terbesar, bahkan bagi pengguna hardware wallet.
“Rotasi aset curian ke Monero (XMR) juga menyoroti peran privacy coins dalam ekosistem kejahatan siber, berpotensi memicu regulasi lebih ketat,” ujarnya.
Penggunaan Monero dalam aktivitas pencucian dana kembali memunculkan perdebatan lama terkait privacy coin.
Di satu sisi, koin privasi dianggap penting untuk kebebasan finansial dan perlindungan data pengguna. Di sisi lain, regulator global semakin menyoroti perannya dalam ekosistem kejahatan siber.
Tren ini berpotensi memicu pengetatan regulasi terhadap privacy coin, terutama di yurisdiksi yang sudah sensitif terhadap isu pencucian uang dan pendanaan ilegal.
Implikasi bagi Industri dan Pengguna Kripto
Kerugian hampir $400 juta dalam satu bulan menjadi pengingat keras bahwa keamanan kripto tidak hanya soal audit kode atau teknologi canggih. Edukasi pengguna kini menjadi garis pertahanan utama.
Bagi industri, ini berarti proyek dan penyedia layanan harus meningkatkan komunikasi keamanan, memperjelas kanal resmi, serta aktif memperingatkan pengguna soal modus penipuan terbaru.
Bagi investor dan holder individu, kewaspadaan ekstra, seperti verifikasi ganda sumber informasi dan skeptisisme terhadap pesan mendesak—menjadi keharusan.
Baca Juga: Gila! Hacker Raup Rp 2 Triliun dari Bank Sentral Brasil dalam Sekejap!
Lonjakan kerugian kripto di Januari 2026 menegaskan satu hal penting: faktor manusia masih menjadi target paling empuk bagi penjahat siber.
Dominasi phishing dibanding smart contract hack menunjukkan perubahan lanskap ancaman yang signifikan.
Dengan semakin canggihnya teknik social engineering dan meningkatnya sorotan regulator terhadap privacy coin seperti Monero, industri kripto dihadapkan pada tantangan ganda: meningkatkan keamanan pengguna sekaligus menjaga keseimbangan antara privasi dan kepatuhan.
Tanpa perbaikan di sisi edukasi dan kesadaran, risiko kerugian serupa berpotensi terus menghantui pasar kripto sepanjang 2026.
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
