Home Blockchain Mengupas Teknologi Blockchain Cardano

Mengupas Teknologi Blockchain Cardano

0
74

Kendati teknologi blockchain sudah berusia 10 tahun sejak diterapkan oleh Satoshi Nakamoto untuk sistem uang elektronik peer-to-peer Bitcoin, blockchain sejatinya masih “merangkak”. Tetapi tingkat adopsinya sangat cepat dan mulai diterima luas, di antaranya adalah teknologi blockchain Cardano yang memiliki mata uang kripto ADA.

Merangkak dalam tahap pertumbuhan, teknologi blockchain, khususnya Bitcoin diakui oleh Adam Back lebih cepat diadopsi berbanding dengan Internet dalam rentang 10 tahun pertamanya.

Secara umum, teknologi blockchain melalui sejumlah penelitian juga disebut-sebut sangat unggul.

Hasil penelitian Deloitte yang dirilis pada Juni 2019 menyebutkan, hampir 60 persen responden meyakini teknologi blockchain bisa diterapkan sebagai solusi baru yang baik. Penelitian itu dilakukan terhadap 1,386 eksekutif senior perusahaan di 12 negara.

Smart contract dan transaksi berbasis token di blockchain memampukan seniman, produser dan elemen lain di sektor industri kreatif, menerima imbalan hasil karya mereka secara langsung tanpa dominasi tunggal pihak ketiga (middleman). Di sektor lain, tokenisasi dengan blockchain, memudahkan komunikasi lintas perusahaan, mulai dari bidang transaksi keuangan, letter of credit, surat tagihan dan lain sebagainya,” jelas Deloitte dalam laporan penelitian itu.

Hasil penelitian itu juga mengungkapkan, bahwa 50 persen responden menempatkan teknologi blockchain sebagai prioritas strategis perusahaan. Persentase itu naik 10 persen dibandingkan tahun lalu.

“Perihal adopsi, sekitar 86 persen responden yakin teknologi blockchain akan diserap luas dan lebih mainstream. Kemudian, 83 persen percaya blockchain memiliki kegunaan positif dalam bisnis. Dibandingkan tahun lalu, untuk pertanyaan serupa, mencapai 74 persen atau naik cukup tinggi,” jelas Deloitte.

Bitcoin versus Cardano

Blockchain Bitcoin dan Cardano jelaslah amat berbeda. Blockchain Bitcoin yang sering disebut sebagai “emas digital”, memang dirancang “sangat haus energi listrik”, karena mengimitasi proses penambangan emas. Jumlahnya yang sangat terbatas, hanya 21 juta hingga tahun 2140 (sekarang baru 17 jutaan unit), setiap 4 tahun imbalan per blok juga berkurang hingga separuh.

Transaksi di blockchain Bitcoin pun terkenal sangat lambat, yakni hanya 3-7 transaksi per detik. Proses konfirmasi pun bisa mencapai rata-rata 60 menit. Tetapi terkadang itu dinilai sebagai keistimewaan tersendiri dalam konteks Bitcoin sebagai emas digital. Oleh pihak lain itu justru dinilai sebagai kekurangan (kendala skalabilitas) dan mendorong membuat blockchain alternatif selain Bitcoin agar lebih mudah diserap oleh industri, khususnya meningkatkan kecepatan transaksi.

Cardano diklaim sebagai teknologi blockchain generasi ketiga setelah Bitcoin dan Ethereum. Bitcoin yang andal dengan “deflationary system-nya” dan Ethereum unggul dengan smart contract, walaupun masih menganut PoW seperti Bitcoin (Ethereum saat ini dalam proses hijrah ke PoS), dengan 15 transaksi per detik. Semantara Cardano saat ini mampu menangani lebih banyak transaksi per detik. Dan disaat Cardano sudah menerapkan fitur sidechain peningkatan transkaksi per detik akan lebih menambah secara signifikan.

BERITA TERKAIT  Mantra Aji Blockchain

Peran Charles Hoskinson

Membincangkan kelahiran Cardano pada tahun 2015 lalu meluncur pada tahun 2017, tak dapat dilepaskan dari peran besar salah seorang pendirinya, Charles Hoskinson. Ia adalah seorang ahli matematika sekaligus pemrogram ulung. Sebelum merancang Cardano bersama sejumlah akademisi, ia adalah salah seorang dari tujuh pendiri Ethereum.

Niatan Hoskinson membuat blockchain sendiri terbilang unik dibandingkan dengan pengembangkan jenis blockchain lainnya. Kendati, kepincut memanfaatkan konsensus Proof-of-Stake (PoS) daripada Proof-of-Work (PoW) sebagaimana yang diterapkan Blockchain Bitcoin dan Ethereum, PoS ala Cardano benar-benar disandarkan pada penelitian dan pengkajian secara peer-to-peer oleh sejumlah akademisi lintas perguruan tinggi di sejumlah negara berbeda.

Ini pula yang dinilai oleh sejumlah pegiat blockchain, perkembangan Cardano berjalan relatif lambat dengan proyek blockchain lain. Tetapi, justru hal itu membuat Cardano unik dan terbukti bertahan sebagai platform yang lebih aman. Saat ini Cardano (ADA) berada di peringkat ke-10 versi Coinmarketcap dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp30,1 triliun per 1 Juli 2019.

Proyek utama yang dikembangkan IOHK saat ini adalah Cardano, sebuah blockchain publik dan platform smart contractdengan native token yang disebut ADA. ADA pun berhasil masuk ke jajaran kripto sepuluh terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.

Disebabkan kecintaannya terhadap matematika, Hoskinson mengambil nama Cardano dan ADA dari dua matematikawan terkenal, Gerolamo Cardano, seorang matematikawan dari era Renaisans, dan Ada Lovelace, programmer komputer pertama di dunia.

Sambil mengembangkan Cardano dan ADA, Hoskinson mengadvokasi dan mendidik orang di seluruh dunia mengenai cryptocurrency dan teknologi blockchain secara umum dan bekerja untuk memudahkan penggunaan perangkat kriptografi bagi banyak pihak.

Ekosistem Cardano

Secara prinsip Cardano terdiri dari tiga entitas, yakni Cardano Foundation, Input Output HK (IOHK) dan EMURGO. Cardano Foundation berperan secara umum dalam membangun komunitas di seluruh dunia.

Sedangkan IOHK adalah perusahaan teknologi yang didirikan oleh Charles Hoskinson dan Jeremy Wood pada tahun 2015. Dengan peran di dalam Cardano untuk mengembangkan blockchain Cardano. Khusus untuk bidang pendidikan dan pendanaan proyek terkait blockchain Cardano kepada organisasi dan perusahaan diserahkan kepada EMURGO.

EMURGO  dan pendidikan blockchain

CEO dan Pendiri Emurgo, Ken Kodama

EMURGO adalah badan komersial dan ventura resmi dari proyek Cardano, terdaftar di Tokyo, Jepang sejak Juni 2017 dan di Singapura sejak Mei 2018. EMURGO berafiliasi secara unik dan bekerja sama dengan IOHK untuk menumbuhkan ekosistem Cardano secara global dan mempromosikan adopsi blockchain Cardano.

Teknologi blockchain baru berusia 10 tahun, studi dan penerapan teknologi ini masih baru, sehingga inilah waktu yang tepat bagi kita untuk memulai pada tingkat yang relatif awal.

“Karena itu, EMURGO Indonesia sudah menjalin kerjasama dengan universitas di Indonesia untuk edukasi blockchain, yaitu Universitas Prasetiya Mulya, Universitas Telkom dan Universitas Gadjah Mada,” kata tim EMURGO Indonesia kepada Blockchainmedia belum lama ini.

Kerjasama dengan universitas-universitas ini untuk mendorong pendidikan blockchain diterapkan di tingkat pendidikan di Indonesia, sehingga Indonesia tidak hanya sebagai pengguna teknologi ini tetapi juga pencipta sekaligus pengembang. Kerjasama dengan Universitas Telkom yang ditandatangani bersama pada Oktober 2018, misalnya untuk menerapkan pendidikan blockchain dalam ilmu komputer di universitas.

Sementara dengan Universitas Prasetiya Mulya, yang ditandatangani pada September 2018, EMURGO Indonesia akan memberikan kurikulum yang diperluas pada blockchain. Penambahan program di Prasetiya Mulya mencakup rencana untuk menerapkan kurikulum blockchain baik dalam bentuk mata pelajaran ataupun workshop seperti “How to Implement Smart Contract”.

Selain itu EMURGO menciptakan komunitas blockchain di universitas, mengadakan seminar dan juga berfungsi sebagai modal usaha untuk mendorong pengusaha muda untuk mengembangkan bisnis berbasis blockchain Cardano.

EMURGO juga telah meluncurkan EMURGO Academy yang berada di India. Sejalan dengan misi edukasi yang dibawa oleh EMURGO, yaitu membangun komunitas dan memberikan pengetahuan tentang blockchain khusus yang Cardano blockchain kepada masyarakat. Karena EMURGO yakin bahwa blockchain akan menjadi infrastruktur sosial yang penting, seperti Internet.

Pada November 2019, EMURGO  meluncurkan Yoroi, wallet untuk ADA. Dengan wallet berbasis Extension Chrome ini, Anda tak perlu lagi mengunduh seluruh data blockchain yang mencapai puluhan GB itu.

Ke depan kita akan menyaksikan perkembangan Cardano selanjutnya, khususnya perkembangan bahasa pemrograman Plutus yang khusus dirancang untuk smart contract pada Cardano. Secara sintaksis Plutus mirip Haskell, tetapi dengan perbaikan yang lebih banyak. [red]