Mengenal Perbedaan Hard Fork & Soft Fork Pada Bitcoin

0
152
Perbedaan hard fork dan soft fork pada bitcoin

Perkembangan teknologi berbagai bidang, dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan pembaruan. Tidak terkecuali pada teknologi yang digunakan oleh cryptocurrency, beberapa koin menggunakan teknologi terbaru yang muncul untuk menyempurnakan programnya. Dalam istilah programing pada aset kripto yang memiliki pembaruan teknologi disebut dengan “Fork” dan secara umum dibagi menjadi dua hard fork dan soft fork.

Fork sendiri merupakan sebuah proses modifikasi kode pemrograman open-source. Kode-kode yang di-fork ini biasanya sama dengan kode aslinya atau kode sebelumnya, namun dengan beberapa modifikasi penting yang dilakukan, sehingga mengubah beberapa fitur.

Beberapa proses fork tersebut juga digunakan untuk menguji sebuah proses pada pemrograman, namun pada aset kripto, fork digunakan untuk mengimplementasikan perubahan fundamental atau untuk membuat aset baru dengan karakteristik yang hampir serupa namun ada perbedaan di beberapa sisi untuk meningkatkan fitur atau performa.

Nah fork-fork tersebutlah yang menghasilkan model kripto yang baru. Seperti pada Bitcoin, ada  Bitcoin Core, Bitcoin ABC, Bitcoin Gold, Bitcoin Diamond dan masih banyak lagi.

Jika dilihat dari tipenya, fork dibagi menjadi dua jenis hard fork dan soft fork. Keduanya sama sama akan melakukan perubahan yang fundamental, namun masing-masing tipe fork ini memiliki perbedaan ketika diimplementasikan. Jadi apa sebenarnya hard fork dan soft fork? Lalu apa perbedaan keduanya? Langsung saja kita bahas di bawah hard fork vs soft fork!

Hard Fork

Sebuah perubahan dari hard fork merupakan perubahan protocol yang akan menyebabkan versi lama yang telah di fork oleh hard fork ini menjadi tidak valid. Jika versi lama tetap berjalan, versi tersebut akan mati (tidak valid) dengan protocol yang berbeda, dengan data yang berbeda namun dari versi yang baru. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan yang signifikan dan error yang mungkin terjadi pada versi selanjutnya.

Jika kita mengambil contoh pada bitcoin, sebuah hard fork dibutuhkan untuk mengubah protocol pada parameter seperti ukuran block, tingkat kesulitan puzzle kriptografi yang harus dipecahkan saat penambangan, batasan informasi  yang dapat ditambahkan dan yang lainya. 

Perubahan protocol parameter ini akan membuat block dapat diterima oleh protocol baru namun ditolak oleh protocol lama dan dapat menjadi masalah yang cukup serius atau yang lebih parahnya kehilangan sejumlah aset kripto pada sistem.

Contoh sederhananya, jika batas ukuran block di upgrade dari 2MB menjadi 5MB, sebuah block dengan ukurannya 3MB akan diterima oleh node yang beroperasi di versi baru namun ditolak oleh node yang beroperasi di versi lama.

Soft Fork

Berbeda dengan hard fork, sebuah soft fork masih dapat beroperasi dalam versi yang lama. Misalkan, jika sebuah protokol diubah dengan cara peraturannya yang diperketat, menjalankan sebuah perubahan atau menambahkan fungsi yang tidak mempengaruhi konstruksi apapun, sehingga kemudian block versi terbaru akan dapat diterima dengan node versi lama.

Sederhananya, jika para komunitas memutuskan untuk mengurangi ukuran blok menjadi 1MB dari batas yang sekarang 2MB. Node versi terbaru akan menolak blok yang berukuran 2MB, dan akan membangun di blok yang sebelumnya (dengan versi kode yang sudah diperbaharui), dan hal ini akan menyebabkan fork sementara.

Hal tersebutlah yang dinamai dengan soft fork dan beberapa kali sering terjadi. Pada awalnya bitcoin yang tidak memiliki batas ukuran blok, diketahui oleh proses soft fork bitcoin memiliki batas ukuran blok 1MB. Soft fork tidak terlalu memiliki resiko sebesar hard fork, karena merchant (platform exchange) dan pengguna yang beroperasi pada node lama akan membaca kedua versi dari blok tersebut. 

Pay-to-script-hash, atau menambahkan kode tanpa merubah strukturnya, dapat dengan mudah ditambahkan melalui proses soft fork. Penambahan tipe ini umumnya hanya membutuhkan banyak miner untuk melakukan upgrade, di mana hal ini mudah dilakukan dan tidak terlalu menggangu jaringan.

Singkatnya perbedaan soft fork dan hard fork melalui tabel yang sederhana 

Soft Fork Hard Fork
Aturan Semakin ketat (Contoh 2MB => 1Mb) Aturan Semakin Longgar (Contoh 2MB => 3Mb)
Protokol baru masih kompatibel dengan protokol lama Protokol baru tidak kompatibel dengan protokol lama
Node lama menerima blok baru Node lama tidak menerima blok baru

 

Baik melalui sof fork ataupun hard fork, Tokocypto akan selalu menjadi keamanan dan kenyamanan pengguna untuk dapat bertransaksi pada aset kripto yang disediakan oleh Tokocypto. Untuk lebih mengenal kami lebih dalam, kunjungi Tokocrypto melalui sosial media dengan username @Tokocypto atau mengunjungi website kami di www.Tokocrypto.com