Goldman Sachs: Suku Bunga Rendah adalah Alasan Perusahaan Besar Berinvestasi Kripto

0
137
alasan investasi aset kripto

Goldman Sachs, bank investasi multinasional asal AS mengatakan, bahwa suku bunga yang rendah di bank adalah salah satu alasan banyak perusahaan dan individu berinvestasi di kripto.

Hal itu berdasarkan hasil jajak pendapat yang digelar perusahaan itu belum lama ini kepada beberapa klien Goldman Sachs.

“Lebih dari separuh dari semua responden sudah berinvestasi atau tertarik untuk berinvestasi kripto. Inflasi yang tinggi dan suku bunga bank rendah adalah beberapa alasan utama mereka berinvestasi di kripto,” sebut Goldman Sachs, dilansir dari Bloomberg, Rabu (21/7/2021).

Baca Juga: Mastercard Meningkatkan Fitur Dompet Crypto dan Bisnis Pertukaran

Jumlah responden yang disurvei sebanyak 150 klien Goldman Sachs lintas negara, khusus kategori family office.

Perusahaan investasi jenis ini fokus pada pengelolaan dana/aset investasi berskala besar dari keluarga-keluarga kaya raya.

“22 persen aset yang dikelola bernilai US$5 milyar atau lebih dan 45 persen mengelola aset antara US$1 milyar dan US$4,9 milyar,” sebut Goldman Sachs.

Meena Flynn, Co-Head of Private Wealth Management di Goldman Sachs, mengomentari minat family office di kripto.

“Ada banyak yang berpikir bahwa aset ini akan berdampak sama seperti Internet dari sudut pandang efisiensi dan produktivitas,” sebut Flynn.

Ketertarikan terhadap kripto dari family office adalah bagian dari tren besar keuangan dunia saat ini.

Pada Mei 2021, Goldman Sachs membuka bisnis baru terkait kripto, dengan produk derivatif kripto yang menyasar pada perusahaan.

Bitcoin US$130 Ribu

Bank investasi lain, JPMorgan menyatakan pada April 2021, bahwa peningkatan investasi perusahaan dapat membuat Bitcoin mencapai target harga sebesar US$130.000.

Tentu saja ini adalah perubahan sangat drastis, sangat berbeda jauh dengan tahun 2018-2019, bank-bank besar cenderung “kritis” terhadap kripto, karena dianggap terlalu spekulatif dan tidak memiliki nilai fundamental.

Bahkan di masa depan, berdasarkan program dari NYIG, ratusan bank di Amerika Serikat kelak bisa memperdagangkan Bitcoin, tanpa perlu nasabahnya menjadi pengguna di bursa kripto Coinbase.

Baca Juga: JP Morgan: Klien Kami Suka Kripto

Proyeksi bullish lainnya datang sejak awal tahun ini dari Mike McGlone, analis senior Bloomberg Intelligence.

Ia meyakini harga Bitcoin bisa menjadi US$100 ribu pada tahun 2021 ini. Koreksi yang terjadi sejak pertengahan April 2021, menurutnya masih normal dan mustahil turun di bawah US$20 ribu per BTC.

Namun ia tak menyiratkan, apakah US$100 ribu itu merupakan harga puncak setelah masuk Halving III sejak Mei 2020 (cycle repeat), seperti Halving sebelumnya yang memuncak di US$20 ribu lalu merosot hingga 80 persen.