Connect with us

Market

Investasi Saat Pandemi, Apa Pilihannya yang Terbaik?

Published

on

Investasi Saat Pandemi, Apa Pilihannya yang Terbaik?

Pandemi Covid-19 memberikan tantangan tersendiri pada masyarakat Indonesia soal mengelola keuangan. Investasi saat pandemi jadi cara pengelolaan keuangan yang banyak diminati belakangan ini.

Bahkan, menurut studi dari Investor Global Schroders 2021, di 32 lokasi global terdapat sejumlah 46 persen atau hampir setengah dari investor yang berusia 18-37 tahun menyimpan dananya untuk diinvestasikan lebih banyak setelah pembatasan sosial dicabut.

Investasi dinilai sangat berguna untuk masa mendatang, terutama jika kembali datang masa-masa tidak pasti seperti pandemi ini. Selain itu, berinvestasi juga melatih diri agar cerdas dalam mengelola keuangan.

Apakah kamu juga tertarik investasi saat pandemi? Lalu apa saja investasi yang cocok saat pandemi dan bagaimana cara berinvestasi secara aman saat pandemi? Simak penjelasannya di bawah ini.

Baca jugaInilah Tips Sebelum Memulai Investasi bagi Anak Muda

Alasan pentingnya investasi saat pandemi

Di tengah pandemi, banyak orang yang mengalami ketidakpastian soal pekerjaan dan pendapatan. Investasi menjadi penting karena bisa digunakan sebagai alternatif pendapatan selama pandemi Covid-19.

Hasil riset Danareksa Research Institute menyebutkan, sebanyak 33,33 persen responden beralasan memulai investasi selama pandemi karena berharap menjadi alternatif pendapatan.

Ada dua alasan lainnya yang mendorong masyarakat berinvestasi saat pandemi, yakni kelebihan dana, berharap imbal hasil besar, serta akses investasi yang kini lebih mudah.

Selain itu, investasi juga tidak luput dari perekonomian Indonesia. Kondisi ekonomi Indonesia disebutkan mencakup tiga komponen penting, yaitu konsumsi rumah tangga, sektor bisnis untuk investasi, dan juga ekspor impor dalam sektor luar negeri.

Jika ada penurunan pada salah satu komponen, maka akan terjadi penurunan pada dua komponen yang lain. Di sini peran investasi jadi penting untuk pemulihan ekonomi di Indonesia, apalagi di tengah pandemi seperti saat ini.

Sebab, investasi berupa penanaman modal meningkat akan berdampak positif pada proses produksi dalam bisnis dan nantinya juga akan berimbas pada meningkatnya konsumsi rumah tangga.

Investasi juga dapat dilakukan dalam berbagai cara, bisa melalui peningkatan kemampuan diri, peningkatan pemahaman akan instrumen investasi, dan juga peningkatan imunitas diri kita.

Punya investasi dalam bentuk asuransi kesehatan juga bisa menjadi salah satu pilihan, apalagi kini banyak asuransi yang memberikan proteksi kesehatan lengkap dengan biaya terjangkau. Kamu bisa temukan asuransi kesehatan terbaik mulai Rp50 ribuan hanya di Lifepal!

Baca juga4 Aset Kripto yang Berpotensi untuk Investasi di Masa Pandemi

Investasi yang cocok saat pandemi

Lantas, apa saja investasi yang cocok saat pandemi? Ada banyak sekali instrumen investasi yang dapat dieksplor, mulai investasi saham, emas, properti, emas, obligasi, asuransi seperti asuransi mobil dan jiwa unit link, atau bahkan cryptocurrency yang kini sedang naik daun.

Kamu bisa mencoba lima investasi terbaik saat pandemi berikut ini:

1. Properti
Investasi properti tanah dan bangunan memiliki nilai investasi jangka panjang yang cukup tinggi, mengingat nilai jual tanah yang meningkat tiap tahunnya.

Mengapa harus investasi properti? Saat pandemi, banyak pemilik properti yang menawarkan harga menarik, bahkan ada yang memberikan penawaran khusus.

Meski minat investor terhadap investasi menurun, namun justru bisa dilihat sebagai kesempatan menjadikan investasi masa depan. Terutama jika perekonomian kembali pulih nanti.

2. Emas
Investasi emas masih terbukti cukup menguntungkan, sebab nilainya yang mengalami peningkatan dan tingkat likuiditasnya yang sangat tinggi.

Investasi emas juga minim risiko dan tahan dari fluktuasi inflasi. Tentunya aman bagi kamu yang ingin memiliki investasi yang mudah ditukarkan jadi uang tunai sewaktu-waktu.

3. Obligasi
Obligasi milik pemerintah biasanya memiliki bunga yang menjadi kewajiban pinjaman. Umumnya obligasi memiliki jangka waktu investasi yang cukup panjang, bisa mencapai 10 tahun.

4. Saham
Saham bisa jadi pilihan investasi jangka panjang dengan keuntungan yang cukup besar. Saham belakangan jadi favorit para investor muda dalam mengelola keuangan.

Nilai saham dapat naik, bahkan secara signifikan dalam jangka waktu yang panjang. Investasi saham kini sering dibarengi dengan aset kripto yang cukup populer karena dinilai menguntungkan.

5. Reksa dana
Reksa dana merupakan investasi jangka panjang yang cocok untuk pemula, terutama bagi kamu yang belum benar-benar memahami instrumen lainnya seperti saham. Dalam reksa dana, kamu akan dibantu dengan manajer investasi dalam memilih saham terbaik.
Tips mudah berinvestasi saat pandemi.

Baca jugaYuk, Simak Perbedaan Reksa Dana dan Crypto Sebelum Investasi!

Tertarik untuk mulai berinvestasi? Nah, sebelum kamu mulai mencoba investasi saat pandemi, ada pentingnya untuk mengetahui tips-tips berikut ini:

1. Pilih investasi jangka panjang
Investasi jangka panjang umumnya tidak akan terpengaruh kondisi saat ini, sehingga dalam beberapa waktu ke depan, investasi yang kamu jalan bisa mengalami kenaikan.

Namun, hindari menggunakan dana untuk kebutuhan sehari-hari dan dana darurat untuk melakukan investasi jangka panjang, ya!

2. Pilih investasi yang aman
Jangan sampai kamu terkecoh dengan investasi bodong. Hanya karena suatu investasi sedang naik daun atau menjanjikan keuntungan bombastis, lantas kamu langsung mempercayakan seluruh investasimu pada instrumen tersebut.

Pilihlah investasi saat pandemi yang aman, terutama dari inflasi. Semakin naik inflasi, maka uang yang ada di tabungan bisa tergerus oleh bunga berjumlah fantastis.

3. Lakukan riset
Kalau kamu sudah menentukan jenis investasi saat pandemi yang ingin dilakukan, jangan lupa untuk lakukan riset mendalam. Pelajari seluk-beluk instrumen yang kamu pilih, seperti untung-ruginya, kesulitan, keunggulan, kekurangan, tingkat risikonya dan lainnya.

4. Alokasikan ke beberapa instrumen
Jangan terpaku dengan satu jenis instrumen saja, namun coba alokasikan dana ke beberapa jenis instrumen.

Hal ini penting sebab dapat mengurangi risiko terjadinya kemungkinan buruk yang memengaruhi salah satu aset investasi, sehingga kamu tidak akan khawatir semua aset milikmu akan mengalami kerugian.

5. Monitor secara berkala
Jangan lupa untuk terus lakukan monitor secara berkala, pantau peluang investasi yang dapat dilakukan dari hari ke hari. Sehingga kamu bisa lebih berhati-hati dan dapat mengatur strategi ke depan apabila terjadi risiko pada investasi yang kamu miliki.

Jadi, apakah kamu sudah siap untuk memulai investasi saat pandemi? Jangan lupa, tidak perlu ikut-ikutan tren dalam berinvestasi dan tidak membekali diri dengan ilmu yang cukup. Selamat berinvestasi!

Catatan Penulis
Tips ini dibuat oleh Frieda Isyana, Content Writer di Lifepal. Segala informasi yang ada pada artikel ini dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika mengambil, menyadur, atau mengutip informasi di artikel ini diharapkan memberi link ke https://lifepal.co.id/asuransi/mobil/ agar memudahkan pembaca mendapatkan informasi selengkapnya.

Market

Market Awal Pekan: Reli Market Kripto Mulai Lesu, Nasib BTC?

Published

on

Ilustrasi aset kripto

Pergerakan market aset kripto pada Senin (15/8) pagi mulai berbalik arah. Harga Bitcoin, Ethereum dan aset kripto utama lainnya terpantau melaju lesu. Harga BTC pun menurunkan kecepatan relinya dan belum berani untuk menembus mendekati harga US$ 25.000.

Melansir data CoinMarketCap pukul 09.00 WIB, 7 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar kompak masuk tipis ke zona merah dalam 24 jam terakhir. Hanya saja nilai Bitcoin (BTC) yang naik 1,12% ke US$ 24.853 dalam 24 jam terakhir. Nasib sama terjadi pada Ethereum (ETH) melonjak 0,53% ke US$ 1.998 di waktu yang sama.

Sejumlah altcoin lainnya mulai kehabisan bensin. Misalnya, nilai Binance Coin (BNB) dan Cardano (ADA) dan Solana (SOL) kompak turun dalam 24 jam terakhir di waktu bersamaan. Apa yang terjadi pada pergerakan market pagi ini?

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan pergerakan yang berbalik arah ini, dimulai setelah Bitcoin gagal mempertahankan posisi di atas US$ 25.000 pada akhir pekan lalu. Banyak yang menduga investor sudah siap untuk melakukan aksi ambil untung, jika BTC tembus area harga BTC US$ 25.000.

“Akibatnya, ketika tercapai, investor banyak yang memutuskan untuk tidak lagi melakukan akumulasi. Meski begitu, secara keseluruhan investor masih tetap memiliki selera untuk melakukan akumulasi kembali di market,” kata Afid.

Ilustrasi bear market
Ilustrasi bear market.

Baca juga: Event NFT Bira Siap Digelar, Ajang Kumpul Pegiat Web3 dan Blockchain

Optimis Indikator Ekonomi Lebih Baik

Afid menjelaskan salah satu faktor kuat market kripto bisa bergerak lebih baik, yaitu kepercayaan investor terhadap indikator ekonomi baru-baru ini, yang menunjukkan penurunan inflasi dan kemungkinan resesi yang lebih rendah.

Di samping itu, untuk pertama kali Bitcoin Fear and Greed index berhasil tembus posisi Netral sejak terakhir April 2022. Senin pagi ini, indeks kembali naik ke posisi Fear, tapi masih lebih baik dibanding seminggu terakhir.

Indikator lainnya, market kripto masih berpotensi bergerak lebih baik pekan ini adalah indeks BTC Dominance. Investor tampaknya lebih suka akumulasi altcoin ketimbang Bitcoin. Kini indeks dominasi BTC berada di angka 40,1%, menurun drastis dibanding dua bulan lalu, yakni 48%.

“Penyebabnya kemungkinan besar adalah disebabkan dari lonjakan harga Ethereum yang terjadi akibat rumor The Merger yang ditunggu-tunggu. Ethereum juga telah menyelesaikan penggabungan jaringan testnet terakhir, Goerli Rabu lalu,” jelas Afid.

Ilustrasi Shiba Inu.
Ilustrasi Shiba Inu.

Baca juga: Kenal Fear and Greed Index Crypto dan Cara Kerjanya

Altcoin Juara dan Analisis Gerak BTC

Afid mengatakan ada altcoin yang menarik perhatian di market pada Senin (16/8) pagi ini yaitu Dogecoin (DOGE), Shiba Inu (SHIB) dan Celcius (CEL). Betapa tidak, nilai DOGE naik 9,86%, SHIB melonjak 35,2% dan CEL tumbuh 16,77% dalam sehari terakhir.

Nilai SHIB terbang setelah terjadi SHIB burn sebanyak 292 juta keping pada Sabtu (13/8) lalu. Selain itu, market juga mengantisipasi game Shiba Eternity dari pengembang jaringan Shiba Inu. kemudian, Celcius melonjak akibat rumor desas-desus pengambilalihan pengelolaan token oleh Ripple yang ingin membeli aset Celsius Network.

Dari sisi analisis teknikal, Bitcoin sebenarnya punya potensi menguat sampai ke level US$ 25.568, jika berhasil melewati level resistensinya. Namun, jika BTC gagal menembus tingkat tersebut, maka titik support harian terdekat BTC berada di level US$ 22.530 dan US$ 21.317.

“Sementara, gerak Ethereum masih bisa optimis menembus target bullish selanjutnya berada di level US$ 2.009. Level support ETH di level US$ 1.745 untuk menahan laju penurunan harga ETH apabila terjadi,” pungkas Afid.

Continue Reading

Market

Pasar Sepekan: Reli Market Kripto Sedikit Tertahan, Apa Sebabnya?

Published

on

Bitcoin zona merah

Menjelang akhir pekan, market kripto malah melaju lesu, walaupun Ethereum masih terpantau kuat memasuki zona hijau. Secara keseluruhan investor dibuat bingung oleh sikap market kripto pekan ini. Apa faktornya?

Sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap terpantau menurun dan masuk ke zona merah pada perdagangan Jumat (12/8) pukul 13.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin bertengger di harga US$ 23.990 atau turun 2,50% dalam 24 jam terakhir. Altcoin lainnya, Ethereum (ETH) masih kuat naik 1,12% ke US$ 1.901. Binance Coin (BNB), Solana (SOL) dan XRP anjlok lebih dari 1%.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto mulai kehabisan bensin, walaupun masih dihujani segudang sentimen positif. Sejatinya, sentimen makroekonomi masih bisa menjadi angin segar bagi market kripto, setelah Departemen Ketenagakerjaan AS telah mengumumkan inflasi tahunan AS yang ternyata mengalami penurunan dari 9,1% kini hanya 8,5% pada Juli 2022. 

“Market tampak mulai goyah pada Jumat (12/8) pagi ini. Padahal jika dilihat dari sisi sentimen positif masih banyak yang bisa mendorong laju market ke reli selanjutnya. Terlebih indeks inflasi AS turun, data itu mengindikasikan bahwa siklus inflasi tinggi AS mungkin telah mencapai puncaknya, meski angka 8,5% masih jadi salah satu yang tertinggi,” kata Afid.

Ilustrasi aset kripto
Ilustrasi aset kripto

Baca juga: Jadwal Baru Rilis Ethereum 2.0 dan Gas Fees Lebih Murah

Ethereum Masih Kuat Reli?

Melihat data tersebut, investor bisa optimis bahwa siklus inflasi tinggi AS sudah mencapai puncaknya. Sehingga, berharap bank sentral AS, The Fed, mulai bersikap lunak dalam melakukan kebijakan suku bunganya. Namun, rupanya hal tersebut belum mampu membuat gerak laju market kuat naik.

Sementara dari sisi ekosistem, sentimen positif datang dari Ethereum yang Kamis (11/8) kemarin mengumumkan telah sukses menginstalasi pembaruan di salah satu jaringan uji cobanya bernama Goerli. Uji coba ini merupakan testnet paling akhir, sebelum jaringan utama Ethereum mengalami pembaruan bernama The Merge pada September mendatang.

“Suksesnya Goerli sedikit membantu harga ETH tidak terpengaruh market yang lesu. Walau alami sedikit kenaikan, ETH mampu bertahan dan sentimen positif ke depan bisa mendorong harganya,” ucap Afid.

Sentimen Negatif Bikin Market Lesu Pekan Ini

Afid menganalisa faktor utama yang membuat market lesu menjelang akhir pekan ke-2 Agustus ini adalah trader yang memulai masif melakukan aksi profit taking atau ambil untung, sehingga membuat investor lain menghentikan akumulasinya.

Ilustrasi bear market
Ilustrasi bear market.

Baca juga: Bos Apple: Investasi Kripto adalah Keputusan Masuk Akal dan Menarik

“Sayang banyak sentimen positif gagal menjadi berkah bagi market kripto. Banyak trader yang sepertinya bergerak cepat melakukan aksi profit taking, karena penguatan yang membuat harga aset kripto tinggi kemarin. Kuat diguaan, mereka melakukan aksi itu karena yakin harga aset kripto benar-benar telah mencapai titik bottom-nya,” terangnya.

Di sisi lain, market saham AS juga memiliki kinerja bervariasi, namun cenderung menurun. Hal ini terjadi karena kinerja saham-saham teknologi, seperti Alphabet, Meta Platforms, Apple, dan Microsoft alami penurunan. Ini juga yang membuat investor kurang berselera masuk ke market kripto.

Selain itu, ada sedikit penguatan nilai indeks dolar AS Jumat pagi ini yang menambah hantaman laju nilai aset kripto. Pergerakan nilai dolar AS dan aset kripto memang punya korelasi negatif yang kuat sejak Juli tahun lalu.

Ilustrasi Ethereum.
Ilustrasi Ethereum.

Baca juga: 5 Strategi Untung Investasi Kripto saat Sideways Market

Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum

Dari analisis teknikalnya, gerak level support Bitcoin berada pada resistance sebelumnya di level US$ 23.362 sebagai tahanan jika harga BTC meneruskan penurunannya. Namun, apabila harga Bitcoin pullback dan kembali naik, target kenaikan masih berada di level US$ 25.232.

Sementara, Ethereum masih mampu mempertahankan laju bullish-nya. Pergerakan harga ETH masih mencoba untuk breakout dari area supply yang menjadi kunci dan konfirmasi untuk kenaikan lebih lanjut. Jika harga ETH berhasil breakout, target bullish selanjutnya berada di level US$ 2.009. Level support kuat masih di US$1.745 untuk menahan laju penurunan harga ETH apabila terjadi koreksi.

Continue Reading

Market

Data Baru Inflasi AS Dorong Market Kripto Reli Kencang, Tanda Bull Run?

Published

on

Ilustrasi market kripto bullish. Sumber: Shutterstocks.

Pergerakan market aset kripto pada Kamis (11/8) pagi berhasil membuat investor tersenyum lebar. Akhirnya setelah sempat tertekan, market lepas reli kencang masuk ke zona hijau.

Melansir situs CoinMarketCap pada Kamis (11/8) pukul 09.00 WIB, dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar atau big cap, kompak alami peningkatan yang cukup signifikan dalam 24 jam terakhir. Misalnya, nilai Bitcoin (BTC) naik 6,69% ke US$ 24.336 per keping dalam sehari terakhir.

Sementara, Ethereum (ETH) melonjak lebih dahsyat 12,42% ke US$ 1.878 di waktu yang sama. XRP, Cardano (ADA), Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) juga bergerak naik masing-masing 5,82%, 7,13%, 9% dan 5,68%.

Trader Tokocrypto, Nathan Alexander, mengatakan harga Bitcoin, Ethereum dan aset kripto utama lainnya melanjutkan reli disebabkan oleh berita data inflasi AS terbaru yang menguntungkan.

Harga Bitcoin Bergerak Agresif
Harga Bitcoin Bergerak Agresif.

Baca juga: Penerbitan CBDC Semakin Dekat, Australia Luncurkan Proyek Pilot

Departemen Ketenagakerjaan AS telah mengumumkan inflasi tahunan AS yang ternyata mengalami penurunan dari 9,1% kini hanya 8,5% pada Juli 2022. Data ini mengindikasikan bahwa siklus inflasi tinggi AS mungkin telah mencapai puncaknya, meski angka 8,5% masih jadi salah satu yang tertinggi.

“Peristiwa tersebut akhirnya memicu investor untuk kembali mengakumulasi aset kripto. Mereka optimis akan adanya pull back dari dampak data inflasi AS yang turun,” kata Nathan.

Optimis The Fed Bergerak Tak Agresif

Nathan melanjutkan data terbaru inflasi AS bisa menimbulkan keyakinan bahwa The Fed tampaknya akan meredam agresivitas kebijakan moneternya. Jika The Fed mengambil sikap devoish, maka daya tarik aset kripto, akan terus berkilau. Selain itu, aksi The Fed yang menahan suku bunga acuannya diharapkan tidak akan menyurutkan likuiditas di pasar kripto.

“Pastinya, mereka bisa beranggapan berhasil dalam upaya menjinakkan inflasi tanpa memasukkan ekonomi ke dalam resesi, dan dapat meningkatkan suku bunga pada tingkat yang lebih moderat pada pertemuan berikutnya di bulan September mendatang,” ucapnya.

Selain sentimen dari inflasi, reli kencang market kripto juga didorong antisipasi investor terhadap pembaruan jaringan Ethereum bernama The Merge yang sedianya meluncur pada September mendatang.

Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum.
Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Pixabay.

Baca juga: Daftar Lengkap 383 Aset Kripto Legal Terdaftar Bappebti di Indonesia

Terlebih, pada pekan bisa jadi momen penting bagi Ethereum, karena akan ada penggabungan testnet ketiga dan terakhir, yang disebut Goerli. Diharapkan penggabungan ini terjadi pada 10-12 Agustus mendatang.

Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum

Dari sisi teknikal, Nathan mengungkap pergerakan harga Bitcoin sejauh ini berhasil breakout resistance pada level US$ 23.362. Jika harga BTC kembali melanjutkan reli, target kenaikan selanjutnya berada pada level US$ 25.232. Posisi US$ 22.930 masih menjadi level support yang solid untuk menahan laju penurunan Bitcoin apabila harga koreksi.

Sementara, nilai Ethereum memiliki target kenaikan terdekat berada pada level US$ 1.916. “Jika berhasil breakout, maka kenaikan selanjutnya berada pada level US$ 2.009. ETH memiliki level support solid di US$ 1.622 untuk menahan laju penurunan ETH jika mengalami koreksi,” pungkas Nathan.

Continue Reading

Popular