Blockchain

Mengenal Standar Token ERC 20 hingga Cara Kerja dan Kegunaannya

Published

on

Dalam mempelajari aset digital kripto, terutama Ethereum, Anda mungkin pernah berjumpa dengan istilah “ERC 20”. Bahkan, istilah tersebut sering dikaitkan dengan beberapa aset kripto besar dan dompet kripto populer seperti Tether (USDT), Polygon (MATIC), Shiba Inu (SHIB), dan dompet Metamask. Ingin paham lebih dalam mengenai standar ERC 20? Mulai dari kaitannya dengan jaringan Ethereum, cara kerja, hingga kegunaannya. Yuk, simak selengkapnya!

Apa itu Jaringan Ethereum?

Anda tentu sudah familiar dengan Ethereum (ETH), salah satu aset digital kripto populer dengan kapitalisasi pasar tinggi, menduduki peringkat kedua setelah Bitcoin. Ternyata, aset kripto ini merupakan solusi pembayaran yang dibuat untuk jaringan Ethereum. Jaringan ini dicetuskan Vitalik Buterin dan menerapkan sistem terdesentralisasi, blockchain dengan sistem open-source, dan dilengkapi dengan fungsi smart contract.

Jaringan Ethereum sendiri dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi, termasuk token. Menariknya lagi, pembuatan aplikasi melalui jaringan Ethereum tidak memerlukan layanan perantara untuk beroperasi seperti kebanyakan aplikasi konvensional.

Implementasi pembuatan aplikasi untuk token dalam jaringan Ethereum pertama kali diusulkan oleh Fabian Vogelsteller pada November 2015. Vogelsteller memanfaatkan fungsi smart contract untuk menyusun suatu standar pembuatan aplikasi token yang disebut dengan ERC-20 atau Ethereum Request for Comments 20.

Jadi, ERC-20 adalah standar untuk merancang suatu tipe token yang spesifik. Standar tersebut merupakan seperangkat pedoman dasar yang harus diikuti setiap token baru, setelah ETH, yang dibuat dalam jaringan Ethereum. 

Baca juga: Apa Itu Ethereum? Berikut Panduan Lengkapnya!

Mengenal Standar Token ERC 20

Bisa dibilang, ERC-20 adalah “patokan” untuk membuat token baru dalam jaringan Ethereum. Tiap aplikasi token yang dibuat dengan smart contract Ethereum pasti menerapkan standar ERC-20. Token yang dibuat dengan standar ERC-20 hanya bisa dijalankan pada platform berbasis Ethereum. Itu berarti, token tidak akan berlaku pada jaringan selain Ethereum. Misalnya, token USDT tidak akan berlaku di jaringan Polkadot atau Hyperledger Fabric. 

Perlu diingat juga, standar token ini juga hanya berlaku untuk fungible token, bukan non-fungible token. Selain itu, Anda bisa menukarkan satu token ERC 20 dengan token ERC 20 lain karena nilainya sepadan.

Beberapa contoh token besar yang berstandar ERC 20 dan tersedia untuk diperjualbelikan antara lain adalah Tether (USDT), Binance Coin (BNB), dan Wrapped Bitcoin (wBTC).

Baca juga: Yuk, Kenali Perbedaan Wrapped Bitcoin dengan Bitcoin!

Aturan Dasar ERC 20

Dalam membuat proyek kripto atau token dengan standar ERC 20, ada aturan dasar yang harus dipenuhi, yaitu token harus mampu menjalankan fungsi-fungsi berikut ini:

  1. TotalSupply: memberikan informasi mengenai jumlah total pasokan token.
  2. BalanceOf: menyediakan informasi saldo rekening pemilik.
  3. Transfer: mampu mengirim sejumlah token ke alamat tertentu.
  4. TransferFrom: mampu menerima sejumlah token dari alamat tertentu.
  5. Approve: memberi izin kepada pembeli untuk menarik sejumlah token dari akun tertentu.
  6. Allowance: mengembalikan sejumlah token dari pihak pembeli kepada pemilik asli.

Fungsi-fungsi di atas akan memicu aplikasi token untuk menjalankan dua tindakan, yakni proses transfer token (berlangsung tiap token berpindah kepemilikan) dan proses validasi (berlangsung tiap persetujuan dibutuhkan).

Kegunaan ERC 20

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kegunaan ERC 20 adalah sebagai patokan dalam membuat sebuah token aset kripto. Hal tersebut memang benar adanya. Anda bisa menjadikan token yang dibuat dengan standar ini sebagai aset kripto. Meski begitu, kegunaan standar token ERC 20 ternyata tidak hanya itu. Berikut adalah beberapa kegunaannya, yaitu:

  • Crowdfunding

Ada kalanya, para pengembang aplikasi yang menggunakan jaringan Ethereum melakukan crowdfunding (penggalangan dana) untuk melanjutkan proyek mereka. Dengan adanya ERC-20, mereka dapat membuat token sebagai ganti dana investasi yang disuntikkan investor.

  • Hak suara

Selanjutnya, standar token ERC 20 juga bisa digunakan untuk mengambil keputusan terkait suatu proyek yang dikembangkan dalam jaringan Ethereum. Makin banyak jumlah pengguna token, maka semakin besar pengaruh dalam setiap pengambilan keputusan.

  • Mewakili aset fisik

Standar token ERC 20 bersifat fungible. Itu berarti, dalam jumlah tertentu, token dapat mewakili kepemilikan aset fisik seperti emas.

  • Biaya transaksi

Seperti yang telah dijelaskan pada poin mengenai aturan dasar ERC 20, tiap token harus bisa menjalankan fungsi transaksi. Tiap transaksi biasanya memiliki biaya tambahan yang dikenal dengan istilah ‘gas fee’. Ketika jaringan sedang macet, gas fee akan mendorong agar transaksi lebih cepat. Gas fee sendiri nominalnya dipotong dari nilai token pengguna.

Dari sini, bisa disimpulkan bahwa ERC 20 merupakan standar token yang digunakan sebagai pedoman untuk membuat token dalam jaringan Ethereum. Saat ini, sudah banyak proyek kripto yang menggunakan standar ini berhasil menjadi besar di pasar. Anda tertarik untuk membelinya? Yuk, selesaikan KYC dan beli token berstandar ERC 20 di Tokocrypto! Jangan lupa juga untuk gabung dengan Komunitas Tokocrypto, ya!

Baca juga: Aset Kripto Lokal Bisa Tingkatkan Potensi Perekonomian Digital RI

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Popular

Exit mobile version