Altcoin News
Chairman Bitmine Sebut $ETH Bisa Naik 100x Seperti Amazon, Nvidia, dan JPMorgan
Tom Lee, Chairman Bitmine Immersion Technologies, menyampaikan pandangan bullish terhadap Ethereum (ETH).
Dalam Chairman’s Message Juli 2026 bertajuk “Ethereum is the Cure for the Uncanny Valley of Wealth” di kanal Youtube Bitmine, Tome Lee menyebut Ethereum tengah memasuki fase baru yang berpotensi mendorong kenaikan nilai aset secara eksponensial, bahkan membandingkannya dengan pertumbuhan perusahaan raksasa seperti Amazon, Nvidia, hingga JPMorgan.
Menurut Lee, Ethereum saat ini sedang bertransisi dari fase “ETH 1.0” menuju “ETH 2.0”, yaitu periode ketika jaringan Ethereum mulai menjadi fondasi utama bagi berbagai layanan keuangan, tokenisasi aset, hingga ekonomi berbasis AI.
Daftar Isi
Ethereum Dinilai Sedang Memasuki Fase Baru
Tom Lee menjelaskan bahwa beberapa faktor makro membuat pasar kripto tertekan sepanjang paruh pertama 2026, mulai dari kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat, ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat, hingga derasnya arus investasi ke sektor Artificial Intelligence (AI).
Meski begitu, ia meyakini kondisi tersebut mulai mendekati titik balik (market bottom). Salah satu alasannya adalah mulai melambatnya inflasi di Amerika Serikat serta meningkatnya optimisme terhadap kepastian regulasi kripto melalui Clarity Act.
Tom Lee kemudian membagi perjalanan Ethereum ke dalam dua fase.
Menurutnya, ETH 1.0 merupakan periode ketika pertumbuhan Ethereum didorong oleh berbagai inovasi di industri kripto, mulai dari ICO Boom, NFT Boom, ETF Spot Ethereum, hingga pertumbuhan stablecoin.
Seluruh katalis tersebut sempat membawa harga ETH mendekati $5.000, namun menurut Lee pasar masih melihat Ethereum sebagai aset kripto biasa.
Sementara itu, ETH 2.0 adalah fase ketika Ethereum mulai digunakan sebagai infrastruktur ekonomi global. Dalam pandangannya, Wall Street kini mulai membangun berbagai layanan keuangan di atas Ethereum, sehingga nilai jaringan tidak lagi hanya bergantung pada aktivitas kripto semata.
“But we believe crypto spring is here, and it’s not a straight line higher,” ujar Tom Lee
Namun, ia menjelaskan bahwa prosesnya tidak akan berlangsung naik seperti garis lurus karena harga aset kripto, termasuk Ethereum, masih berpotensi mengalami volatilitas dan koreksi sebelum melanjutkan tren kenaikan dalam jangka panjang.
Wall Street Semakin Memilih Ethereum
Salah satu alasan utama optimisme Tom Lee adalah semakin banyak institusi keuangan besar yang membangun layanan berbasis Ethereum.
Dalam 12 bulan terakhir, sejumlah proyek tokenisasi besar seperti BlackRock BUIDL, JPMorgan, Securitize, hingga Ondo Finance memanfaatkan ekosistem Ethereum sebagai infrastruktur utama.
Selain itu, Robinhood juga meluncurkan blockchain berbasis Arbitrum, sebuah Layer-2 Ethereum. Menurut Lee, jaringan tersebut telah memproses volume transaksi yang besar dan tetap menggunakan ETH sebagai token gas, sementara penyelesaian transaksi akhirnya dilakukan di Ethereum Layer-1.
Hal tersebut dinilai memperkuat posisi Ethereum sebagai infrastruktur keuangan digital.
Baca juga: Tom Lee Prediksi Ethereum Jadi Jembatan Wall Street dan Kripto
Tom Lee Bandingkan Ethereum dengan Amazon, Nvidia, dan JPMorgan
Alih-alih membandingkan Ethereum dengan Bitcoin, Tom Lee justru menggunakan tiga perusahaan besar sebagai analogi transformasi bisnis.
Menurutnya, ketiga perusahaan tersebut pernah mengalami periode ketika harga sahamnya bergerak relatif datar selama bertahun-tahun. Namun setelah memasuki fase bisnis baru dengan pasar yang jauh lebih besar (total addressable market), valuasinya meningkat secara signifikan.
| Perusahaan | Pemicu Fase 2.0 | Pergerakan Harga Menurut Tom Lee |
| Amazon | AWS, Prime, AI | $6 → $241 |
| Nvidia | AI dan ChatGPT | $1 → $197 |
| JPMorgan | Menjadi bank global melalui berbagai akuisisi | $58 → $334 |
| Ethereum | Tokenisasi aset, AI, stablecoin, dan institusi | Masih dalam fase awal menurut Tom Lee |
Tertarik untuk memiliki Ethereum di potofolio kamu? Cuman dengan deposit Rp10.000 aja kamu udah bisa beli Ethereum di exchange yang resmi dan terpercaya seperti Tokocrypto lho! [Daftar di sini]
Amazon 2.0: Dari Toko Online Menjadi Raksasa Cloud Computing
Tom Lee menjelaskan bahwa saham Amazon sempat bergerak stagnan selama bertahun-tahun meski perusahaan terus berkembang.
Titik baliknya terjadi setelah Amazon meluncurkan Amazon Web Services (AWS), memperluas layanan melalui Prime, Studios, hingga AI. Menurutnya, perluasan pasar inilah yang mengubah Amazon dari sekadar perusahaan e-commerce menjadi raksasa teknologi global, sehingga harga sahamnya naik dari sekitar $6 menjadi $241.
Nvidia 2.0: AI Mengubah Nilai Perusahaan
Sebagai analogi kedua, Lee menyoroti Nvidia yang telah memiliki teknologi GPU dan platform CUDA jauh sebelum booming AI.
Namun, pasar baru benar-benar menghargai potensi Nvidia setelah hadirnya ChatGPT dan meningkatnya permintaan chip AI. Menurut Lee, transisi menuju era AI membuat saham Nvidia melonjak dari sekitar $1 menjadi hampir $200, atau mendekati 200 kali lipat.
JPMorgan 2.0: Menjadi Bank Global
Lee juga menggunakan JPMorgan sebagai contoh perusahaan yang berhasil memasuki fase pertumbuhan baru. Setelah melalui berbagai merger dan akuisisi, termasuk Bear Stearns dan Washington Mutual, JPMorgan berkembang menjadi bank global dengan cakupan bisnis yang jauh lebih luas.
Menurut Lee, transformasi tersebut mendorong harga saham JPMorgan naik dari sekitar $58 menjadi $334, seiring meningkatnya pasar yang dapat dilayaninya.
Ethereum 2.0: Harga ETH Naik 100x Ketika ETH Bukan Lagi Sekadar Aset Kripto
Setelah membandingkan Amazon, Nvidia, dan JPMorgan, Tom Lee berpendapat bahwa Ethereum kini sedang memasuki fase ETH 2.0.
Menurutnya, jika pada fase sebelumnya Ethereum dikenal sebagai blockchain untuk ICO, NFT, dan stablecoin, maka fase berikutnya akan menjadikannya sebagai fondasi bagi sistem keuangan digital dan ekonomi berbasis AI.
Dalam pandangannya, perubahan ini akan memperluas pasar Ethereum secara signifikan, sama seperti yang terjadi pada ketiga perusahaan tersebut.
AI dan “Uncanny Valley of Wealth”
Lee juga memperkenalkan konsep “Uncanny Valley of Wealth”, yaitu kondisi ketika AI mampu menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada manusia.
Dalam skenario tersebut, menurutnya AI akan membutuhkan sistem pembayaran dan kepemilikan aset yang terbuka, transparan, dan tidak dikendalikan satu pihak. Ia meyakini blockchain, khususnya Ethereum dengan kemampuan smart contract-nya, dapat menjadi jembatan antara manusia dan AI dalam ekonomi digital di masa depan.
Ethereum Dinilai Berpotensi Menjadi Settlement Layer
Selain itu, Lee menilai Ethereum semakin memperkuat posisinya sebagai settlement layer untuk layanan keuangan global.
Munculnya berbagai inisiatif seperti ETH Labs, Ethereum Institutional, dan ETH Systems, ditambah semakin banyaknya institusi yang membangun layanan di atas Ethereum, dinilai menjadi sinyal bahwa jaringan ini akan memainkan peran yang lebih besar dalam infrastruktur keuangan dunia.
Menurutnya, ketika ETH digunakan sebagai aset untuk membayar biaya transaksi sekaligus menjadi modal kerja (working capital), maka perannya akan semakin menyerupai uang (money), bukan sekadar aset kripto.
Ethereum dari $1.800 Bisa Naik 100x ke $250.000?
Atas dasar itulah Tom Lee mengutip pandangan Joe Lubin, salah satu pendiri Ethereum, yang memperkirakan ETH berpotensi naik hingga 100 kali lipat apabila visi tersebut benar-benar terwujud. Dengan asumsi harga ETH berada di kisaran $1.800, kenaikan 100x akan membawa nilainya mendekati $250.000 per ETH.
Meski demikian, Lee menegaskan bahwa angka tersebut bukan target harga pasti, melainkan ilustrasi mengenai besarnya potensi Ethereum jika berhasil menyelesaikan transformasi menuju ETH 2.0, sebagaimana yang pernah dialami Amazon, Nvidia, dan JPMorgan saat memasuki fase pertumbuhan baru.
Baca juga: Robert Kiyosaki Prediksi Ethereum Bisa Capai US$95.000 pada 2027