2 Faktor yang Membuat Analisis pada Bitcoin Bearish

0
25
Ketika harga Bitcoin turun menjadi di bawah $7.000, analisis secara teknis menunjukkan BTC tumbang dari garis tren penentu, kembali seperti tanggal 16 Maret lalu.Meski Halving Bitcoin yang sangat dinanti-nantikan akan terjadi kurang dari tiga minggu lagi, para trader memperkirakan akan ada pullback besar-besaran karena dua alasan utama. Di lain sisi, pasar tetap memberi sinyalreliefnya pada jangka pendek.

Dua kasus menarik pada Bitcoin correction di masa mendatang adalah satu, menembusnya garis tren utama yang menandakan overhead resistance dan yang kedua, pola tinggi yang lebih rendah pada grafik high-time.

Menantang Bitcoin untuk Pulih pada Garis Lurus dari Kapitulasi Terdekat

Terlepas dari teori yang menyatakan harga Bitcoin tidak seharusnya turun di bawah $ 4.000 selama peristiwa yang disebut “black swan” pada 12 Maret 2020 lalu, BTC memang sempat melonjak dari $3.600 menjadi $6.900 dalam waktu satu setengah bulan.

Kenaikan harga hingga sebanyak 91% dalam waktu tepat 40 hari merupakan kenaikan harga yang substansial bahkan pada Bitcoin yang volatilitasnya tinggi dan sudah diketahui oleh banyak investor.

Ketika harga Bitcoin naik sangat tajam dalam periode waktu singkat tanpa ada kemunduran besar, sering kali hal ini rentan terhadap retracement yang signifikan. Seperti yang terlihat pada bulan Oktober dan Desember 2019, harga Bitcoin dapat melonjak hingga 100% dan masih jatuh kembali ke tempat mulainya rally lebih cepat dari pada pergerakan harga ke atas.

Baca juga: Stock to Flow: Satu Tahun Setelah Halving Bitcoin Diprediksi Berharga $23.000

Berbagai momentum osilator menunjukkan harga Bitcoin memiliki ruang untuk relief rally dalam waktu dekat, mungkin ke kisaran $7.100 hingga $7.200. Namun, formasi dari tingkat rendah yang lebih rendah dari grafik harian harga Bitcoin menunjukkan pembeli mulai kehilangan kedali terhadap pasar.

Untuk pertama kalinya sejak harga Bitcoin turun menjadi $3.600 lalu, grafik harian BTC mencetak catatan lebih rendah dari tingkat terendahnya. Selanjutnya, sebelum penolakan di $7.400 dan $7.200 terjadi berturut-turut, hal ini menunjukkan aktivitas beli jelas lebih dominan daripada aktivitas jual di pasar Bitcoin.

Penurunan ke arah bawah sangat kecil dan kembali dibeli dengan cepat, dengan alasan pesanan terhadap daya beli mengerdilkan pesanan daya jual di kedua bursa pertukaran spot dan futures. Namun, penolakan besar terhadap $7.400 lalu membalikkan tren dan menciptakan lingkungan yang sulit bagi pembeli untuk mempertahankan dominasinya.

Seperti yang dilansir dari Cointelegraph pekan lalu, struktur yang secara teknis terlihat bearish tercetak di Dow Jones Industrial Average dengan tampilan indikator penjualan TD9 ini, dapat menambah tekanan jual pada sebagian besar aset berisiko tinggi, termasuk Bitcoin.

Ada Beberapa Variable Mencegah Kecelakan Besar Terjadi

Meskipun beberapa analisis teknis utama masih terlihat bearish, dua faktor fundamental lainnya dapat mencegah Bitcoin re-test posisi terendah $4.000 pada jangka pendek dan kembali menstabilkan pasar.

Pertama, masuknya modal ke Tether meningkat pesat. Tether sendiri merupakan stablecoin yang paling banyak digunakan di pasar global. Jika miliaran dolar Tether masuk ke dalam bursa seperti contohnya Binance yang mulai memasuki kembali pasar cryptocurrency dan menciptakan arus baru ke Bitcoin, hal ini bisa melindungi BTC dari lebih banyak penurunan.

Kedua, kebangkitan cryptocurrency alternatif seperti Ethereum dan token pertukaran lain sejalan dengan kebangkitan BTC dalam beberapa peristiwa terakhir.

Kedua faktor tersebut mengindikasikan potensi investor yang sudah ada bersedia untuk mengambil risiko lebih besar karena semakin percaya diri terhadap tren pasar dan melindungi Bitcoin agar tidak turun kembali dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber