Connect with us

Market News

Prediksi Kenaikan Harga Bitcoin di Tahun 2021

Published

on

kenaikan harga bitcoin di tahun 2021

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak negatif terhadap perekonomian global, terlebih IMF telah menetapkan tahun 2020 sebagai The Great Lockdown. Lalu, pertengahan 2020, pasar saham di Indonesia mengalami penurunan. Namun, hal ini tidak terjadi pada aset kripto, karena kenaikan harga bitcoin justru terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 2020.

Kenaikan Harga Bitcoin Saat Pandemi COVID-19

Disaat pasar saham mengalami penurunan yang cukup signifikan saat pandemi, aset kripto khususnya bitcoin justru mengalami kenaikan harga. Pada 28 Juli 2020 kemarin, bitcoin berada di harga $11,200 atau setara dengan Rp 162 juta.

Hanya 5 bulan berselang, pada 27 Desember 2020 bitcoin berhasil mengalami kenaikan hingga 2x lipat, yaitu sebesar $28,400 USD atau Rp 400 juta. Sebenarnya lonjakan tersebut berada di luar prediksi para ahli, karena ahli hanya memprediksi harga bitcoin berada di kisaran $20,000 USD atau Rp 300 jutaan pada akhir tahun 2020. 

Kenaikan harga bitcoin saat pandemi disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pemberian stimulus oleh bank sentral Amerika Serikat yang menyebabkan melemahnya nilai mata uang dollar dan pembelian bitcoin dalam jumlah besar oleh investor terkenal.

Maka dari itu, bitcoin dianggap sebagai aset kripto dengan valuasi terbesar di dunia yang memiliki performa terbaik di tahun 2020.

Bitcoin di Awal 2021

Tahun 2021 diawali dengan kembali meroketnya harga bitcoin. Bagaimana tidak, pada 9 Januari 2021 bitcoin berhasil menduduki harga $40,636 USD atau setara dengan Rp 569 juta! Tentu angka ini semakin menanjak ke level yang lebih tinggi.

Dilansir dari Coinmarketcap, sebulan setelahnya atau tepat pada 9 Februari 2021, bitcoin berhasil bertengger di $47,066 USD dengan nilai rupiah sebesar Rp 659 juta per btc.

Kenaikan harga bitcoin yang mencapai 19.97% dalam sehari terjadi setelah Tesla, perusahan mobil asal Amerika Serikat yang dipimpin oleh Elon Musk membeli bitcoin senilai 1,5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 21 Triliun pada sehari sebelumnya (8/2/2021).

Alasan Tesla Borong Bitcoin

The U.S Securities and Exchange Commission (SEC) mengatakan bahwa alasan Tesla memborong bitcoin dengan jumlah yang fantastis dilakukan untuk mendorong diversifikasi pembayaran. Nantinya, Tesla akan mulai menerima mata uang kripto sebagai alat pembayaran.

Apabila hal tersebut direalisasikan, maka Tesla adalah perusahaan mobil pertama yang menerapkan metode pembayaran dengan bitcoin.

Prediksi Harga Bitcoin di 2021

Banyak ahli mengatakan, harga bitcoin diprediksi kembali meroket di 2021. Dilansir dari Kompas, mungkin saja bitcoin berpeluang menduduki di angka $55,000 USD (Rp 762 juta). Apabila investor besar kembali masuk ke pasar bitcoin setelah mendapat keuntungan, maka besar kemungkinan aset kripto pertama ini kembali mengalami lonjakan harga.

Selain itu, meningkatnya permintaan bitcoin di Amerika pasti secara tidak langsung memengaruhi kenaikan harga bitcoin. Ini dikarenakan The Office of the Comptroller of the Currency (OCC) di Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan bahwa bank-bank di AS diizinkan untuk memegang aset kripto.

Lalu kebijakan dari The Fed (Federal Reserve) juga membuat masyarakat memilih bitcoin sebagai tempat untuk berinvestasi jangka panjang.

Saatnya Gabung dengan Tokocrypto di Freebruary!

Kenaikan harga bitcoin yang tidak main-main menjadi kabar baik untuk para trader maupun investor pemula. Bertepatan dengan itu, Tokocrypto mengadakan Bulan Trading Nasional di bulan Februari dengan banyak tawaran menarik, lho!

Selain free deposit yang Anda dapatkan di awal transaksi, Tokocrypto menghadirkan free maker fee dan free transfer fee! Anda bisa menikmati 0% biaya Maker untuk trading semua pairing BIDR dan 0% biaya transfer aset Kripto untuk semua jaringan ke sesama akun Tokocrypto dan Binance.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera gabung dengan Tokocrypto dan nikmati program menarik lainnya selama bulan Februari disini: bit.ly/FREEbruaryTokonews

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Market

Pasar Sepekan: Reli Market Kripto Sedikit Tertahan, Apa Sebabnya?

Published

on

Bitcoin zona merah

Menjelang akhir pekan, market kripto malah melaju lesu, walaupun Ethereum masih terpantau kuat memasuki zona hijau. Secara keseluruhan investor dibuat bingung oleh sikap market kripto pekan ini. Apa faktornya?

Sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap terpantau menurun dan masuk ke zona merah pada perdagangan Jumat (12/8) pukul 13.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin bertengger di harga US$ 23.990 atau turun 2,50% dalam 24 jam terakhir. Altcoin lainnya, Ethereum (ETH) masih kuat naik 1,12% ke US$ 1.901. Binance Coin (BNB), Solana (SOL) dan XRP anjlok lebih dari 1%.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto mulai kehabisan bensin, walaupun masih dihujani segudang sentimen positif. Sejatinya, sentimen makroekonomi masih bisa menjadi angin segar bagi market kripto, setelah Departemen Ketenagakerjaan AS telah mengumumkan inflasi tahunan AS yang ternyata mengalami penurunan dari 9,1% kini hanya 8,5% pada Juli 2022. 

“Market tampak mulai goyah pada Jumat (12/8) pagi ini. Padahal jika dilihat dari sisi sentimen positif masih banyak yang bisa mendorong laju market ke reli selanjutnya. Terlebih indeks inflasi AS turun, data itu mengindikasikan bahwa siklus inflasi tinggi AS mungkin telah mencapai puncaknya, meski angka 8,5% masih jadi salah satu yang tertinggi,” kata Afid.

Ilustrasi aset kripto
Ilustrasi aset kripto

Baca juga: Jadwal Baru Rilis Ethereum 2.0 dan Gas Fees Lebih Murah

Ethereum Masih Kuat Reli?

Melihat data tersebut, investor bisa optimis bahwa siklus inflasi tinggi AS sudah mencapai puncaknya. Sehingga, berharap bank sentral AS, The Fed, mulai bersikap lunak dalam melakukan kebijakan suku bunganya. Namun, rupanya hal tersebut belum mampu membuat gerak laju market kuat naik.

Sementara dari sisi ekosistem, sentimen positif datang dari Ethereum yang Kamis (11/8) kemarin mengumumkan telah sukses menginstalasi pembaruan di salah satu jaringan uji cobanya bernama Goerli. Uji coba ini merupakan testnet paling akhir, sebelum jaringan utama Ethereum mengalami pembaruan bernama The Merge pada September mendatang.

“Suksesnya Goerli sedikit membantu harga ETH tidak terpengaruh market yang lesu. Walau alami sedikit kenaikan, ETH mampu bertahan dan sentimen positif ke depan bisa mendorong harganya,” ucap Afid.

Sentimen Negatif Bikin Market Lesu Pekan Ini

Afid menganalisa faktor utama yang membuat market lesu menjelang akhir pekan ke-2 Agustus ini adalah trader yang memulai masif melakukan aksi profit taking atau ambil untung, sehingga membuat investor lain menghentikan akumulasinya.

Ilustrasi bear market
Ilustrasi bear market.

Baca juga: Bos Apple: Investasi Kripto adalah Keputusan Masuk Akal dan Menarik

“Sayang banyak sentimen positif gagal menjadi berkah bagi market kripto. Banyak trader yang sepertinya bergerak cepat melakukan aksi profit taking, karena penguatan yang membuat harga aset kripto tinggi kemarin. Kuat diguaan, mereka melakukan aksi itu karena yakin harga aset kripto benar-benar telah mencapai titik bottom-nya,” terangnya.

Di sisi lain, market saham AS juga memiliki kinerja bervariasi, namun cenderung menurun. Hal ini terjadi karena kinerja saham-saham teknologi, seperti Alphabet, Meta Platforms, Apple, dan Microsoft alami penurunan. Ini juga yang membuat investor kurang berselera masuk ke market kripto.

Selain itu, ada sedikit penguatan nilai indeks dolar AS Jumat pagi ini yang menambah hantaman laju nilai aset kripto. Pergerakan nilai dolar AS dan aset kripto memang punya korelasi negatif yang kuat sejak Juli tahun lalu.

Ilustrasi Ethereum.
Ilustrasi Ethereum.

Baca juga: 5 Strategi Untung Investasi Kripto saat Sideways Market

Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum

Dari analisis teknikalnya, gerak level support Bitcoin berada pada resistance sebelumnya di level US$ 23.362 sebagai tahanan jika harga BTC meneruskan penurunannya. Namun, apabila harga Bitcoin pullback dan kembali naik, target kenaikan masih berada di level US$ 25.232.

Sementara, Ethereum masih mampu mempertahankan laju bullish-nya. Pergerakan harga ETH masih mencoba untuk breakout dari area supply yang menjadi kunci dan konfirmasi untuk kenaikan lebih lanjut. Jika harga ETH berhasil breakout, target bullish selanjutnya berada di level US$ 2.009. Level support kuat masih di US$1.745 untuk menahan laju penurunan harga ETH apabila terjadi koreksi.

Continue Reading

Market

Data Baru Inflasi AS Dorong Market Kripto Reli Kencang, Tanda Bull Run?

Published

on

Ilustrasi market kripto bullish. Sumber: Shutterstocks.

Pergerakan market aset kripto pada Kamis (11/8) pagi berhasil membuat investor tersenyum lebar. Akhirnya setelah sempat tertekan, market lepas reli kencang masuk ke zona hijau.

Melansir situs CoinMarketCap pada Kamis (11/8) pukul 09.00 WIB, dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar atau big cap, kompak alami peningkatan yang cukup signifikan dalam 24 jam terakhir. Misalnya, nilai Bitcoin (BTC) naik 6,69% ke US$ 24.336 per keping dalam sehari terakhir.

Sementara, Ethereum (ETH) melonjak lebih dahsyat 12,42% ke US$ 1.878 di waktu yang sama. XRP, Cardano (ADA), Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) juga bergerak naik masing-masing 5,82%, 7,13%, 9% dan 5,68%.

Trader Tokocrypto, Nathan Alexander, mengatakan harga Bitcoin, Ethereum dan aset kripto utama lainnya melanjutkan reli disebabkan oleh berita data inflasi AS terbaru yang menguntungkan.

Harga Bitcoin Bergerak Agresif
Harga Bitcoin Bergerak Agresif.

Baca juga: Penerbitan CBDC Semakin Dekat, Australia Luncurkan Proyek Pilot

Departemen Ketenagakerjaan AS telah mengumumkan inflasi tahunan AS yang ternyata mengalami penurunan dari 9,1% kini hanya 8,5% pada Juli 2022. Data ini mengindikasikan bahwa siklus inflasi tinggi AS mungkin telah mencapai puncaknya, meski angka 8,5% masih jadi salah satu yang tertinggi.

“Peristiwa tersebut akhirnya memicu investor untuk kembali mengakumulasi aset kripto. Mereka optimis akan adanya pull back dari dampak data inflasi AS yang turun,” kata Nathan.

Optimis The Fed Bergerak Tak Agresif

Nathan melanjutkan data terbaru inflasi AS bisa menimbulkan keyakinan bahwa The Fed tampaknya akan meredam agresivitas kebijakan moneternya. Jika The Fed mengambil sikap devoish, maka daya tarik aset kripto, akan terus berkilau. Selain itu, aksi The Fed yang menahan suku bunga acuannya diharapkan tidak akan menyurutkan likuiditas di pasar kripto.

“Pastinya, mereka bisa beranggapan berhasil dalam upaya menjinakkan inflasi tanpa memasukkan ekonomi ke dalam resesi, dan dapat meningkatkan suku bunga pada tingkat yang lebih moderat pada pertemuan berikutnya di bulan September mendatang,” ucapnya.

Selain sentimen dari inflasi, reli kencang market kripto juga didorong antisipasi investor terhadap pembaruan jaringan Ethereum bernama The Merge yang sedianya meluncur pada September mendatang.

Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum.
Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Pixabay.

Baca juga: Daftar Lengkap 383 Aset Kripto Legal Terdaftar Bappebti di Indonesia

Terlebih, pada pekan bisa jadi momen penting bagi Ethereum, karena akan ada penggabungan testnet ketiga dan terakhir, yang disebut Goerli. Diharapkan penggabungan ini terjadi pada 10-12 Agustus mendatang.

Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum

Dari sisi teknikal, Nathan mengungkap pergerakan harga Bitcoin sejauh ini berhasil breakout resistance pada level US$ 23.362. Jika harga BTC kembali melanjutkan reli, target kenaikan selanjutnya berada pada level US$ 25.232. Posisi US$ 22.930 masih menjadi level support yang solid untuk menahan laju penurunan Bitcoin apabila harga koreksi.

Sementara, nilai Ethereum memiliki target kenaikan terdekat berada pada level US$ 1.916. “Jika berhasil breakout, maka kenaikan selanjutnya berada pada level US$ 2.009. ETH memiliki level support solid di US$ 1.622 untuk menahan laju penurunan ETH jika mengalami koreksi,” pungkas Nathan.

Continue Reading

Market

Market Kripto Tertekan, Menanti Data Baru Inflasi AS

Published

on

bitcoin

Badai kembali menghantam market aset kripto. Pergerakan market pada Rabu (10/8) siang terpantau terkoreksi, dan ini mengakhiri reli kencang yang sudah berlangsung sejak awal pekan lalu. Apa penyebab market lesu ini?

Melansir situs CoinMarketCap pada Rabu (10/8) pukul 12.00 WIB, dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar atau big cap, kompak alami penurunan cukup dalam ke zona merah dalam 24 jam terakhir. Misalnya, nilai Bitcoin (BTC) anjlok 3,82% ke US$ 22.963 per keping dalam sehari terakhir.

Sementara, Ethereum (ETH) turun lebih dalam 5,53% ke US$ 1.680 di waktu yang sama. XRP, Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) punya nasib yang lebih buruk karena anjlok masing-masing 4,03%, 7,29% dan 3,71%.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat sejauh ini mulai kehabisan bensin untuk melaju sejak Selasa (9/8) sore. Ada beberapa penyebab market berbalik arah, seperti volume perdagangaan yang belum menunjukan peningkatan yang signifikan hingga antisipasi perilisan data inflasi AS untuk bulan Juli.

“Sepertinya keyakinan investor sudah mulai goyah setelah melihat bahwa penguatan aset kripto sejatinya tak dibarengi dengan kenaikan volume perdagangan. Kemudian, dari sisi teknikal investor gagal mempertahankan nilai BTC di level psikoogisnya US$ 23.000. Lalu, yang utama adalah siap-siap perilisan CPI atau data inflasi AS,” kata Afid.

Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

Baca juga: BlackRock Mantap Masuk ke Market Kripto Incar Investor Kaya

Afid menambahkan pelemahan aset kripto pagi ini sejalan dengan volume perdagangan harian yang cukup rendah dibanding hari-hari sebelumnya. Hal tersebut jadi indikasi investor tengah memasang sikap bertahan atau wait and see.

Investor sedang galau atau memang kurang yakin dengan arah pergerakan harga aset kripto saat ini, sehingga susah bersikap terlalu bullish dalam price actions. Terlebih perilisan data inflasi Juli AS akan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus.

“Jika data inflasi AS melebihi proyeksi 8,7%, maka ada kemungkinan The Fed akan semangat mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin di rapat FOMC berikutnya. Dampaknya, situasi pemulihan ekonomi akan melambat dan pasar investasi berisiko, seperti kripto akan terus tertekan,” jelasnya.

ethereum
Ilustrasi Bitcoin dan Ethereum.

Baca juga: Industri Kripto dan Blockchain Tetap Jadi Incaran Venture Capital

Analisis Pergerakan Bitcon dan Ethereum

Dari perspektif teknikalnya, perdagangan Bitcoin turun di bawah garis trennya, bisa dinyatakan sebuah sinyal bahwa ada keyakinan terbatas dalam pergerakan harga lebih rendah.

Jika bitcoin gagal merebut kembali tren di level US$ 22.930, tampaknya akan diposisikan mengalami penurunan yang signifikan. Level support terdekat kini berada dikisaran US$ 22.000.

Sementara, Ethereum sangat penting bagi untuk mempertahankan zona dukungan US$ 1.690-US$ 1.700 untuk terus bull. Namun, tekanan market saat ini dapat mendorong ETH ke level US$ 1.580.

Continue Reading

Popular