Market
Data CPI Juli Jadi Ujian Besar untuk The Fed, Bitcoin, dan Pasar Global
Tim Research Tokocrypto melihat menjelang rilis data tersebut, pelaku pasar masih terbelah dalam membaca arah kebijakan Federal Reserve.
Pasar global bersiap menghadapi rilis data Consumer Price Index atau CPI Amerika Serikat untuk Juli 2026. Data tersebut dijadwalkan keluar pada Rabu, 12 Agustus 2026 pukul 08.30 waktu Eastern Time, dan berpotensi menjadi penentu arah suku bunga The Fed, obligasi, saham, hingga Bitcoin.
Tim Research Tokocrypto melihat menjelang rilis data tersebut, pelaku pasar masih terbelah dalam membaca arah kebijakan Federal Reserve.
“CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga September sempat bergerak kembali di atas 50%, menandakan pasar belum sepenuhnya yakin apakah The Fed akan menahan atau menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya,” jelasnya.

Kondisi ini membuat CPI Juli menjadi data yang sangat penting. Jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, aset berisiko seperti saham dan kripto berpeluang mendapat dorongan. Namun, jika inflasi kembali panas, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menguat dan menekan Bitcoin serta pasar aset berisiko lainnya.
Daftar Isi
CPI Jadi Momen Penentu The Fed
Pasar memperkirakan inflasi Juli akan melambat secara moderat. Dalam survei Wall Street Journal yang dikutip sumber pasar, headline inflation diperkirakan berada di 0,12% secara bulanan atau 3,4% secara tahunan.
Sementara itu, core CPI, yang mengecualikan harga makanan dan energi, diperkirakan naik 0,22%. Angka core menjadi perhatian utama karena lebih sering digunakan untuk membaca tekanan inflasi yang mendasar.

Menurut BeInCrypto, jika core CPI berada di sekitar 0,2% secara bulanan, pasar dapat menilai inflasi mulai bergerak kembali menuju target The Fed di 2%. Skenario ini dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak perlu menaikkan suku bunga pada September.
Namun, jika core CPI lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat kembali memperhitungkan risiko kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini akan membuat The Fed berada dalam posisi sulit, terutama setelah data tenaga kerja Juli menunjukkan pelemahan.
Sebelumnya, laporan tenaga kerja AS menunjukkan payroll turun 23.000 pada Juli. Data tersebut memperkuat narasi bahwa ekonomi mulai mendingin, tetapi belum cukup untuk menghapus kekhawatiran inflasi.
Baca juga: BlackRock Borong Bitcoin Setiap Hari Selama Seminggu Terakhir, Ada Apa?
Goldilocks atau Stagflasi
Jika CPI Juli lebih rendah dari ekspektasi, pasar dapat kembali menghidupkan narasi Goldilocks, yaitu kondisi ketika inflasi melambat tanpa membuat ekonomi jatuh terlalu dalam. Dalam skenario ini, yield obligasi dapat turun dan aset berisiko seperti saham serta kripto bisa menguat.
Bitcoin dapat ikut mendapat dorongan karena tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga akan mereda. Ketika likuiditas terlihat lebih longgar, investor biasanya lebih berani mengambil risiko pada aset seperti BTC dan altcoin besar.

Namun, jika inflasi tetap tinggi, narasi pasar dapat berubah menjadi stagflation trade. Artinya, investor menghadapi kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melemah tetapi tekanan harga masih kuat.
Kondisi ini berisiko menekan aset berisiko. Yield obligasi dapat tetap tinggi, dolar AS berpotensi menguat, dan Bitcoin dapat kembali berada di bawah tekanan jual.
Harga minyak juga menjadi faktor penting. Ketegangan AS-Iran dan isu Selat Hormuz sempat memengaruhi harga minyak serta yield obligasi AS. Jika harga energi kembali naik, tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan memperumit keputusan The Fed.
Kevin Warsh Hadapi Ujian Kredibilitas
Data CPI Juli juga menjadi ujian besar bagi Ketua The Fed Kevin Warsh. Warsh resmi menjabat sebagai Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve pada 22 Mei 2026 untuk masa jabatan empat tahun hingga 21 Mei 2030.
Sejak menjabat, Warsh membawa fokus kuat pada pengendalian inflasi. Namun, pasar masih mencermati apakah ia akan benar-benar mengambil langkah hawkish jika data inflasi kembali menguat.
Tantangannya cukup besar karena komite The Fed disebut mulai terbelah. Dalam keputusan sebelumnya, beberapa pejabat The Fed mendukung kenaikan suku bunga, sementara pasar masih mempertimbangkan risiko perlambatan ekonomi.
Jika CPI lebih rendah, Warsh memiliki ruang lebih besar untuk menahan suku bunga dan membangun narasi kebijakan di Jackson Hole. Namun, jika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ia harus memilih antara menaikkan suku bunga atau menghadapi risiko kredibilitas yang melemah.
Situasi politik juga menambah tekanan. Presiden Donald Trump, yang mencalonkan Warsh, mendorong suku bunga lebih rendah. Di sisi lain, pasar akan menguji independensi The Fed jika inflasi tetap tinggi.
Bitcoin Menunggu Arah Makro
Bitcoin saat ini bergerak dalam ketegangan antara harapan pelonggaran kebijakan dan risiko inflasi yang belum selesai. BTC diperdagangkan di sekitar US$64.000-an menjelang rilis CPI, setelah beberapa hari terakhir bergerak sensitif terhadap data makro.
Jika CPI lebih rendah dari ekspektasi, Bitcoin berpeluang mendapat dorongan dari turunnya yield dan melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Skenario ini dapat membantu BTC kembali menguji resistance jangka pendek di area US$65.000 hingga US$68.000.
Jika momentum berlanjut, target US$70.000 dapat kembali menjadi perhatian pasar. Namun, reli tersebut tetap membutuhkan dukungan dari arus dana ETF, stabilitas pasar obligasi, dan sentimen risiko yang membaik.
Sebaliknya, jika CPI lebih panas dari perkiraan, Bitcoin dapat kembali tertekan. Ekspektasi kenaikan suku bunga September akan meningkat, dan investor dapat mengurangi eksposur ke aset berisiko.
Dalam skenario tersebut, BTC berisiko kembali menguji support yang lebih rendah. Level US$60.000 tetap menjadi area penting yang perlu dipertahankan agar struktur pasar tidak memburuk.
Pasar Menunggu Satu Angka
Rilis CPI Juli menjadi momen penting karena pasar saat ini belum memiliki arah yang jelas. Data tenaga kerja menunjukkan ekonomi melemah, tetapi inflasi masih menjadi risiko utama bagi The Fed.
Jika CPI melambat, pasar dapat membaca bahwa ekonomi hanya sedang cooling, bukan cracking. Kondisi ini dapat menguntungkan saham, obligasi, dan kripto secara bersamaan.
Namun, jika CPI panas, tekanan terhadap The Fed akan meningkat. Warsh harus menunjukkan komitmen terhadap inflasi, sementara pasar dapat kembali memperkirakan kenaikan suku bunga pada September.
Untuk Bitcoin, arah jangka pendek akan sangat bergantung pada reaksi pasar terhadap data tersebut. CPI yang lebih rendah dapat memberi peluang pemulihan, sedangkan CPI yang lebih tinggi berpotensi memperpanjang tekanan.
Dengan peluang kebijakan The Fed yang masih sangat ketat, satu angka inflasi pada 12 Agustus dapat menentukan apakah pasar masuk kembali ke mode risk-on atau justru bersiap menghadapi tekanan suku bunga yang lebih tinggi.
Baca juga: Kesulitan Dapat Pinjaman, Peternak Brasil Tokenisasi Sapi sebagai Jaminan
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
-
Event2 days agoEvent Tokocrypto Minggu Ini
-
Market7 days agoPasar Kripto Hari Ini 5 Agustus 2026: Bitcoin Kembali Tembus $64.000
-
Academy4 days agoRiset Kripto 3-7 Agustus 2026: S&P500 ATH, Indonesia Deflasi, Bitcoin Ngeyel
-
Market5 days agoPasar Kripto Hari Ini 7 Agustus 2026: BTC Tertekan Data Tenaga Kerja AS


