Mengenal Garis Moving Average di Dalam Chart

0
478
garis moving average

Moving Average, atau juga disingkat MA, adalah garis yang didapat dari perhitungan harga sebelum hari ini, yang menghitung pergerakan harga rata-rata dari suatu aset dalam suatu rentang waktu tertentu.

Misalnya dalam rentang 5 hari (1 minggu), 20 hari (1 bulan), 60 hari (3 bulan), maupun 120 hari (6 bulan). Jadi dapat dikatakan Moving Average 60 berarti pergerakan harga 3 bulan ke belakang. Berikut adalah beberapa jenis MA yang dapat kita gunakan untuk membantu dalam menganalisa harga.

#1 Simple Moving Average

Simple Moving Average (SMA) adalah aritmatika Moving Average yang dihitung dengan menambahkan harga penutupan aset untuk sejumlah periode waktu dan kemudian dibagi sejumlah periode waktu tersebut.

Dalam SMA, data yang dimasukkan adalah sama bobot. Ini berarti bahwa setiap hari dalam kumpulan data memiliki tingkat kepentingan yang sama dan berbobot sama. Karena setiap hari baru berakhir, titik data yang tertua dibuang dan yang terbaru ditambahkan.

SMA dapat dirumuskan sebagai berikut:

rumus simple moving average

Mari kita ambil contoh kasus, misalnya harga sebuah aset dalam 15 hari berturut-turut adalah: 20, 24, 22, 21, 20, 18, 17, 22, 26, 30, 31, 34, 33, 30 dan 28. Dengan perhitungan rumus di atas, maka kita akan mendapatkan nilai SMA-nya sebagai berikut:

Hari Closing SMA 5
1 20
2 24
3 22
4 21
5 20 21,4
6 18 21
7 17 19,6
8 22 19,6
9 26 20,6
10 30 22,6
11 31 25,2
12 34 28,6
13 33 30,8
14 30 31,6
15 28 31,2

 

Dengan mengetahui nilai SMA-nya, maka dapat dibuat grafik sebagai berikut:

grafik nilai simple moving average

#2 Weighted Moving Average

WMA kurang lebih memiliki kemiripan dengan SMA, kecuali dalam hal memberikan bobot pada data yang terbaru. Sama seperti SMA, WMA juga setiap harinya membuang harga penutupan yang tertua dan menambahkan yang terbaru.

WMA mengalikan faktor untuk memberikan bobot yang berbeda untuk data pada waktu yang berbeda. Dalam sejumlah (n) hari, WMA hari terbaru memiliki berat (n), (n) terbaru kedua – 1, dll, hingga bobotnya ke satu.

WMA dapat dirumuskan sebagai berikut:

rumus weighted moving average

Misalnya dengan contoh yang sama seperti simulasi SMA di atas, dengan perhitungan rumus WMA di atas, maka kita akan mendapatkan nilai WMA seperti tabel berikut:

Hari Closing SMA 5 WMA 5
1 20
2 24
3 22
4 21
5 20 21,4 21,2
6 18 21 20,1
7 17 19,6 18,7
8 22 19,6 19,5
9 26 20,6 21,7
10 30 22,6 24,8
11 31 25,2 27,6
12 34 28,6 30,5
13 33 30,8 32
14 30 31,6 31,7
15 28 31,2 30,5

 

Dengan mengetahui nilai WMA-nya, maka dapat dibuat grafik sebagai berikut:

grafik nilai weighted moving average

#3 Exponential Moving Average

Exponential Moving Average (EMA) adalah jenis MA yang menyaring data secara infinite, dimana data-data lama tidak ada yang dibuang melainkan hanya dikurangi bobotnya secara eksponensial, namun bobotnya tidak sampai nol.

EMA memiliki kemiripan dengan WMA dalam hal membedakan bobot data antara data terdahulu dan yang terbaru, dimana dengan perhitungan ini, EMA dan WMA sama-sama lebih sensitif dengan pergerakan harga saham dibandingkan dengan SMA.

EMA dapat dirumuskan sebagai berikut:

rumus exponential moving average

Misalkan dengan contoh yang sama seperti simulasi SMA di atas, dengan perhitungan rumus EMA di atas, maka kita akan mendapatkan nilai EMA seperti tabel berikut:

Hari Closing SMA 5 WMA 5 EMA 5
1 20
2 24
3 22
4 21
5 20 21,4 21,2 17
6 18 21 20,1 17,3
7 17 19,6 18,7 17,2
8 22 19,6 19,5 18,8
9 26 20,6 21,7 21,2
10 30 22,6 24,8 24,1
11 31 25,2 27,6 26,4
12 34 28,6 30,5 28,9
13 33 30,8 32 30,3
14 30 31,6 31,7 30,2
15 28 31,2 30,5 29,5

 

Dengan mengetahui nilai EMA-nya, maka dapat dibuat grafik sebagai berikut:

grafik nilai exponential moving average