Inflasi Amerika dan Beberapa Sentimen Ini Bantu Jaga Bitcoin di Atas Rp500 Juta

0
284
inflasi amerika

Akhir pekan ini Bitcoin terlihat berhasil terjaga di atas Rp497 Juta dan sedang bergerak di atas Rp500 Juta hingga pembukaan perdagangan hari ini.

Pergerakan ini nampaknya dibantu oleh beberapa sentimen positif yang salah satunya baru saja terjadi kemarin, yaitu publikasi data perekonomian Amerika.

Inflasi Amerika Naik Tinggi

Salah satu yang menarik perhatian publik dan membawa sentimen positif untuk Bitcoin dan aset berisiko lainnya dalam jangka panjang adalah inflasi.

Amerika baru saja mempublikasi data inflasinya kemarin yang nampaknya mengalami peningkatan lebih cepat dari antisipasi pasar.

Data inflasi yang diambil dari Consumer Price Index atau Indeks Harga Konsumen (IHK) pada laporan 10 Juni 2021 menyatakan bahwa inflasi naik dalam tempo yang cepat.

Nampaknya kecepatan peningkatan inflasi ini adalah dampak dari pencetakan uang Dolar Amerika yang terjadi dalam tempo yang juga cepat sejak pandemi dimulai.

Hasilnya saat ini angka inflasi dikabarkan sedang berada pada tingkat setinggi Tahun 2008, saat krisis keuangan terjadi.

grafik indeks amerika
Grafik Indeks Harga Konsumen Amerika 2001 – 2021

Angka inflasi ini menunjukkan angka tertinggi dalam 13 Tahun terakhir, yang juga menurut mayoritas analis adalah satu hal yang di luar ekspektasi pasar.

Saat ini nampaknya Dolar Amerika akan terus kehilangan nilainya akibat di Bulan April sudah turun 0,8% dan di Bulan Mei turun 0,6% menurut data IHK.

Inflasi yang naik signifikan ini membuat mayoritas perusahaan terutama yang memiliki dana simpanan besar, mulai berpikir untuk mencari alternatif.

Alternatif yang dimaksud adalah alternatif dalam penyimpanan kekayaannya akibat inflasi membuat kekayaannya dalam Dolar Amerika terus menurun.

Baca Juga: Bank Sentral Amerika Mulai Dukung Crypto, Tapi Ada Satu Syarat

Hal tersebut dapat membuka jalan untuk aset berisiko menjadi tempat penyimpanan kekayaan, seperti Bitcoin yang sedang mengalami ketenaran saat ini.

Sebab, menurut analis walau naik dengan cepat, data IHK ini masih relatif rendah dari target awal inflasi bank sentral, sehingga masih mungkin terus naik.

Namun kondisi ini juga membuka kemungkinan untuk bank sentral mulai melakukan tapering atau mengurangi jumlah uang beredar untuk menormalisasi apresiasi inflasi.

Tapi melihat hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan instan, nampaknya aset berisiko masih akan terus berjaya dengan inflasi yang tinggi.

Beberapa Sentimen Positif Lain Bantu Bitcoin Bertahan

Sentimen positif lain untuk Bitcoin nampaknya datang dari kondisi ketenagakerjaan Amerika yang masih terlihat lemah.

Menurut mayoritas analis saat ini kondisi upah untuk tenaga kerja sedang berada di kondisi lemah.

Jika disesuaikan inflasi, tenaga kerja justru semakin berkurang upahnya.

Kondisi ini adalah kondisi yang terjadi di sekitar 1970, menandakan masih lemahnya daya beli masyarakat, membuka jalan untuk kebijakan ekspansif terus berlanjut.

Selain itu, dari kondisi adopsi Bitcoin sendiri di luar faktor makroekonomi, nampaknya terdapat beberapa sentimen positif lainnya.

Sentimen positif pertama datang dari El Salvador dan beberapa negara Amerika Latin lainnya yang terlihat dalam rencana mengadopsi Bitcoin.

El Salvador sendiri saat ini sudah terlihat dekat dengan peresmian Bitcoin.

Namun terdapat kabar yang beredar potensi diskusi dengan IMF atau International Monetary Fund.

Namun walau IMF memberikan beberapa kekhawatiran tentang adopsi ini, kekhawatiran tersebut nampaknya bukan sentimen negatif.

Hal ini disebabkan IMF tidak memiliki wewenang untuk menghentikan adopsi tersebut.

Selain itu, saat pandemi, IMF juga belum terlihat membantu perekonomian El Salvador.

Bantuan yang sebelumnya diharapkan melalui dana atau perbaikan infrastruktur dikabarkan belum datang. Tapi saat adopsi Bitcoin terjadi, tanggapan IMF terlihat cepat.

Sehingga melihat dari kondisi tersebut, nampaknya dampak kekhawatiran IMF belum akan berdampak signifikan. Namun signifikansi masih bergantung pada Presiden El Salvador.

Baca Juga: Sah! Bitcoin Digunakan Sebagai Alat Tukar di El Savador 

Selain itu, sentimen positif lainnya nampak berasal dari MicroStrategy dan Victory Capital yang bersiap membeli Bitcoin dalam jumlah cukup besar.

Dikabarkan bahwa MicroStrategy dalam tahap pembelian Bitcoin dengan surat utang senilai $500 Juta atau Rp7,09 Triliun.

Selain itu, dikabarkan bahwa Victory Capital akan membeli produk investasi berbasis crypto dengan mayoritas alokasi menuju ke Bitcoin  dan Ethereum.

Walau belum jelas jumlahnya, gambaran besar dampak Victory Capital dapat dilihat dari dana yang dikelolanya yaitu $157 Miliar atau Rp2.228,3 Triliun.

Pasar Derivatif Mendukung Apresiasi

Kondisi ini nampaknya berhasil membentuk sentimen positif di sekitar pasar crypto, dan terlihat juga berdampak pada pasar derivatif.

Grafik Open Interest Kontrak Options Bitcoin

Dikabarkan bahwa menjelang kedaluwarsa kontrak options 11 Juni 2021, open interest optons atau jumlah posisi kontrak options yang terbuka terlihat positif.

Terlihat dari grafik di atas bahwa trader percaya terhadap apresiasi Bitcoin akibat mayoritas kontrak options terbuka adalah call atau beli.

Kondisi open interest umumnya dapat dijadikan salah satu tanda untuk melihat kondisi pergerakan harga dan sentimen pasar.

Open interest bersifat positif saat jumlahnya kontrak options yang terbuka mengalami kenaikan dalam kondisi beli bersama harga yang naik, terdapat tanda potensi apresiasi.

Potensi apresiasi yang dimaksud adalah kenaikan harga pada aset nyatanya dan bukan hanya pada kontrak derivatifnya.

Melihat kondisi tersebut adalah yang terjadi saat ini, kemungkinan besar Bitcoin masih memiliki harapan untuk mengalami apresiasi kembali.

Namun, untuk saat ini Bitcoin masih terlihat berkonsolidasi. Untuk naik harus menembus batas atas pada sekitar Rp570 Juta hingga Rp600 Juta.