Connect with us

Blockchain

Apa itu Mining Pool dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Published

on

Ilustrasi mining Bitcoin.

Ketika kamu mulai memasuki dunia kripto, pasti akan menemukan istilah mining pool. Bagi seorang investor atau trader pemula, istilah ini mungkin masih terasa asing di telinga. Padahal, istilah ini nantinya akan bersahabat baik dengan mereka. Namun, hal tersebut merupakan hal yang wajar terjadi pada pemula. 

Untuk bisa menjalankan investasi kripto dengan baik, maka penting bagi kamu mengenal mining pool, meskipun pada akhirnya akan memilih solo mining dan menanggung risikonya sendirian.

Tidak usah merasa bingung, jika belum mengenal apa itu mining pool, karena di sini akan kami bahas secara lengkap.

Apa itu Mining Pool?

Mining pool merupakan sebuah kelompok yang terdiri atas penambang cryptocurrency yang akan menggabungkan sumber daya komputasi melalui jaringan secara bersama-sama. Miners atau penampang ini akan menyumbangkan kekuatan mereka dalam upaya menemukan blok baru. 

Ilustrasi mining pool cryptocurrency.

Ilustrasi mining pool cryptocurrency.

Baca juga: Tokocrypto Market Signal 2 Februari 2022: Apa Saja Kripto yang Bullish Minggu Ini?

Jika upaya para miners ini berhasil, mereka akan mendapatkan hadiah atau rewards berupa token kripto yang merupakan hasil penambangan. Hasil tersebut kemudian akan dibagikan kepada individu yang turut berkontribusi sesuai dengan proporsinya.

Cara Kerja Mining Pool

Setelah prosedur penambangan cryptocurrency ini berhasil diselesaikan oleh miners, mereka akan mendapatkan hadiah yang biasanya berbentuk token kripto yang serupa. Maksudnya adalah jika mereka menambang Bitcoin, mereka akan mendapatkan BTC juga.

Dalam sebuah mining pool, biasanya ada sebuah kesepakatan yang dibuat oleh penambang. Persyaratan tersebut yang akan menentukan porsi pembagian hasil tambang. Selain itu hasil tambang juga akan dibagi berdasarkan produksi bukti kerja yang sah.

Dengan begitu, siapa saja yang ingin mendapatkan keuntungan dari penambangan kripto ini maka mereka memiliki dua pilihan, yaitu menambangnya sendiri atau solo mining atau memilih bergabung dengan mining pool untuk bisa meningkatkan hasil hashing.

Kelebihan dan Kekurangan Mining Pool

Mining pool memiliki kelebihan tersendiri, di mana beban kerja yang ditanggung akan menjadi lebih ringan karena dibantu oleh kelompok. Sehingga tingkat kesulitan dari hardware atau software yang ada bisa dipangkas bersama.

Mining pool merupakan gabungan dari beberapa penambang, maka kemungkinan untuk bisa menemukan blok baru akan semakin besar. Sehingga kemungkinan untuk mencapai keberhasilan lebih dekat dan bisa segera mendapatkan keuntungan.

Ilustrasi penambang kripto

Ilustrasi penambang kripto.

Baca juga: Tips Aman Investasi Aset Kripto yang Bisa Kamu Ikuti

Di balik kelebihan tentunya pasti ada kekurangan. Hasil keuntungan mining pool yang didapatkan akan dibagi-bagi berdasarkan persyaratan yang telah ditentukan. Sehingga kemungkinan cuan yang didapatkan akan lebih rendah dibanding solo mining.

Metode Pembagian Mining Pool

Ada banyak sistem pembagian yang berbeda mining pool dalam cryptocurrency. Namun, ada dua protokol yang paling umum digunakan untuk bagi hasil penambangan tersebut diantaranya sebagai berikut:

Pay-Per-Share

Sistem yang satu ini beroperasi dengan membagi hasil pada penambang berdasarkan kontribusinya. Kumpulan akan mendapatkan pembayaran instan dan tidak bergantung pada kapan blok ditemukan.

Seorang penambang yang ikut berkontribusi dalam mining pool dan menggunakan sistem bersama bisa ikut bertukar kripto dan mendapatkan pembayaran proporsional kapan saja.

Peer-to-Peer

Sistem peer-to-peer memiliki tujuan untuk mencegah adanya struktur kumpulan terpusat. Dengan begitu, mereka dapat mengintegrasikan blockchain terpisah yang berkaitan dengan kelompok itu sendiri, kemudian dirancang untuk mencegah kecurangan dan kegagalan akibat masalah sentral.

Itulah pembahasan lengkap mengenai mining pool, mulai dari pengertian, cara kerja, kelebihan dan kekurangannya, hingga sistem pembagian hasilnya. Semoga bermanfaat!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Blockchain

Jepang Bakal Uji Coba CBDC Yen Digital di Tahun 2023, Indonesia?

Published

on

Jepang Bakal Uji Coba CBDC Yen Digital di Tahun 2023.

Bank sentral Jepang telah merencanakan uji coba central bank digital currency (CBDC) dengan tiga bank besar pada tahun 2023. Peluncuran percontohan akan sejalan dengan eksperimen awal CBDC sebelumnya selama satu tahun yang akan berakhir pada April 2023.

Uji coba ini akan memeriksa apakah infrastruktur beroperasi dengan baik untuk mengantisipasi bencana alam dan gangguan tanpa koneksi internet. Eksperimen ini juga akan mengeksplorasi bagaimana setoran dan penarikan dapat bekerja dengan Yen Digital.

Jika semua berjalan lancar sesuai rencana, Bank sentral Jepang dapat melanjutkan dan merilis CBDC Yen Digital pada tahun 2026.

Ekplorasi CBDC

Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).
Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).

Baca juga: Penerbitan CBDC Semakin Dekat, Australia Luncurkan Proyek Pilot

Sebelumnya, Gubernur Bank of Japan mengatakan pada Mei 2022 bahwa, meskipun Bank of Japan belum memutuskan apakah akan meluncurkan CBDC, namun pihaknya akan terus mengembangkan infrastruktur mata uang digital yang aman dan mulus di negara tersebut.

CBDC adalah versi digital mata uang fiat suatu negara—seperti dolar AS atau euro yang didukung oleh bank sentral. CBDC adalah aset digital, tetapi berbeda dari Bitcoin, Ethereum, atau Dogecoin.

China jauh di depan permainan — beberapa warganya saat ini sudah dapat berbelanja dengan Yuan Digital. Sementara itu, Bahama meluncurkan CBDC sendiri pada tahun 2020.

CBDC di Indonesia

Bank Indonesia terus mengembangkan CBDC atau yang akan dikenal sebagai Rupiah Digital. BI juga bersiap mengeluarkan Whitepaper pengembangan CBDC di akhir tahun 2022.

Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).
Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).

Baca juga: CBDC dan Aset Kripto Bisa Tingkatkan Inklusi Keuangan di Indonesia

Whitepaper pengembangan digital rupiah berisi laporan mengenai latar belakang dan rencana pengembangan CBDC. Penerbitan Whitepaper ini merupakan sebuah bentuk komunikasi kepada publik terkait rencana pengembangan Rupiah Digital serta untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak.

BI melihat pertumbuhan aset kripto dan CBDC memiliki potensi untuk mengembangkan inklusi dan efisiensi dalam sistem keuangan walaupun dengan berbagai risiko yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi perekonomian.

Sebagian besar bank sentral di dunia terdorong untuk mengembangkan CBDC yang bertujuan mendukung mandat penguatan kebijakan moneter, tidak serta merta hanya menjaga stabilitas keuangan, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan ketahanan sistem pembayaran.

Continue Reading

Blockchain

Binus University Jadi Kampus Indonesia Pertama yang Hadir di Metaverse

Published

on

Binus University jadi kampus Indonesia pertama yang hadir di metaverse. Foto: Binus University.

Binus University bakal menjadi kampus pertama Indonesia yang hadir di metaverse. Konsep teknologi dunia virtual kini sangat menarik untuk dikembangkan pada sektor pendidikan.

Dilansir dari situs resminya, Binus University mengambil langkah besar dalam mendukung metaverse, dibuktikan dengan terjalinnya kolaborasi strategis dengan PT WIR Asia Tbk (WIR Group) yang merupakan perusahaan pengembang teknologi berbasis AR/VR karya anak bangsa, untuk menjadi salah satu bagian dalam pembangunan Nusameta.

“Dalam waktu dekat, prototype kita melalui BINUSMAYA versi 9 akan berbentuk Metaverse dan akan kita jalankan bersama dengan Nusameta. Artinya memang proses pembelajaran berbasis gamification tadi ke depan menjadi hal yang wajib dan itu menjadi tuntutan zamannya generasi muda sekarang,” kata Prof. Meyliana.

Teknologi Metaverse

Binus University jadi kampus Indonesia pertama yang hadir di metaverse. Foto: Binus University.
Binus University jadi kampus Indonesia pertama yang hadir di metaverse. Foto: Binus University.

Baca juga: Hong Kong Kembangkan Kampus Metaverse Pertama, Ijazah NFT

Prof. Meyliana menjelaskan pihaknya akan terus mengembangkan kurikulum sesuai dengan kemajuan teknologi metaverse untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul. Binus University memiliki visi untuk menjadi Perguruan Tinggi Indonesia berkelas dunia yang dapat membina dan memberdayakan masyarakat melalui pendidikan.

Binus University bersama WIR Group membangun Nusameta, yang merupakan ekosistem metaverse yang menampilkan teknologi AR, VR dan AI di Indonesia diharapkan dapat mempermudah pengguna untuk merasakan pengalaman unik yang imersif, menggali potensi dan berbagai benefit.

Stephen Ng, Chief Executive Officer Nusameta, anak perusahaan WIR Group, menyatakan apreasiasinya terhadap Binus yang telah memilih WIR Group sebagai mitra dalam mengembangkan Eduverse.

“Masuknya BINUS dalam dunia web3 dan metaverse menambah daftar panjang sektor pendidikan, riset, dan penelitian yang memanfaatkan teknologi web3 dan metaverse untuk pengembangan berbagai lini dalam sistem pendidikan di kampus, serta kemampuan sumber daya manusia,” ujar Stephen.

Majukan Dunia Pendidikan

Kolaborasi Binus University dan WIR Group hadirkan kampus kelas dunia. Foto: Binus University.
Kolaborasi Binus University dan WIR Group hadirkan kampus kelas dunia. Foto: Binus University.

Baca juga: Kenal Jagat Nusantara Metaverse IKN yang Diresmikan Presiden Jokowi

Binus merupakan kampus pertama di Indonesia yang telah hadir di dunia virtual Nusameta yang telah di launching pada acara G20 kemarin. Harapannya dengan hadirnya Binus di Nusameta dapat memajukan dunia pendidikan ke depannya.

Kehadiran Binus University di Nusameta ini menampilkan kehidupan mahasiswa di kampus Binus. Avatar-avatar yang diciptakan bisa berinteraksi. Binus metaverse ini dirancang oleh tim Binus terdiri dari 10 dosen dan 15 mahasiswa. Adapun target utama Binus di ruang virtual ini adalah para mahasiswa Binus, alumni, dosen dan diperluas ke masyarakat.

Pengembang teknologi digital berbasis AR/VR memiliki kapabilitas yang kuat, selain karena rekam jejaknya dalam menghadirkan teknologi metaverse di berbagai negara di dunia telah terbukti, juga telah mendapat pengakuan dan dukungan dari pemerintah dalam mengembangkan Metaverse Indonesia.

Continue Reading

Blockchain

JP Morgan Resmi Daftarkan Merek Dagang untuk Layanan Wallet Kripto

Published

on

JPMorgan: Kasus FTX Buka Regulasi Aset Kripto Dipercepat.

JP Morgan telah mendaftarkan merek dagang untuk wallet atau dompet digital dan layanan pemrosesan aset kripto terkait. Merek dagang tidak secara eksklusif berlaku untuk kripto, tetapi juga dapat diterapkan pada layanan keuangan lainnya.

Menurut pengajuan ke U.S. Patent and Trademark Office, JP Morgan mengajukan merek dagang untuk “JP Morgan Wallet” pada Juli 2020. Kemudian, pengajuan akhirnya disetujui pada 15 November 2022.

Dokumen merek dagang menunjukkan bahwa itu dapat diterapkan pada layanan online, termasuk pemrosesan pembayaran aset kripto, transfer elektronik dan pertukaran mata uang virtual.

Merek dagang tidak secara eksklusif berlaku untuk layanan kripto. Ini juga dapat diterapkan untuk layanan keuangan lainnya, termasuk rekening giro virtual, pembayaran Automated Clearing House (ACH), pemrosesan cek elektronik, dan pembayaran tagihan.

Terobosan JP Morgan

menyimpan aset kripto di wallet kripto
lustrasi crypto wallet.

Baca juga: Genesis Terancam Bangkrut Potensi Kirim Bitcoin ke Titik Rendah Baru

Meskipun JP Morgan belum menerapkan merek dagang ke crypto wallet yang lengkap, ia telah membuat beberapa terobosan ke dalam industri blockchain selama beberapa bulan terakhir.

Pada tanggal 2 November, perusahaan melakukan pertukaran mata uang internasional menggunakan blockchain Polygon. Transaksi tersebut dilakukan dengan dua bank asal Singapura, DBS Bank dan SBI Digital Asset Holdings.

Selain itu, JP Morgan bermitra dengan Visa pada 11 Oktober lalu. Kemitraan tersebut bertujuan untuk mengintegrasikan produk blockchain JP Morgans Liink dengan jaringan B2B Connect Visa.

Kuat di Industri Kripto

JP Morgan juga diketahui telah melakukan transaksi on-chain yang melibatkan penyelesaian aset BlackRock, membuka ruang di dunia virtual Decentraland berbasis blockchain, dan mengomentari The Merge Ethereum baru-baru ini.

Raksasa perbankan terus mengoperasikan berbagai lini produk terkait aset kripto, termasuk jaringan blockchain Onyx dan stablecoin pribadinya, JPM Coin.

Perkembangan tersebut, meski tidak terkait langsung dengan berita hari ini, akan menempatkan bank pada posisi yang kuat untuk memperluas layanan kripto di bawah merek dompet barunya.

Baca juga: Bappebti Tinjau Ulang Daftar Aset Kripto Legal di Indonesia

Continue Reading

Popular