Connect with us

Blockchain

Daftar Badan Amal yang Buka Donasi Kripto, Ada Pelestarian Orangutan

Published

on

Ilustrasi orangutan dalam perawatan tim Orangutan Outreach.

Hadirnya mata uang kripto saat ini memang menjadi sorotan masyarakat. Di balik mengenai pro kontranya informasi mengenai cryptocurrency, ternyata ada fakta mengejutkan bahwa ternyata kini kripto sudah bisa digunakan untuk berdonasi.

Bahkan, sudah ada beberapa lembaga yang bersedia menampung donasi mata uang kripto ini untuk kemudian disalurkan pada target yang membutuhkannya. Dalam laporan perusahaan, The Giving Block, setidaknya ada enam badan amal yang mendapat manfaat dari mata uang kripto, karena volume donasi keseluruhan pada platformnya melonjak lebih dari 1.000% dari tahun ke tahun pada tahun 2021. 

Berikut adalah keenam badan amal di dunia yang terima donasi mata uang kripto berdasarkan laporan Cointelegraph.

She’s the First

Ilustrasi organisasi She's the First.

Ilustrasi organisasi She’s the First.

She’s the First, organisasi non-profit yang fokus pada pemberdayaan perempuan telah membuka donasi yang menerima mata uang digital atau kripto. Hasil penggalangan dana tersebut dalam mengirimkan lebih dari 1.400 makanan, air, dan perlengkapan menstruasi, serta menghubungkan lebih dari 6.000 remaja perempuan dengan pendamping atau mentor dari seluruh dunia untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Pada tahun fiskal yang paling menantang dalam karir saya sebagai CEO nirlaba, saya menyadari bahwa saya harus menganggap serius crypto. Jika tidak, kapal akan berlayar tanpa kita dan, dengan itu, mengambil sumber daya yang dapat membantu gadis-gadis di dunia untuk mengakses pendidikan dan membuka impian mereka. Donasi kripto ini adalah hadiah terbesar kedua kami tahun ini, benar-benar mengubah pandangan saya tentang mata uang kripto,” kata Tammy Tibbetts, salah satu pendiri dan CEO She’s the First.

Baca juga: Tips Cari Cuan Investasi Aset Kripto di Kala Market Anjlok

CARE

Ilustrasi organisasi CARE.

Ilustrasi organisasi CARE.

CARE merupakan salah satu organisasi nirlaba tertua di dunia yang konsisten memerangi kemiskinan global. Mereka kini melihat sumbangan crypto meningkat dari sekitar 7.000 dolar AS pada tahun 2020 menjadi lebih dari 330.000 dolar AS pada tahun 2021.

Salah satu kampanye, paket NFT CARE untuk Afghanistan, bahkan mengumpulkan lebih dari 200.000 dolar AS dalam hitungan minggu untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan bantuan untuk keluarga di negara tersebut.

Orangutan Outreach

Ilustrasi organisasi Orangutan Outreach bikin lelang NFT.

Ilustrasi organisasi Orangutan Outreach bikin lelang NFT.

Organisasi Orangutan Outreach memilik program utama pelestarian orangutan, dan mampu mengumpulkan sumbangan crypto, lebih dari seluruh anggaran pendapatan mereka pada 2020 lalu. “Kami akan memasukkan crypto ke dalam semua program yang kami lakukan untuk bergerak maju, membuatnya lebih besar sehingga kami dapat melakukan lebih banyak pekerjaan yang baik,” kata Richard Zimmerman, Direktur Eksekutif Orangutan Outreach.

Tim Organtuan Outreach sendiri telah merawat orangutan yatim piatu dan terlantar di cagar alam yang dibangun khusus dengan tujuan akhir untuk melepaskan mereka kembali ke alam liar.

Baca juga: Daftar Kripto Diklaim Punya Fundamental yang Aman

Trees for the Future

Ilustrasi organisasi Trees for the Future.

Ilustrasi organisasi Trees for the Future.

Berkat kampanye donasi NFT, pertanian regeneratif dari lembaga nonprofit, Trees for the Future berhasil menanam 2,3 juta pohon yang diperkirakan menyerap lebih dari 80.000 metrik ton karbon dioksida selama 20 tahun.

“Kami dapat mengubah kehidupan 5.000 petani dan keluarga mereka dengan memberikan pelatihan dan memungkinkan mereka memiliki pekerjaan dan ketahanan pangan,” kata Alexa Castellano, rekanan di Trees for the Future.

University of Arizona

Ilustasi University of Arizona.

Ilustasi University of Arizona.

Lembaga pendidikan di University of Arizona mendapat lebih dari 20.000 dolar AS per bulan dalam volume sumbangan kripto. Uang tersebut digunakan untuk mendanai beasiswa, kegiatan mahasiswa, atletik, penelitian dan berbagai program akademik.

VIVE Church

Ilustrasi gereja VIVE Church.

Ilustrasi gereja VIVE Church.

Vive Church, komunitas gereja global dengan lokasi di seluruh Amerika Serikat dan Uni Eropa, berhasil mengumpulkan lebih dari 300.000 dolar AS dalam bentuk kripto untuk membayar uang muka gedung seluas 80.000 kaki persegi di Palo Alto untuk dapat menampung 2.000 orang di auditoriumnya. 

Crypto adalah satu-satunya kelas aset yang tampaknya sangat disukai orang. Saya terus-menerus menerima panggilan telepon dan SMS tentangnya dari para donatur. Saya tidak banyak berharap dengan hal itu. Tapi saya percaya bahwa itu adalah salah satu cara untuk memberi kemurahan hati,” kata Aaron Williams, direktur keuangan Vive Church.

Baca juga: 5 Software Tambang Kripto Terbaik

Blockchain

BPS Pakai Teknologi Blockchain Olah Data Penduduk Indonesia

Published

on

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan menggunakan teknologi blockchain dalam pengolahan data penduduk Indonesia. BPS akan menerapkan blockchain pada platform digital data Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) sebagai bagian dari reformasi birokrasi BPS pada 2023.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono, mengatakan penggunaan blockchain akan menjaga akurasi dan akuntabilitas data. BPS juga berupaya membangun Regsosek yang mengintegrasikan seluruh data ke dalam sistem reformasi perlindungan sosial. Setiap gugus data yang saling terintegrasi dapat dibagi-pakai oleh kementerian/lembaga (k/l) hingga pemerintah daerah (pemda).

“Kami akan gunakan teknologi blockchain supaya akurasi data, akuntabilitas data, dan sejarah data tercatat dengan baik sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Jadi ini adalah sekaligus merupakan tugas BPS dalam perpres 132 2022 tentang Arsitektur SPBE Nasional,” kata Margo dikutip Antara, Rabu (1/2).

Integrasi Data

Ilustrasi blockchain.
Ilustrasi blockchain.

Baca juga: BI Pastikan Rupiah Digital Pakai Teknologi Blockchain, Kapan Dirilis?

Margo berharap Regsosek tidak hanya menjadi gugus data yang baru, tanpa ada integrasi dengan sistem data yang lain. Untuk melakukan integrasi, setiap gugus data harus terkoneksi dengan data Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

Harapannya, sistem data yang menggunakan teknologi blockchain itu terhubung pula dengan gugus data lainnya seperti data perkawinan dan perceraian, serta data lain sebagainya.

Dengan Regsosek, BPS tengah berupaya mendapatkan data terkait kondisi infrastruktur dasar kebutuhan masyarakat, dan terakhir menyangkut kondisi geografis dan kemudahan akses wilayah. Jika dapat diketahui bisa memberikan treatment dan kebijakan sesuai dengan kapabilitas dan kebutuhan masing-masing daerah.

“Jadi melihat si miskin ini spektrumnya 360 derajat, bisa dari kapabilitas individu dan keluarga, kondisi infrastruktur dasar yang menjadi kebutuhan penyangga masyarakat, dan bisa menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dari kondisi geografis dan kemudahan akses wilayah. Dengan melihat data statistik 360 derajat (statistical dataverse 360°), maka kita bisa melihat program yang cocok di setiap wilayah itu apa (mengingat antar daerah memiliki karakteristik yang berbeda),” jelas Kepala BPS.

Pemerintah Indonesia dan Blockchain

Ilustrasi CBDC Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.
Ilustrasi CBDC Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.

Baca juga: Elon Musk Ungkap Fitur Pembayaran Kripto di Twitter, Harga DOGE Naik?

BPS bukan menjadi lembaga pemerintahan yang mulai mengadopsi teknologi blockchain. Sebelumnya yang ramai diberitakan adalah Bank Indonesia yang tengah merancang Rupiah Digital dengan blockchain atau distributed ledger technology (DLT).

Bank Indonesia semakin dekat dengan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau yang bakal dikenal sebagai Rupiah Digital. Salah satu kabar terbaru adalah BI akan menggunakan teknologi blockchain untuk proses distribusinya.

Dikutip Antara, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pihaknya kini sedang dalam proses seleksi pemain terbesar di perbankan atau perusahaan sistem pembayaran, yang akan ditunjuk atau diamanatkan untuk mendistribusikan rupiah digital.

“Platform distribusinya nanti akan menggunakan Distributed Ledger Technology (DLT) blockchain dan perbankan yang ditunjuk akan memiliki dua akun, akun digital dan akun standar. Hanya bank yang bisa menggunakan DLT,” kata Perry.

Continue Reading

Blockchain

Mastercard & Polygon Kolaborasi Bikin Program Bantu Artis Eksis di Web3

Published

on

POLAND - Ilustrasi Mastercard.. Foto: Omar Marques/SOPA Images/LightRocket via Getty Images.

Mastercard telah bermitra dengan Polygon MATIC untuk memperkenalkan artis atau konten kreator baru ke dalam teknologi Web3. Program akselerator ini, akan mengajari lima artis pendatang baru yang berbeda, termasuk penyanyi, musisi, DJ, dan produser, untuk menggunakan teknologi blockchain untuk mengembangkan brand dan keterlibatan penggemar mereka.

Ada berbagai keuntungan yang bisa didapatkan para artis tersebut dengan memanfaatkan blokchain, seperti efisiensi biaya, mencetak koleksi NFT sendiri untuk menumbuhkan keterlibatan penggemar online mereka, dan hadir dalam konser berbasis metaverse dan lainnya.

Web3 memiliki potensi untuk memberdayakan artis pendatang baru yang dapat menumbuhkan basis penggemar, mendapatkan penghasilan, dan memperkenalkan media baru untuk ekspresi diri dan koneksi dengan cara mereka sendiri,” kata Ryan Watts, CEO Polygon Studios dikutip TechCrunch.

Metaverse Fashion Week akan kembali hadir di tahun 2023.
Metaverse Fashion Week akan kembali hadir di tahun 2023.

Baca juga: Solana dan Cardano Naik 21% Raih Kenaikan Tertinggi Bulanan

Web3 dan Musik

Tidak hanya dengan Polygon, hubungan antara Mastercard dan musik telah berjalan lama, karena perusahaan saat ini menjadi sponsor resmi Grammy dan bahkan mencoba-coba produksi musik, meluncurkan rekamannya sendiri pada tahun 2022. Pentingnya teknologi terdesentralisasi untuk Mastercard sudah jelas, karena berusaha untuk memberdayakan artis baru dalam ekosistem untuk mencapai relevansinya sendiri.

“Musik adalah hasrat universal, menginspirasi kita, menggerakkan kita, dan menyatukan kita; Namun, rasanya mustahil bagi seniman pemula untuk menerobos masuk,” kata Raja Rajamannar, CMO Mastercard, memperkuat relevansi teknologi ini untuk perkembangan artis masa kini.

Lima artis yang akan mengikuti program ini masih belum terpilih, mereka masih dapat mendaftar dan menunjukan karyanya. Program ini dijadwalkan akan dimulai pada musim semi 2023, dan penggemar juga akan dapat bergabung dengan para penampil ini, bekerja sama untuk mempelajari cara kerja teknologi blockchain dan web3.

Baca juga: Lido DAO Naik 57% Dalam Seminggu, Bagaimana Prospek ke Depan?

Continue Reading

Metaverse

McKinsey: Metaverse Ciptakan Potensi Ekonomi US$ 5 T di Tahun 2030

Published

on

Ilustrasi metaverse

Metaverse menjadi topik yang paling dibahas pada tahun 2022 lalu, karena memiliki potensi ekonomi besar di masa depan. Namun ternyata, seiring dengan lesunya pasar kripto, perkembangan metaverse juga mengalami pelambatan bahkan kerugian.

Banyak orang, termasuk CEO Meta Inc., Mark Zuckerberg, tetap percaya metaverse masih berada di posisi yang baik untuk jangka panjang. Mempertimbangkan banyak sekali kasus penggunaan yang berpusat pada konsumen dan bisnis yang dapat dipenuhi oleh metaverse, laporan McKinsey & Company menyoroti potensi teknologi untuk menghasilkan nilai hingga US$ 5 triliun pada tahun 2030.

Agar metaverse dapat mencapai potensi penuhnya, laporan tersebut menyoroti kebutuhan akan empat pendukung teknologi — perangkat (AR/VR, sensors, haptics, dan peripherals, interoperabilitas dan standar terbuka, memfasilitasi platform dan alat pengembangan.

Fokus pada Manusia

Laporan McKinsey menyebutkan metaverse kemungkinan menciptakan nilai US$ 5 triliun pada tahun 2030. Sumber: McKinsey.
Laporan McKinsey menyebutkan metaverse kemungkinan menciptakan nilai US$ 5 triliun pada tahun 2030. Sumber: McKinsey.

Baca juga: Kenal Aset Kripto DODO, Fundamental Protokol Blockchain DeFi Optimal

Kesuksesan metaverse ditimbang dengan fokus yang lebih besar untuk memaksimalkan pengalaman manusia yang bertujuan memberikan pengalaman positif bagi konsumen, pengguna akhir, dan masyarakat.

Sampai saat ini, inisiatif metaverse masih seputar pemasaran, pembelajaran, dan pertemuan virtual dan telah melihat tingkat adopsi yang tinggi di berbagai industri. Namun, mayoritas inisiatif di sekitar metaverse telah melihat adopsi rendah-menengah, menurut survei April 2022 terhadap eksekutif senior yang dilakukan oleh McKinsey.

Metaverse terlalu besar untuk diabaikan,” tulis laporan tersebut dikutip Cointelegraph.

McKinsey memperkirakan bahwa lebih dari 50 persen kegiatan dapat diadakan di metaverse pada tahun 2030, berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga US$ 5 triliun. Hal tersebut berkaitan dengan sorotan dampaknya terhadap kehidupan komersial dan pribadi.

Kesenjangan Gender

Ilustrasi metaverse.
Ilustrasi metaverse.

Baca juga: WEF Percaya Kripto dan Blockchain Jadi Bagian Integral Ekonomi Modern

Laporan McKinsey juga menemukan kesenjangan gender dalam metaverse mirip dengan yang ada di perusahaan Fortune 500, di mana kurang dari 10% CEO adalah perempuan. Ini terlepas dari lebih banyak perempuan daripada pria yang mengunjungi metaverse, dan perempuan menghabiskan lebih banyak waktu di dunia virtual.

McKinsey mengatakan bahwa 35% wanita yang disurvei adalah “pengguna kuat” metaverse – artinya mereka menghabiskan lebih dari tiga jam seminggu di sana – dibandingkan dengan 29% pria.

Selain itu, perempuan memimpin lebih banyak inisiatif terkait metaverse di perusahaan tempat mereka bekerja, dengan 60% dari 450 eksekutif wanita yang disurvei telah mendorong rencana ke depan, dibandingkan dengan 50% pria.

Continue Reading

Popular