Connect with us

Altcoin News

Aave Diguncang Badai Likuiditas, TVL Amblas $7 Miliar

Aave mengalami krisis setelah eksploitasi rsETH, TVL anjlok US$7 miliar.
Tim Research Tokocrypto melihat pasar bakal cenderung memperlakukan AAVE sebagai aset yang sedang dibuang.

Tivan

Published

on

Apa Itu Aave (AAVE). Sumber: Binance Academy.

Kondisi Aave mendadak berubah dari stabil menjadi penuh tekanan hanya dalam waktu singkat.

Krisis ini dipicu oleh eksploitasi pada rsETH, aset yang digunakan sebagai jaminan (collateral) yang kemudian memicu gelombang penarikan dana besar-besaran dari ekosistem Aave.

Menurut laporan Cryptoquant dampaknya tidak main-main: total value locked (TVL) anjlok sekitar $7 miliar hanya dalam satu hari.

Penurunan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan refleksi dari perubahan drastis dalam kepercayaan pasar.

Ketika pengguna mulai menarik likuiditas secara masif, itu biasanya menjadi sinyal bahwa risiko dianggap meningkat secara signifikan.

Baca Juga: Aave Resmi Tinggalkan Brand Avara, Fokus Kembali Garap DeFi

Efek Domino dari Eksploitasi rsETH

Eksploitasi rsETH menjadi titik awal dari reaksi berantai yang menghantam Aave.

Dalam ekosistem DeFi, aset yang digunakan sebagai collateral memiliki peran krusial karena menjadi fondasi bagi aktivitas pinjam-meminjam.

Ketika aset tersebut bermasalah, kepercayaan langsung terguncang. Pengguna tidak hanya khawatir terhadap nilai collateral, tetapi juga terhadap stabilitas seluruh protokol. Inilah yang kemudian memicu aksi penarikan dana dalam skala besar.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana satu titik lemah dalam sistem bisa berdampak luas terhadap keseluruhan ekosistem.

Arus Dana ke Exchange Meledak

Selain penurunan TVL, indikator lain yang memperkuat narasi krisis adalah lonjakan besar arus masuk token AAVE ke exchange.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 236 ribu AAVE mengalir ke Binance, jauh di atas rata-rata bulanan yang hanya sekitar 31 ribu AAVE.

Jika digabungkan dengan exchange lain, total inflow mencapai lebih dari 355 ribu AAVE, atau setara sekitar $32 juta. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga token yang mencapai sekitar 15%.

Dalam konteks pasar kripto, peningkatan inflow ke exchange sering kali diartikan sebagai indikasi tekanan jual. Investor biasanya memindahkan aset ke exchange untuk dijual, bukan disimpan.

Tekanan Jual Semakin Terlihat

Kombinasi antara penurunan harga dan lonjakan inflow menciptakan gambaran yang cukup jelas: pasar sedang dalam mode defensif.

Holder tidak lagi melihat AAVE sebagai aset untuk diakumulasi, melainkan sebagai aset yang perlu dikurangi eksposurnya.

Tim Research Tokocrypto menggambarkan situasi ini dengan cukup tegas:

“Ini bukan sekadar drama headline, tapi stress onchain yang kelihatan jelas di likuiditas, arus dana, dan perilaku holder. Selama aliran token ke exchange masih setinggi ini, pasar bakal cenderung memperlakukan AAVE sebagai aset yang sedang dibuang untuk kurangi risiko, bukan yang layak dibeli agresif.”

Pernyataan ini menyoroti bahwa tekanan yang terjadi bukan hanya sentimen, tetapi sudah tercermin dalam data onchain yang konkret.

Dari Kepercayaan ke Ketidakpastian

Aave selama ini dikenal sebagai salah satu pilar utama dalam dunia DeFi. Namun krisis ini menunjukkan bahwa bahkan protokol besar pun tidak kebal terhadap risiko struktural.

Ketika kepercayaan mulai goyah, dampaknya bisa sangat cepat dan luas. Likuiditas yang keluar dalam jumlah besar tidak hanya memengaruhi TVL, tetapi juga memperburuk persepsi risiko di mata investor.

Hal ini bisa menciptakan efek berantai yang memperpanjang tekanan, terutama jika tidak ada langkah pemulihan yang meyakinkan.

Apakah Ini Titik Terendah?

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah apakah kondisi ini sudah mencapai titik terburuk, atau justru masih ada potensi penurunan lanjutan.

Selama arus masuk ke exchange masih tinggi, tekanan jual kemungkinan belum selesai. Pasar cenderung menunggu tanda stabilisasi sebelum kembali masuk.

Indikator yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah inflow mulai menurun dan apakah TVL bisa kembali stabil. Tanpa dua hal ini, sulit bagi Aave untuk membangun kembali momentum positif.

Pelajaran dari Krisis Ini

Kasus Aave menjadi pengingat penting bahwa dalam dunia DeFi, risiko tidak hanya datang dari harga, tetapi juga dari struktur teknis dan desain sistem.

Eksploitasi pada satu komponen bisa memicu reaksi berantai yang berdampak pada seluruh ekosistem. Dan ketika kepercayaan hilang, pemulihannya tidak terjadi secara instan.

Baca Juga: Kepanikan DeFi: Glitch Aave Picu Likuidasi Rp400 Miliar

Bukan Sekadar Koreksi, Tapi Ujian Kepercayaan

Krisis yang dialami Aave saat ini bukan hanya soal penurunan harga atau TVL, tetapi tentang bagaimana pasar menilai risiko dan kepercayaan terhadap protokol.

Dengan TVL yang anjlok $7 miliar dan arus dana ke exchange yang melonjak tajam, tekanan yang terjadi jelas bersifat struktural.

Selama indikator-indikator ini belum menunjukkan perbaikan, pasar kemungkinan akan tetap berhati-hati.

Aave kini berada di fase krusial, antara pemulihan atau tekanan lanjutan. Dan seperti banyak kasus di dunia kripto, arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh bagaimana kepercayaan pasar bisa dibangun kembali.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending