Bitcoin News
Bitcoin Masih Bisa Tembus US$180.000? Peluang Belum Hilang
Tim Research Tokocryypto melihat pandangan ini didasarkan pada suplai Bitcoin yang terbatas dan potensi meningkatnya permintaan dalam siklus berikutnya.
Bitcoin masih berada dalam tekanan, tetapi sebagian analis menilai kondisi saat ini justru dapat menjadi peluang akumulasi. Investor Lawrence Lepard menyebut ketakutan pasar terhadap Bitcoin dan MicroStrategy tidak selalu berarti skenario bullish telah berakhir.
Dalam diskusi bersama Michaël van de Poppe, Lepard mengatakan investor sering kali bereaksi negatif ketika harga turun. Padahal, bagi investor jangka panjang, valuasi yang lebih murah justru dapat menjadi peluang masuk yang lebih menarik.
Menurut Lepard, Bitcoin masih berpotensi mencetak level tertinggi baru dalam 18 bulan ke depan. Ia memperkirakan BTC dapat bergerak menuju US$180.000, sementara estimasi power-law median value Bitcoin berada di sekitar US$134.000.

Tim Research Tokocryypto melihat pandangan ini didasarkan pada suplai Bitcoin yang terbatas dan potensi meningkatnya permintaan dalam siklus berikutnya.
“Lepard membandingkan kondisi saat ini dengan 2020, ketika Bitcoin sempat bergerak datar selama beberapa bulan sebelum akhirnya reli hampir lima kali lipat,” ungkapnya.
Emas Bisa Bergerak Lebih Dulu
Lepard menilai emas biasanya lebih dulu merespons kekhawatiran terhadap pelemahan nilai uang atau monetary debasement. Hal ini karena pasar emas lebih besar, lebih dalam, dan sudah lebih lama dipercaya sebagai aset lindung nilai.
Bitcoin, menurutnya, sering kali bergerak belakangan, tetapi dengan intensitas yang lebih besar. Ia mencontohkan periode ketika emas naik dari sekitar US$1.300 ke US$2.000, sementara Bitcoin masih bergerak stagnan.
Tidak lama setelah itu, Bitcoin melonjak dari sekitar US$10.000 ke US$50.000. Lepard menilai pola serupa dapat kembali terjadi jika likuiditas global dan pertumbuhan suplai uang M2 mulai mendukung aset berisiko.
Dengan kata lain, jika emas mulai menguat karena kekhawatiran terhadap nilai fiat, Bitcoin berpotensi menyusul dengan pergerakan yang lebih agresif.
Baca juga: Michael Saylor Sebut Bitcoin Mungkin Sudah Bottom di US$60.000
Mengapa Bitcoin Masih Tertekan?
Dilaporkan Coinpedia, Lepard menolak pandangan bahwa pelemahan Bitcoin saat ini hanya disebabkan oleh siklus empat tahunan. Menurutnya, ada beberapa faktor lain yang ikut menarik modal keluar dari BTC.
Salah satunya adalah arus dana yang mengalir ke sektor artificial intelligence dan perusahaan seperti SpaceX. Selain itu, sebagian pasar mulai percaya bahwa narasi monetary debasement sudah selesai.
Pada tahun lalu, emas, perak, dan Bitcoin sama-sama diuntungkan oleh kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang. Namun, inflasi yang lebih panas, harga minyak yang lebih tinggi, serta ekspektasi Federal Reserve yang lebih hawkish membuat investor kembali percaya bahwa suku bunga dapat bertahan tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut menekan minat terhadap aset alternatif seperti Bitcoin. Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset yang tidak menghasilkan yield.
Namun, Lepard menilai pandangan tersebut keliru dalam jangka panjang. Ia berpendapat disiplin fiskal pemerintah belum membaik secara berarti. Kegagalan Department of Government Efficiency untuk mencapai target penghematan yang sebelumnya dijanjikan juga memperkuat kekhawatirannya terhadap defisit pemerintah yang terus berlanjut.
Bitcoin sebagai Alternatif Fiat
Lepard menggambarkan Bitcoin sebagai bentuk kemandirian finansial dan penolakan diam-diam terhadap sistem moneter tradisional. Menurutnya, pemerintah kemungkinan tidak akan secara sukarela mengadopsi standar uang keras karena hal tersebut dapat mengurangi kekuasaan mereka atas sistem keuangan.
Namun, jika utang terus bertambah dan penciptaan uang terus berlanjut, ia menilai dunia pada akhirnya dapat menghadapi kebutuhan untuk melakukan reset moneter besar.
Dalam konteks tersebut, Bitcoin tetap dilihat sebagai lindung nilai jangka panjang terhadap risiko pelemahan fiat. Dengan suplai yang tetap dan permintaan yang berpotensi terus meningkat, BTC masih memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi jika kondisi makro kembali mendukung.
Untuk saat ini, ketakutan pasar memang masih menekan harga Bitcoin. Namun, menurut Lepard, fase seperti ini justru bisa menjadi momen bagi investor kontrarian untuk mulai mengakumulasi sebelum reli besar berikutnya terjadi.
Target US$180.000 belum menjadi kepastian, tetapi analis tersebut menilai skenario bullish Bitcoin masih tetap terbuka selama narasi suplai terbatas, pertumbuhan likuiditas, dan risiko pelemahan fiat tetap relevan.
Baca juga: Tokenized Stocks: Cara Baru Mengakses Saham Global Lebih Mudah
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
-
Market3 days agoPasar Kripto Hari Ini 21 Juli 2026: BTC Capai $65.000 Didorong Arus Dana ETF
-
Academy6 days agoRiset Kripto 13-17 Juli 2026: Bitcoin Comeback Berkat Makro AS?
-
Market6 days agoPasar Jepang dan Korea Selatan Tertekan, Kripto Bisa Jadi Pemenang?
-
Altcoin News5 days agoSolana Kuasai 75% Volume TCG dalam Bentuk Kripto

