Connect with us

Academy

CFX Turunkan Biaya Transaksi 50% ke 0,01%: Sinyal Kompetisi Bursa

Bursa CFX menurunkan biaya transaksi 50% dari 0,02% ke 0,01% mulai Oktober. Ini sinyal kompetisi biaya antarbursa dan artinya buat trader Indonesia.

Tivan

Published

on

Ilustrasi Bursa Komoditi Nusantara (BKN) atau CFX. Sumber: Bursa Komoditi Nusantara (BKN).

Persaingan industri kripto Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih mendasar.

Jika sebelumnya platform perdagangan kerap menarik pengguna melalui promosi dan potongan biaya sementara, kini efisiensi struktur biaya menjadi salah satu faktor yang semakin penting untuk mempertahankan trader.

Salah satu langkah terbaru datang dari PT Central Finansial X (CFX), bursa aset kripto lokal, yang menurunkan biaya transaksi bursa sebesar 50%, dari 0,02% menjadi 0,01% per transaksi mulai 1 Oktober 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong aktivitas serta likuiditas perdagangan aset kripto domestik.

Perlu ditegaskan, CFX dalam pembahasan ini merujuk pada penyelenggara bursa kripto, bukan token aset kripto dengan ticker CFX.

Bagi trader, penurunan biaya bursa ini menjadi sinyal bahwa persaingan industri tidak hanya berkutat pada promosi.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah biaya perdagangan secara keseluruhan semakin efisien, mulai dari biaya maker dan taker, spread harga, hingga penarikan dana.

Baca Juga: IHSG Anjlok, OJK dan SRO Gelar Dialog dengan Pelaku Pasar, Bagaimana Dampaknya ke Kripto?

CFX Turunkan Biaya 50% Mulai 1 Okt

Kebijakan penurunan biaya transaksi CFX berlaku sejak 1 Oktober 2026. Tarif yang sebelumnya sebesar 0,02% dipangkas menjadi 0,01% per transaksi, atau turun setengah dari tarif sebelumnya.

Menurut laporan Bloomberg Technoz, langkah ini diharapkan mendukung peningkatan aktivitas perdagangan dan memperkuat likuiditas pasar aset kripto Indonesia.

Sebagai ilustrasi, apabila nilai transaksi yang menjadi dasar pengenaan biaya bursa sebesar Rp100 juta, biaya dengan tarif 0,02% setara Rp20.000.

Setelah turun menjadi 0,01%, biaya tersebut menjadi Rp10.000. Dengan asumsi dasar pengenaan yang sama, penghematan mencapai Rp10.000 untuk transaksi tersebut.

Namun, perhitungan ini hanya menggambarkan komponen biaya bursa CFX, bukan seluruh biaya yang dibayarkan trader ketika membeli atau menjual aset kripto melalui sebuah aplikasi. Biaya lain yang dikenakan pedagang, pajak, serta selisih harga beli dan jual tetap perlu diperhitungkan.

Karena itu, penurunan tarif CFX tidak otomatis berarti seluruh biaya transaksi pengguna di setiap platform ikut turun 50%.

Dampak akhirnya bergantung pada bagaimana biaya bursa tersebut masuk ke dalam struktur biaya masing-masing pedagang aset kripto.

Mendorong Likuiditas dan Daya Saing

Penurunan biaya dilakukan ketika pasar kripto Indonesia menunjukkan pemulihan aktivitas pada kuartal III 2026.

Data yang dikutip dalam laporan tersebut memperlihatkan nilai transaksi di Bursa Kripto CFX meningkat selama tiga bulan berturut-turut, dari Rp15,2 triliun pada Juli menjadi Rp17,6 triliun pada Agustus dan Rp22,1 triliun pada September 2026.

Pemulihan juga terlihat di pasar derivatif. Nilai transaksi derivatif aset kripto meningkat dari Rp3,75 triliun pada Juli menjadi Rp5,98 triliun pada Agustus, lalu Rp7,32 triliun pada September.

Angka ini menunjukkan aktivitas perdagangan yang bertumbuh, meskipun belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren tersebut pasti berlanjut pada kuartal berikutnya.

Direktur Utama CFX, Subani, menilai pemulihan pasar pada kuartal III sebagai sinyal positif setelah semester pertama yang cukup menantang.

“Pemulihan yang terjadi di Kuartal 3 ini menjadi sinyal positif bagi pasar, baik di perdagangan spot maupun derivatif, terlebih setelah semester 1 yang cukup menantang. Kami berharap momentum pemulihan ini terus berlanjut sehingga industri dapat tumbuh lebih kuat,” ujar Subani, sebagaimana dikutip dari Bloomberg Technoz.

Dari sisi bisnis, biaya bursa yang lebih rendah dapat membantu mengurangi salah satu komponen biaya yang ditanggung pedagang aset kripto.

Efisiensi ini diharapkan memberi ruang bagi pelaku industri untuk menawarkan layanan yang lebih kompetitif dan mendorong lebih banyak aktivitas perdagangan.

Meski begitu, biaya yang lebih rendah tidak otomatis menjamin likuiditas meningkat. Likuiditas juga dipengaruhi jumlah pengguna aktif, kedalaman order book, volume transaksi, jumlah aset yang diperdagangkan, serta kualitas layanan dan kepercayaan pengguna.

Dengan kata lain, pemangkasan biaya merupakan salah satu upaya untuk mendukung pasar, bukan satu-satunya penentu pertumbuhan.

Ilustrasi Bursa Komoditi Nusantara (BKN) atau CFX. Sumber: Bursa Komoditi Nusantara (BKN).

Pola Industri: Kompetisi Biaya, Bukan Promo

Perubahan struktur biaya CFX memperlihatkan arah persaingan yang semakin relevan bagi trader aktif.

Dalam industri yang semakin matang, promosi sesaat mungkin menarik pengguna baru, tetapi efisiensi biaya yang konsisten dapat memiliki dampak lebih panjang terhadap aktivitas perdagangan.

Tim Research Tokocrypto menyoroti bahwa pola industri pada 2026 mulai bergeser dari kompetisi berbasis promosi menuju struktur biaya yang lebih efisien.

Bagi pengguna yang melakukan transaksi berulang, perbedaan kecil pada biaya dapat terakumulasi menjadi pengeluaran yang berarti.

Misalnya, trader yang bertransaksi dengan nilai besar atau memiliki frekuensi perdagangan tinggi akan lebih sensitif terhadap biaya setiap order.

Sebaliknya, bagi investor yang jarang melakukan transaksi dan menyimpan aset dalam jangka panjang, faktor lain seperti keamanan, kemudahan penggunaan, kualitas layanan, serta proses deposit dan penarikan bisa memiliki bobot yang lebih besar.

Persaingan biaya juga tidak selalu berarti platform dengan satu tarif paling rendah otomatis menjadi pilihan terbaik.

Setiap pedagang dapat menerapkan struktur berbeda, termasuk tarif maker dan taker, tingkatan biaya berdasarkan volume perdagangan, program diskon, serta komponen biaya tambahan.

Karena itu, penurunan biaya CFX lebih tepat dibaca sebagai sinyal kompetisi industri, bukan alasan bagi trader untuk buru-buru memindahkan aset.

Keputusan memilih platform sebaiknya didasarkan pada keseluruhan pengalaman dan biaya yang benar-benar dibayar pengguna.

Cara Membandingkan Biaya Bursa dengan Benar

Langkah pertama adalah membedakan biaya bursa dengan biaya perdagangan yang tercantum di aplikasi.

Biaya bursa merupakan salah satu komponen dalam ekosistem perdagangan, sedangkan biaya yang dibebankan kepada pengguna bisa mencakup komponen lain sesuai kebijakan pedagang dan jenis transaksi.

Trader dapat memulai dengan memeriksa tarif maker dan taker.

Maker umumnya merujuk pada order yang menambah likuiditas ke order book, sedangkan taker adalah order yang mengambil likuiditas dari order book yang tersedia.

Tarif keduanya dapat berbeda, sehingga pengguna perlu memastikan jenis order yang paling sering digunakan.

Berikutnya, perhatikan spread atau selisih antara harga beli dan harga jual.

Spread yang lebar dapat menambah biaya ekonomi transaksi, sekalipun tarif trading yang ditampilkan terlihat rendah.

Untuk membandingkan secara adil, gunakan pasangan aset dan waktu pengamatan yang sama, sebab spread dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan likuiditas.

Biaya penarikan juga tidak boleh diabaikan. Pengguna yang rutin memindahkan rupiah atau aset kripto ke dompet pribadi perlu menghitung biaya penarikan serta biaya jaringan apabila berlaku.

Frekuensi penarikan dapat membuat komponen ini terasa lebih besar dibandingkan bagi pengguna yang jarang memindahkan dana.

Sebagai contoh, Tokocrypto memuat rincian biaya berdasarkan jenis transaksi, termasuk biaya maker dan taker, komponen pajak, biaya bursa, serta biaya penarikan.

Struktur ini menunjukkan mengapa membandingkan satu angka saja tidak cukup untuk menilai total biaya yang dibayar pengguna.

Perbandingan sebaiknya dilakukan menggunakan skenario yang sama: nilai transaksi, pasangan aset, jenis order, frekuensi jual-beli, dan kebutuhan penarikan.

Setelah itu, jumlahkan komponen biaya yang relevan dan periksa harga eksekusi aktual.

Pendekatan ini lebih berguna daripada membandingkan tarif CFX sebesar 0,01% secara langsung dengan satu angka biaya Tokocrypto.

Kedua angka belum tentu mengukur komponen yang sama, sehingga kesimpulan tanpa menyamakan dasar perhitungan bisa menyesatkan.

Artinya Bagi Trader Indonesia

Bagi trader Indonesia, penurunan biaya bursa dapat menjadi perkembangan positif karena membuka peluang bagi pelaku industri untuk membuat struktur biaya lebih efisien.

Namun, manfaat yang benar-benar dirasakan pengguna akan bergantung pada apakah efisiensi tersebut tercermin dalam total biaya perdagangan di platform yang digunakan.

Isu ini juga berkaitan dengan usulan penurunan pajak transaksi kripto. Pada 16 Oktober 2026, DDTCNews melaporkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong pemerintah menurunkan tarif PPh Pasal 22 final atas penjualan aset kripto dari 0,21% menjadi 0,1%.

Usulan tersebut belum boleh dianggap sebagai tarif baru yang sudah berlaku.

Berdasarkan pemberitaan tersebut, tarif 0,21% masih menjadi acuan saat ini, sementara penurunan menjadi 0,1% merupakan usulan yang masih memerlukan proses kebijakan.

Jika suatu saat penurunan pajak tersebut diterapkan, lalu diikuti efisiensi biaya perdagangan dari pelaku industri, trader berpotensi memperoleh manfaat dari berkurangnya beberapa komponen biaya sekaligus.

Hal ini relevan terutama bagi trader aktif yang melakukan transaksi berulang. Meski demikian, biaya transaksi bukan satu-satunya faktor yang menentukan hasil perdagangan.

Pergerakan harga aset, spread, risiko volatilitas, keamanan platform, serta disiplin pengelolaan risiko tetap menjadi pertimbangan utama.

Biaya yang lebih rendah membantu efisiensi, tetapi tidak menghilangkan risiko kerugian akibat perubahan harga.

Tim Research Tokocrypto menilai arah industri yang semakin menekankan struktur biaya merupakan perkembangan yang patut dicermati.

Bagi trader, langkah paling rasional bukan panik berpindah platform setelah pengumuman satu tarif baru, melainkan mengevaluasi biaya total secara berkala dan memilih layanan yang sesuai dengan kebutuhan transaksi masing-masing.

Kesimpulan

Penurunan biaya transaksi bursa CFX dari 0,02% menjadi 0,01% mulai 1 Oktober 2026 menjadi sinyal bahwa persaingan industri kripto Indonesia semakin mengarah pada efisiensi struktur biaya.

Langkah ini ditujukan untuk mendukung aktivitas perdagangan dan likuiditas, di tengah pemulihan nilai transaksi sepanjang kuartal III.

Namun, biaya bursa tidak sama dengan total biaya yang dibayar pengguna. Maker dan taker, spread, pajak, serta biaya penarikan perlu dihitung bersama sebelum membandingkan dua platform.

Karena struktur biaya tiap pedagang dapat berbeda, satu angka saja tidak cukup untuk menentukan mana yang paling hemat.

Usulan OJK untuk menurunkan PPh transaksi kripto dari 0,21% menjadi 0,1% juga menjadi perkembangan yang patut dipantau, tetapi belum dapat diperlakukan sebagai kebijakan yang sudah berlaku.

Jika efisiensi biaya perdagangan dan kebijakan pajak bergerak ke arah yang lebih ringan, trader aktif berpotensi memperoleh manfaat lebih besar.

Pada akhirnya, kompetisi biaya seharusnya memberi lebih banyak pilihan kepada pengguna. Trader tidak perlu terburu-buru pindah hanya karena melihat satu tarif yang lebih rendah.

Bandingkan total biaya, kualitas eksekusi, keamanan, dan layanan sebelum menentukan platform yang paling sesuai.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending