Connect with us

Altcoin News

Saham AS ‘Pindah’ ke Blockchain? Ondo Dukung Ethereum Jadi Tulang Punggung!

Ondo Finance mengajukan no-action ke SEC untuk tokenisasi saham berbasis Ethereum. Tim Research Tokocrypto menilai ini regulasi yang penting karena SEC sedang membuka celah interpretasi yang lebih ramah untuk wallet dan software interface non-custodial, meski statusnya masih sebatas staff statement dan bukan rule final.

Tivan

Published

on

Ilustrasi Ondo FInance. Sumber: Ondo Finance.

Eksperimen besar yang menggabungkan pasar saham tradisional dengan teknologi blockchain kembali memasuki babak baru.

Menurut laporan Cointelegraph, Ondo Finance secara resmi meminta kepastian no-action letter dari U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) untuk model bisnis yang memanfaatkan Ethereum sebagai lapisan pencatatan dan administrasi.

Langkah ini berpotensi menjadi terobosan penting dalam integrasi antara dunia keuangan tradisional (TradFi) dan aset digital, khususnya dalam menghadirkan eksposur terhadap saham dan ETF Amerika Serikat bagi investor di luar AS.

Baca Juga: Ondo Finance: Produk dan Potensi Masa Depan

Bagaimana Skemanya Bekerja?

Model yang diajukan Ondo cukup unik. Alih-alih langsung memindahkan saham ke blockchain, mereka menggunakan pendekatan hibrida.

Saham dan ETF tetap disimpan secara tradisional melalui Depository Trust Company (DTC). Penyimpanan dilakukan lewat broker-dealer seperti Alpaca.

Sementara itu, hak kepemilikan (security entitlements) direpresentasikan dalam bentuk token di blockchain Ethereum.

Dengan kata lain, aset dasarnya tetap berada dalam sistem keuangan konvensional, tetapi “cerminan” kepemilikannya bergerak secara onchain.

Pendekatan ini memungkinkan investor global mendapatkan eksposur terhadap saham AS tanpa harus langsung mengakses pasar tradisional secara penuh.

Mengapa Butuh “No-Action” dari SEC?

Dalam konteks regulasi AS, no-action letter dari SEC berarti staf regulator tidak akan merekomendasikan tindakan hukum terhadap model bisnis tertentu, selama tetap beroperasi dalam batas yang dijelaskan.

Bagi Ondo, kepastian ini sangat krusial. Sebab, model tokenisasi saham masih berada di wilayah abu-abu regulasi, terutama terkait status hukum token representasi, peran platform sebagai perantara, hingga klasifikasi sebagai broker atau bukan.

Tanpa kejelasan ini, risiko hukum bisa menjadi penghambat utama adopsi.

Sinyal Regulasi Mulai Melunak?

Permintaan Ondo muncul di tengah perubahan nada dari SEC terhadap teknologi kripto, khususnya untuk wallet dan interface non-custodial.

Tim Research Tokocrypto melihat adanya indikasi bahwa regulator mulai membuka ruang interpretasi yang lebih fleksibel.

“Ini regulasi yang penting karena SEC sedang membuka celah interpretasi yang lebih ramah untuk wallet dan software interface non-custodial, meski statusnya masih sebatas staff statement dan bukan rule final. Artinya arah kebijakan mulai melunak, tapi fondasinya masih rapuh dan bisa berubah kalau komposisi kepemimpinan atau pendekatan hukum SEC bergeser lagi,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

Artinya, meski ada angin segar, kepastian hukum jangka panjang masih belum sepenuhnya terjamin.

Dampak ke Industri Kripto dan Pasar Global

Jika proposal ini mendapatkan lampu hijau, dampaknya bisa sangat besar:

1. Akses Global ke Saham AS
Investor non-AS bisa lebih mudah mendapatkan eksposur ke saham dan ETF tanpa hambatan tradisional.

2. Likuiditas Lebih Tinggi
Perdagangan berbasis blockchain berpotensi berjalan 24/7, berbeda dengan pasar saham konvensional.

3. Efisiensi Operasional
Penggunaan blockchain dapat mengurangi biaya administrasi dan mempercepat settlement.

Namun, ada juga tantangan yang tidak bisa diabaikan seperti risiko regulasi lintas negara, potensi konflik antara sistem onchain dan offchain, hingga ketergantungan pada infrastruktur tradisional seperti DTC.

Ethereum Jadi Infrastruktur Finansial Baru?

Pilihan Ondo untuk menggunakan Ethereum bukan tanpa alasan. Blockchain ini telah menjadi standar de facto untuk berbagai aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan tokenisasi aset.

Dengan memanfaatkan Ethereum sebagai lapisan pencatatan, Ondo secara tidak langsung memperkuat narasi bahwa blockchain publik bisa menjadi infrastruktur finansial masa depan.

Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin saham, obligasi, hingga instrumen keuangan lainnya akan semakin banyak direpresentasikan secara digital.

Antara Inovasi dan Ketidakpastian

Langkah Ondo mencerminkan ambisi besar untuk menjembatani dua dunia yang selama ini berjalan paralel: keuangan tradisional dan kripto.

Namun, seperti banyak inovasi di ruang ini, tantangan utamanya tetap sama: regulasi.

Selama SEC belum memberikan kepastian penuh, model seperti ini akan tetap berada dalam posisi “eksperimen berisiko tinggi”.

Kesimpulan: Masa Depan Saham Ada di Blockchain?

Permintaan no-action dari Ondo bisa menjadi titik awal perubahan besar dalam cara kita memahami kepemilikan aset.

Jika disetujui, ini bukan hanya kemenangan bagi satu perusahaan, tetapi juga langkah maju bagi seluruh industri tokenisasi aset.

Namun untuk saat ini, pasar masih harus bersabar. Karena di balik potensi revolusioner tersebut, fondasi regulasinya masih dalam tahap dibangun—dan bisa berubah sewaktu-waktu.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending