Crypto
XRP Turun Lagi di Bawah US$1 meski Adopsi XRPL Cetak Rekor
Tim Resesarch Tokocrypto melihat XRP sebelumnya berhasil bertahan di atas US$1 selama 635 hari berturut-turut.
Harga XRP kembali turun di bawah level psikologis US$1 dalam 24 jam terakhir, meskipun metrik adopsi XRP Ledger (XRPL) terus menunjukkan pertumbuhan. Pelemahan ini memperlihatkan jurang antara perkembangan infrastruktur XRPL dan kemampuan token XRP menangkap nilai dari aktivitas tersebut.
Tim Resesarch Tokocrypto melihat XRP sebelumnya berhasil bertahan di atas US$1 selama 635 hari berturut-turut.
“Namun, rekor itu berakhir pada 11 Agustus 2026, ketika harga menyentuh US$0,9915, menjadi penurunan pertama di bawah level tersebut sejak November 2024,” tuturnya.
Kembalinya XRP ke area bawah US$1 membuat pasar kembali menguji kekuatan support yang selama hampir dua tahun menjadi batas psikologis penting. Jika tekanan jual berlanjut, analis menilai area US$0,70 hingga US$0,90 dapat menjadi zona support berikutnya.
Daftar Isi
Support US$1 Kembali Diuji
Level US$1 menjadi area penting bagi XRP karena berfungsi sebagai support psikologis. Banyak trader biasanya menempatkan order beli atau stop-loss di sekitar level bulat seperti ini, sehingga penembusan di bawahnya dapat memperbesar volatilitas.
Setelah menembus US$1 pada 11 Agustus, XRP kembali menguji area tersebut dalam beberapa hari berikutnya. Kondisi ini menunjukkan seller masih mencoba mencari kelemahan di bawah support yang sebelumnya terlihat kuat.

Dilaporkan BeInCrypto, secara teknikal, pembeli perlu mendorong XRP kembali ke atas US$1,03 untuk memperbaiki struktur jangka pendek. Jika level tersebut gagal direbut, tekanan terhadap XRP berisiko berlanjut.
Di sisi bawah, analis melihat area US$0,70 hingga US$0,90 sebagai support berikutnya. Jika tekanan jual meningkat, zona sekitar US$0,86 juga dapat menjadi perhatian pasar.
Baca juga: Transaksi XRPL Pecah Rekor! XRP Diklaim Lebih Tahan Kuantum
Arus ETF XRP Melemah
Selain tekanan harga, arus dana produk spot XRP juga belum memberi banyak dukungan. Berdasarkan data SoSoValue yang dikutip sumber pasar, net inflows produk spot XRP sepanjang Agustus baru mencapai sekitar US$3,27 juta.
Angka tersebut turun sekitar 88% dibanding inflow Juli yang mencapai US$27,29 juta. Penurunan inflow menunjukkan minat investor melalui produk spot XRP melemah cukup tajam.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi narasi bullish XRP. Meskipun adopsi XRPL meningkat, arus modal yang masuk ke produk investasi XRP belum menunjukkan keyakinan yang sama kuat.
Jika inflow ETF kembali meningkat, hal itu dapat membantu memperbaiki sentimen. Namun, selama arus dana masih lemah, XRP akan lebih sulit membangun momentum pemulihan yang kuat.
Adopsi XRPL Tetap Menguat
Di sisi fundamental, sejumlah analis masih membela prospek XRP dengan menyoroti pertumbuhan XRPL. Lark Davis menilai mengabaikan XRP bisa menjadi kesalahan karena metrik adopsi jaringan terus membaik.
Salah satu perkembangan penting datang dari Aviva Investors. Perusahaan manajemen aset tersebut meluncurkan tokenized share class untuk Aviva Investors US Dollar Liquidity Fund di XRP Ledger pada 29 Juli 2026. Aviva menyebut XRPL digunakan karena menawarkan penyelesaian transaksi yang cepat, aman, dan berbiaya rendah.
Kemitraan Aviva Investors dan Ripple sendiri telah diumumkan sejak Februari 2026, dengan tujuan membawa struktur fund tradisional ke XRP Ledger. Dalam pengumuman tersebut, XRPL disebut telah memproses lebih dari 4 miliar transaksi dan mendukung lebih dari 7 juta active wallets.
Data RWA juga memperkuat narasi tersebut. XRP Insights mencatat tokenized real-world assets di XRP Ledger memiliki sekitar US$323 juta distributed transferable investor float, dengan sekitar US$4,06 miliar platform-locked registry notionals.
Masalah Utama: Apakah XRP Menangkap Nilai?
Meski adopsi XRPL meningkat, pertanyaan utama bagi pasar adalah apakah token XRP benar-benar menangkap nilai dari pertumbuhan jaringan. Inilah yang menjadi inti perdebatan antara kubu bullish dan bearish.
Kubu bullish menilai XRPL sebagai settlement layer dan bridge currency dapat menciptakan permintaan struktural terhadap XRP. Jika semakin banyak aset dan institusi menggunakan jaringan, permintaan terhadap token dinilai dapat meningkat.
Namun, kubu bearish melihat risiko bahwa XRPL dapat tumbuh secara komersial tanpa membuat XRP ikut mendapat manfaat signifikan. Institusi mungkin lebih membutuhkan infrastruktur jaringan dibanding token XRP itu sendiri.
Salah satu faktor yang memperkuat kekhawatiran ini adalah penggunaan RLUSD. Dalam laporan sumber, sepuluh kesepakatan institusional besar Ripple selama 2026 disebut diselesaikan menggunakan RLUSD, bukan XRP.
Hal ini memperkuat argumen bahwa pertumbuhan penggunaan XRPL belum otomatis berarti meningkatnya permintaan langsung terhadap XRP. Dengan kata lain, adopsi jaringan belum sepenuhnya tercermin pada harga token.
Akumulasi Whale Belum Cukup Dorong Harga
Dari sisi on-chain, Santiment mencatat adanya 32 wallet baru yang memegang setidaknya 1 juta XRP dalam tiga bulan terakhir. Data ini dapat menunjukkan akumulasi dari pelaku besar.
Namun, angka tersebut perlu dibaca hati-hati karena satu entitas dapat mengendalikan beberapa alamat. Selain itu, akumulasi whale belum cukup untuk mengimbangi tekanan harga jika arus dana spot dan minat ritel melemah.

Target analis terhadap XRP juga masih berbeda jauh. Standard Chartered disebut mempertahankan target US$2,80, sementara analis Ali Martinez memperingatkan risiko penurunan menuju US$0,62.
Perbedaan target ini mencerminkan ketidakpastian pasar. Di satu sisi, adopsi XRPL terus meningkat. Di sisi lain, harga XRP masih gagal mempertahankan level psikologis US$1.
XRP Perlu Reclaim US$1,03
Untuk jangka pendek, XRP perlu kembali menembus US$1,03 agar struktur harga membaik. Jika pembeli mampu merebut level tersebut, peluang pemulihan ke resistance berikutnya dapat terbuka.
Namun, jika XRP kembali gagal bertahan di atas US$1, tekanan jual dapat meningkat. Dalam skenario tersebut, area US$0,90 hingga US$0,86 menjadi support yang perlu dipantau.
Jika tekanan lebih dalam terjadi, pasar dapat mulai memperhitungkan risiko menuju US$0,70 atau bahkan lebih rendah, terutama jika inflow ETF tetap lemah.
Secara keseluruhan, XRP menghadapi paradoks besar. XRPL menunjukkan perkembangan adopsi yang kuat, termasuk tokenisasi fund institusional dan pertumbuhan RWA. Namun, harga XRP justru kembali turun di bawah US$1 karena pasar belum yakin token tersebut akan menangkap nilai dari aktivitas jaringan.
Untuk mengubah sentimen, XRP tidak hanya membutuhkan metrik adopsi yang kuat, tetapi juga bukti bahwa penggunaan XRPL dapat mendorong permintaan nyata terhadap token. Hingga saat itu terjadi, level US$1 akan tetap menjadi area psikologis penting yang menentukan arah XRP berikutnya.
Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
-
Event5 days agoEvent Tokocrypto Minggu Ini
-
Altcoin News7 days agoMeme Coin Jimothy Melonjak 331% Usai Elon Musk Unggah Video Rakun
-
Market5 days agoBitcoin dan XRP Hadapi Pekan Volatil, Data CPI hingga Konflik Iran Jadi Sorotan
-
Market5 days agoPasar Kripto Hari Ini 10 Agustus 2026: Bitcoin Dekati $67.500


