Apa Sih Yield Farming Itu? Panduan Untuk Pemula!

0
85
yield farming

Yield Farming adalah cara terbaru menghasilkan mata uang kripto dengan kripto yang kamu punya. Gimana ya caranya? Sebenarnya cara ini sama seperti meminjam uang pada sistem bank biasa.

Misalnya saja, pada sistem keuangan terpusat, Bank memiliki kewenangan untuk memberikan pinjaman, nanti nasabah Bank yang meminjam akan mengembalikan dana tersebut beserta bunga kepada Bank. Ataupun cara sebaliknya, ketika nasabah menabung biasa atau dengan deposito, Bank akan memberikan mereka bunga sebagai imbalan.

Nah, pada sistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) cara itu diadopsi sedemikian rupa, tetapi tanpa perantara. Peran Bank yang semula adalah sebagai pusat kontrol dana tersebut, digantikan dengan teknologi smart contract yang ada di dalam protokol blockchain. Tentunya, strategi setiap protokol berbeda sesuai dengan algoritma sistem mereka masing-masing.

Baca Juga: Takut Ketinggalan, Trader Cina Pindahkan BTC dan ETH ke DEX untuk Yield Farming

Sekilas Tentang DeFi

Keuangan Terdesentralisasi atau Decentralized Finance (DeFi) di ruang blockchain semakin hari semakin berkembang. Inovasi ini digandrungi oleh semakin banyak orang karena interest/bunga yang ditawarkan. Lalu apa yang membuat DeFi ini unik?

Tidak seperti sistem keuangan tradisional yang diatur dan diregulasi oleh pusat, setiap entitas yang terlibat pada platform DeFi memiliki kesempatan untuk memberikan pinjamannya berupa aset kripto kepada pengguna lain dengan smart contract di dalam protokol tersebut, tanpa ada perantara apa pun, selama mereka terkoneksi dengan internet.

Perkembangan DeFi itu, memunculkan konsep baru bernama Yield Farming.

Yield Farming sendiri merupakan cara untuk mendapatkan hadiah/rewards berupa kepemilikan mata uang kripto menggunakan protokol likuiditas yang permission less atau tanpa izin. Ini membuat siapa saja bisa mendapatkan pendapatan pasif menggunakan ekosistem terdesentralisasi yang dibangun di atas jaringan Ethereum.

Yield Farming ini juga memberikan cara baru kepada investor HODL untuk tetap memiliki mata uang kriptonya disamping juga menghasilkan kripto lainnya dari aset tersebut.

Apa itu Yield Farming?

Yield Farming ini disebut juga penambangan likuiditas atau liquidity mining, cara untuk menghasilkan rewards/hadiah dengan kepemilikan aset kripto. Intinya, dengan aset kripto untuk menghasilkan kripto lainnya.

Yield Farming baru akan berjalan ketika Liquidity Providers (LPs) bertindak sebagai pengguna yang menempatkan aset kriptonya ke dalam kumpulan likuiditas (Liquidity Pools) tersebut. Liquidity Providersini bisa diartikan sebagai pemberi pinjaman, mengingat aset kripto mereka nantinya dapat dipinjam dan digunakan oleh pengguna lain.

Liquidity Pools sendiri merupakan smart contract yang mengunci/berisi dana dari pemberi pinjaman tersebut. Dengan masuknya kripto di dalam kumpulan likuiditas, pemberi pinjaman nantinya akan mendapatkan rewards atau bunga sesuai dengan kripto yang mereka pinjamkan.

Yield Farming ini biasanya dilakukan dengan menggunakan token ERC-20 pada jaringan Ethereum. Selanjutnya rewards atau bunga yang akan didapatkan oleh pemberi pinjaman juga berupa token ERC-20.

Di samping itu, dengan perkembangan dan ruang tumbuh dari teknologi DeFi, platform atau Decentralized Applications (dApps) ini akan bisa mendukung kemampuan smart contract dengan berpindah protokol.

Tentunya, jika hal ini sudah dapat direalisasikan, pengguna platform sebagai pemberi pinjaman akan dapat memindahkan kepemilikan kripto mereka kebanyak protokol lainnya untuk mencari keuntungan yang lebih tinggi lagi.

Selain keuntungan yang didapatkan oleh pemberi pinjaman, hal ini juga dapat memberikan keuntungan kepada platform tersebut karena semakin banyak modal yang akan masuk ke dalam protokol mereka.

Bagaimana Cara Kerja Yield Farming?

Sebelumnya, kalian tahu apa itu istilah Market Maker (MM)? MM dalam konsep pertukaran kripto adalah trader yang membeli/menjual aset kripto pada harga tertentu dengan cara menempatkan posisi Limit.

Berbeda dari sistem yang digunakan pada bursa pertukaran, yield farming ini menggunakan model Automated Market Maker (AMM) dan melibatkan Liquidity Providers (LPs) serta Liquidity Pools.

Lalu, bagaimana cara kerjanya?

Agar mudah dimengerti Liquidity Providers (LPs) akan diterjemahkan menjadi “penyedia likuiditas”. Ia di sini berperan sebagai pemilik aset kripto yang menyimpan dananya pada kumpulan likuiditas atau Liquidity Pools.

Liquidity Pools ini berperan sebagai tempat atau pasar pengguna meminjamkan asetnya, meminjamnya pada pengguna lain, atau hanya sekedar menukarkan aset tersebut kepada token ERC-20.

Pengguna platform atau peminjam aset nantinya akan dikenakan biaya tertentu, biaya tersebut nantinya akan dibayarkan kepada penyedia likuiditas sesuai dengan bagian yang mereka berikan pada Liquidity Pools.

Selain biaya tersebut, cara Liquidity Pools mendapatkan perputaran dana adalah dengan distribusi token baru yang masuk ke dalam protokol. Semakin banyak token yang masuk, maka Liquidity Pools ini akan semakin kaya yang tentunya akan menguntungkan semua pihak.

Tentunya, setiap protokol yang menerapkan yield farming ini memiliki aturan distribusi yang berbeda. Namun, penyedia likuiditas tetap aka mendapatkan return dari aset yang mereka pinjamkan di Liquidity Pools.

Biasanya dana tersebut disimpan dalam bentuk stablecoin yang dipatok dengan USD seperti DAI, USDT, USDC, BUSD, dan lainnya. Beberapa protokol biasanya mencetak tokennya sendiri yang nantinya akan disimpan dalam sistem. Hal ini terlihat dalam protokol Compound yang memiliki token berupa Comp.

Contoh, jika kamu memiliki ETH dan memasukkannya ke dalam protokol Compound, ETH kamu akan menjadi cETH yang dipatok dengan USD. Koin lain seperti DAI juga akan mengalami proses yang sama dan akan menjadi cDAI. Terlebih lagi, koin-koin ini dapat berpindah protokol dan tentunya mencetak koin baru yang akan mewakili koin tersebut.

Mau mempelajari lebih tentang Compound? Bisa baca di sini: Apa itu Compound? Panduan Lengkap Untuk Pemula!

Bagaimana Cara Return Yield Farming Dihitung?

Hasil dari yield farming biasanya dihitung secara tahunan. Beberapa metrik yang umum digunakan adalah Annual Percentage Rate (APR) dan Annual Percentage Yield (APY). Perbedaan dari keduanya, terletak pada penggabungan token, jika APR memperhitungkan nilai dari compounding token, APY tidak memperhitungkan hal tersebut.

Compounding di sini berarti menginvestasikan kembali keuntungan secara langsung untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan. Antara APR dan APY ini dapat digunakan secara bergantian.

Perlu diingat bahwa hasil dari APR dan APY ini tidak dapat diperkirakan secara akurat. Ini dilatabelakangi dengan kondisi pasar yield farmingyang memang sangat kompetitif dan bergerak sangat cepat, hal ini membuat rewards/return yang diterima juga berfluktuasi dengan cepat.

Metrik ini sebenarnya dirasa akan semakin baik jika perhitungan dilakukan secara minggu atau bahkan harian. Sehingga dapat memberikan keuntungan dan perhitungan yang masuk akal untuk para pemberi pinjaman. Namun, hal ini masih dalam tahap pertimbangan pengembang platform DeFi.

Risiko dari Yield Farming

Sebenarnya yield farming ini direkomendasikan kepada para pengguna kritpto tingkat lanjut. Hal ini mengingat strategi dan kompleksitas di dalam protokol itu sendiri. Terlebih yield farming ini biasanya dilakukan oleh mereka yang memang memiliki banyak modal atau investor dengan kepemilikan aset kripto yang banyak seperti “Whales / Cukong Mata Uang Kripto”.

Selain itu, risiko yang sebenarnya menghantui yield farming ini terletak pada smart contract-nya itu sendiri. Banyak dari pengembang platform DeFi dibangun oleh tim kecil dengan anggaran terbatas, hal ini dapat meningkatkan risiko bug di pemrograman smart contract tersebut.

Biasanya, bug ditemukan ketika dilakukan pengecekan oleh perusahan audit, ditambah protokol sudah berjalan. Hal ini membuat dana pengguna yang telah terkunci dalam protokol rentan untuk hilang begitu saja.

Sebenarnya, DeFi muncul dengan gagasan yang sangat cemerlang, platform-platform ini dibangun dengan konsep penyesuaian diri atau komposabilitas, didasarkan pada protokol yang terintegrasi satu sama lain.

Konsep di atas membuat ekosistem DeFi ini sangat bergantung pada setiap blok penyusunnya. Kondisi ini membuat rentan terhadap kesalahan atau error pada protokol. Bayangkan saja, jika satu saja blok penyusun tidak berfungsi dengan baik, ini akan membuat seluruh ekosistem jaringan rusak. Lebih lanjut, ini dapat menimbulkan risiko terhadap para pemberi pinjaman dan juga return yang akan diterima.

Baca Juga: Bloomberg: Harga Bitcoin Bisa Melompat Menjadi $ 500.000