Connect with us

Blockchain

League of Kingdoms, Game NFT yang Bisa Bikin Cuan, Lihat Cara Mainnya di Sini

Published

on

league of kingdoms

Beberapa waktu belakangan, semakin banyak game NFT yang muncul ke permukaan. Tak main-main, beberapa game tersebut muncul dalam berbagai genre, seperti MMO Strategy yang dimiliki oleh game NFT League of Kingdoms. Game satu ini ternyata punya popularitas yang tinggi, lho! Penasaran apa yang membuat game ini banyak dimainkan? Simak selengkapnya!

Apa Itu League of Kingdoms?

League of Kingdoms adalah game NFT dengan MMO Strategy yang menyatukan para pemain untuk memperebutkan kekuasaan satu sama lain. Dalam game ini, pemain bisa membangun kerajaannya sendiri, merancang struktur, hingga memanfaatkan sumber dayanya. Tak hanya membangun kerajaan, game ini juga memungkinkan pemain untuk bergabung dalam League of Kingdoms Arena yang dipakai untuk menentukan nasib permainan berdasarkan hasil voting dengan token NFT LOKA.

Game ini dijalankan di Ethereum dan Polygon. Oleh karenanya, game ini berhasil memperoleh banyak pemain. Selain menguntungkan, game ini juga bisa jadi sarana rekreasi karena dilengkapi dengan berbagai fitur mengasyikkan. Jika Anda berpikir bahwa game ini hanya sekadar membangun kerajaan, anggapan Anda terhadap game yang baru diluncurkan pada Juli 2020 ini kurang tepat. Meski baru dua tahun dirilis, game ini telah berhasil dimainkan oleh lebih dari 400.000 pengguna.

Sebagai salah satu game berbasis blockchain, League of Kingdoms juga berjalan dengan penggunaan token NFT. Token ini nantinya berfungsi untuk memperluas lahan, kerajaan, bahkan membangun pasukan dari sumber daya yang ada. Semua lahan dan bangunan yang ada dalam game ini dapat dimiliki berkat transaksi dengan token NFT League of Kingdoms (LOKA).

Baca juga: Ketahui Serba-Serbi CryptoKitties, Salah Satu Pionir Game NFT

Untuk menghasilkan aset kripto di game League of Kingdoms, Anda harus melawan kerajaan musuh, memperluas lahan, dan menyelesaikan misi yang ada. Semakin luas lahan dan kuatnya kerajaan yang Anda miliki, maka semakin Anda bisa berjaya dalam permainan yang dijalankan dalam sistem blockchain ini.

Serba-serbi token LOKA

loading screen

Source: https://cointelegraph.com/press-releases/league-of-kingdoms-launches-loka-token-following-huge-user-base-growth

Dirilis pertama kali pada 2020, League of Kingdoms berhasil meluncurkan token pertamanya, yakni LOKA, pada Januari 2022 lalu. Perilisan token ini diputuskan setelah melihat pertumbuhan pemain sejak awal peluncuran game. Hingga saat ini, lebih dari 400.000 ribu a yang tersebar di 210 negara telah memainkan game ini. Beragam aktivitas yang bisa dilakukan oleh para pemainnya yang membuat game ini berhasil menjadi salah satu game berbasis blockchain yang paling banyak dimainkan.

Sampai artikel ini ditulis, token LOKA mencatat harga per kepingnya senilai 1.28 USD, lho, dengan volume perdagangan dalam 24 jam terakhir sebanyak 101.293.447 USD, melansir CoinMarketCap. Fantastis, bukan? Hingga saat ini, sudah beredar lebih dari 25 juta token LOKA di pasaran dari maksimal supply sebesar 500 juta keping.

Perdagangan Tanah Hingga Sumber Daya Dalam League of Kingdoms

Sebelum mengetahui apa saja yang bisa diperdagangkan, ini adalah hal-hal yang bisa kita lakukan dalam game, yaitu:

  1. Para pemain League of Kingdoms bisa membangun kerajaan
  2. Membentuk dan meningkatkan kemampuan pasukan 
  3. Melakukan aktivitas bertani dan berburu untuk mengumpulkan amunisi yang dapat memperkuat sistem pertahanan kerajaan Anda.

Lalu, apa saja yang bisa diperdagangkan dalam game NFT ini? 

Ada dua konsep dalam permainan ini. 

Pertama, Anda bisa menghasilkan aset kripto (token NFT) dengan cara sebagai berikut:

  1. Mencetak sumber daya atau pasukan terbaik.
  2. Membeli sumber daya atau tentara terbaik dengan cara membakar token NFT yang sudah Anda miliki sebelumnya. 

Apakah perdagangannya hanya seputar sumber daya? Tentu tidak.

Selanjutnya alias yang kedua, Anda bisa juga memperluas kerajaan Anda dengan cara::

  1. Memperluas aset tanah yang Anda miliki dengan penerapan konsep perdagangan serupa seperti yang telah dijelaskan di atas. 
  2. Setelah membeli lahan, Anda bisa membangun kerajaan
  3. Memperkuat apa yang sudah Anda miliki dengan memperoleh sumber daya terbaik yang bisa terus dikembangkan lewat pelatihan.

Cara Bermain Game League of Kingdoms

gameplay league of kingdoms

Source: https://www.esports.net/crypto/games/league-of-kingdoms/

Sebenarnya, cara bermain game League of Kingdoms cukup mudah. Pemain hanya perlu menerapkan konsep investasi dalam kehidupan sehari-hari ke dunia game metaverse ini. Misalnya, pemain bisa menjadi pemilik tanah atau lahan. Jika dalam kehidupan Anda membeli tanah tersebut dengan uang Rupiah, di sini Anda menggunakan aset kripto berupa token NFT.

Token NFT yang digunakan dalam game ini juga beragam, tak melulu LOKA saja. Anda bisa menggunakan dua pilihan token lainnya, yakni Land dan Drago. Setiap lahan yang Anda miliki akan memberikan keuntungan bagi para pemain. Selaku pemilik tanah, Anda akan memperoleh keuntungan sebesar 5 persen dari sumber daya yang bekerja di tanah Anda.

Apakah League of Kingdoms game NFT Gratis?

Jangan khawatir, selayaknya game NFT pada umumnya, League of Kingdoms dapat dimainkan dengan gratis.

Jadi, Anda bisa langsung mengunduh game ini, registrasi, dan bermain. Namun, beberapa hal dalam game atau yang biasa disebut dengan ‘in-game asset’ memang tidak bisa diperoleh secara cuma-cuma.

Akan tetapi para pemain harus memiliki lahan yang disebut dengan LAND. LAND ini adalah in-game asset yang berupa NFT, sehingga di setiap kepingnya sudah terpatenkan kode unik dan jika Anda memiliki LAND, maka Anda merupakan pemilik seutuhnya. Setiap LAND yang dimiliki bisa mengalami peningkatan level dengan perolehan reward yang berbeda pula.

harga tanah di league of kingdoms

Source: OpenSea

Berapa Harga LAND League of Kingdoms?

Melansir OpenSea, marketplace NFT di mana LAND dari League of Kingdoms dijual, harga LAND sangatlah beragam. Ada yang kurang dari 1 ETH, hingga yang 44 ETH atau sekitar 89 ribu USD, lho! Tentunya, setiap LAND memiliki ciri khasnya masing-masing yang membuatnya memiliki harga yang variatif.


Nah, setelah membaca penjelasan terkait apa itu League of Kingdoms dan bagaimana cara bermainnya, apakah Anda tertarik untuk mulai memainkan game berbasis blockchain ini? Tak hanya bisa menghibur suasana hati yang sedang suntuk, game ini juga bisa membantu Anda memperoleh cuan dari token-token NFT yang Anda kumpulkan.

Metaverse

Bos Meta Mark Zuckerberg Optimis Metaverse Berpotensi Jangka Panjang

Published

on

CEO Meta, Mark Zuckerberg. Foto: Michael Nagle/Bloomberg.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyatakan masih memiliki optimisme jangka panjang untuk metaverse. Ungkapannya itu disampaikan untuk menjawab pandang negatif masa depan metaverse di tengah crypto winter.

Pada pertemuan beberapa nama besar di sektor keuangan, Zuckerberg ditanyai tentang meningkatnya kekhawatiran atas Metaverse. Ia juga tidak terpengaruh oleh skeptisisme seputar kondisi model metaverse saat ini.

“Skeptisisme tidak terlalu mengganggu saya,” kata CEO perusahaan induk Facebook di DealBook Summit pada hari Rabu (30/11).

Zuckerberg mengatakan dia masih optimis tentang metaverse dalam jangka waktu yang lebih lama. Ia mengakui bahwa Meta perlu beroperasi dengan “lebih banyak efisiensi dan disiplin” dalam waktu dekat karena kesengsaraan ekonomi makro telah memaksa perusahaan untuk mengurangi pengeluaran.

Zuckerberg Rugi dari Metaverse

Meta, perusahaan induk Facebook setop rekrut karyawan. Foto: Meta, perusahaan induk Facebook setop rekrut karyawan. Foto: Getty Images.Getty Images.
Meta, perusahaan induk Facebook setop rekrut karyawan. Foto: Getty Images.

Baca juga: Negara Tuvalu Terancam Tenggelam, Rencana Pindah ke Metaverse

Sejak diumumkan, metaverse telah mendapat banyak penentang dan skeptis. Namun, suara-suara itu tampaknya tidak menembus proses pemikiran CEO Meta yang berbicara dengan gemilang tentang prospek masa depannya.

“Cara kita berkomunikasi menjadi lebih kaya dan mendalam,” kata Zuckerberg. Selanjutnya, dia berbagi bahwa Meta optimis tentang bagaimana platform akan berkembang di sepanjang “lima hingga sepuluh tahun”.

Pernyataan itu pasti memberi pandangan Zuckerberg tetap fokus pada pengembangan metaverse, meski telah menghasilkan kerugian miliaran dolar AS bagi perusahaan.

Fokus Metaverse

Avatar CEO Meta, Mark Zuckerberg di Metaverse.
Avatar CEO Meta, Mark Zuckerberg di Metaverse.

Baca juga: Bank Indonesia Rilis White Paper Proyek Garuda CBDC Digital Rupiah

Pendiri Facebook itu bersikukuh bahwa kemajuan bergerak ke arah yang benar.

“Skeptisisme tidak terlalu mengganggu saya,” Zuckerberg menyatakan, “Kami memiliki keraguan sepanjang waktu.”

Sebaliknya, dia mengakui bahwa Meta membutuhkan “lebih banyak efisiensi dan disiplin” dalam jangka pendek. Terutama mengikuti realitas ekonomi yang akan berdampak pada bagaimana platform dikembangkan di tengah keadaan ekonomi makro.

Secara meyakinkan, Zuckerberg berbagi bahwa 80% waktu Meta dihabiskan untuk rangkaian medianya, mengerjakan host aplikasinya, termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan lainnya. Jadi, sisa waktunya dihabiskan untuk mengembangkan Metaverse.

Continue Reading

Metaverse

Negara Tuvalu Terancam Tenggelam, Rencana Pindah ke Metaverse

Published

on

Negara Tuvalu terancam tenggelam, rencana pindah ke metaverse. Foto: Brandi Mueller | Moment | Getty Images.

Negara Tuvalu mengatakan tidak punya pilihan selain pindah ke metaverse karena terancam tenggelam. Suhu global yang diperkirakan akan meningkat sebanyak 2,8 derajat Celcius pada akhir abad ini, membuat air laut meninggi.

Menteri Luar Negeri Tuvalu, Simon Kofe menjelaskan pada KTT iklim COP27 bahwa Tuvalu akan melihat ke arah metaverse untuk melestarikan budaya dan sejarahnya di tengah naiknya permukaan laut.

“Saat tanah kami menghilang, kami tidak punya pilihan selain menjadi negara digital pertama di dunia. Tanah kami, lautan kami, budaya kami adalah aset paling berharga dari rakyat kami. Dan untuk menjaga mereka aman dari bahaya, apa pun yang terjadi di dunia fisik, kami akan memindahkan mereka ke cloud,” kata Kofe dikutip Reuters.

Negara Digital

Menteri Luar Negeri Tuvalu, Simon Kofe. Foto: Reuters.
Menteri Luar Negeri Tuvalu, Simon Kofe. Foto: Reuters.

Baca juga: Bank Indonesia Rilis White Paper Proyek Garuda CBDC Digital Rupiah

Kofe menarik perhatian global pada COP26 tahun lalu ketika dia berpidato di konferensi sambil berdiri setinggi lutut di laut untuk menggambarkan bagaimana Tuvalu berada di garis depan perubahan iklim.

Tuvalu harus bertindak karena negara-negara laing secara global tidak cukup berbuat untuk mencegah perubahan iklim.

Tuvalu akan menjadi negara pertama yang mereplikasi dirinya sendiri di metaverse. Langkah ini mengikuti kota Seoul dan negara kepulauan Barbados yang tahun lalu mengatakan mereka akan memasuki metaverse untuk masing-masing menyediakan layanan administrasi dan konsuler.

“Idenya adalah untuk terus berfungsi sebagai negara dan lebih dari itu untuk melestarikan budaya kita, pengetahuan kita, sejarah kita dalam ruang digital,” kata Kofe kepada Reuters menjelang pengumuman tersebut.

Ancaman Tenggelam

Negara Tuvalu terancam tenggelam, rencana pindah ke metaverse. Foto: Getty Images.
Negara Tuvalu terancam tenggelam, rencana pindah ke metaverse. Foto: Getty Images.

Baca juga: Kelas Kripto: Apa Itu Airdrop?

Tuvalu adalah negara kepulauan yang terdiri dari sembilan pulau yang terletak di antara Australia dan Hawaii. Ini adalah rumah bagi sekitar 12.000 orang. Ilmuwan iklim mengantisipasi seluruh negara Tuvalu akan berada di bawah air pada akhir abad ke-21.

Tuvalu telah lama menjadi penyebab utama risiko perubahan iklim dan naiknya permukaan laut. Hingga 40% dari ibukota distrik berada di bawah air saat air pasang, dan seluruh negara diperkirakan akan terendam air pada akhir abad ini.

Kofe mengatakan dia berharap pembentukan negara digital akan memungkinkan Tuvalu untuk terus berfungsi sebagai sebuah negara bahkan jika itu benar-benar terendam.

Hal ini penting karena pemerintah memulai upaya untuk memastikan bahwa Tuvalu terus diakui secara internasional sebagai sebuah negara dan batas lautnya – dan sumber daya di dalam perairan tersebut – dipertahankan bahkan jika pulau-pulau tersebut terendam.

Continue Reading

Blockchain

World Blockchain Summit Bangkok 2022 Digelar Desember Mendatang

Published

on

World Blockchain Summit Bangkok 2022 Siap Digelar Desember Mendatang.

World Blockchain Summit akan kembali digelar pada akhir tahun 2022. Salah satu acara konferensi blockchain terbesar ini akan diselenggarakan di Bangkok pada tanggal 8-9 Desember mendatang.

World Blockchain Summit edisi ke-23 nanti akan mengeksplorasi tren terbaru dalam lingkup blockchain, kripto, dan web3. Para pakar, pengusaha, dan investor terkemuka di industri blockchain akan berkumpul dan berbagi pengetahuan serta membangun jaringan.

Nicole Nguyen, Co-founder, APAC DAO, mengatakan World Blockchain Summit edisi Bangkok bertujuan untuk menjadi penghubung bagi semua pemangku kepentingan penting dari ekosistem blockchain, kripto, dan web3. Seluruh stakeholders, investor, perusahaan dapat membahas dan mempertimbangkan masa depan industri blockchain yang secara revolusioner dapat mengubah bisnis dan fungsi pemerintah.

“Bangkok dan WBS selalu menjadi jantung dari gerakan web3 di APAC dan sebagai komunitas web3 terkemuka di Asia, APAC DAO tertarik untuk berjejaring dan mengeksplorasi potensi kolaborasi dengan mitra global dan pemimpin bisnis untuk menjadi landasan peluncuran terkemuka untuk pembuat web3 di wilayah ini,” kata Nguyen dalam pernyataan resminya.

Thailand sendiri mencatat US$ 135,9 miliar dalam nilai kripto yang ditransaksikan sepanjang tahun dan muncul sebagai salah satu pusat perdagangan kripto di ASEAN.

Pembicara World Blockchain Summit Bangkok 2022

Baca juga: JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

WBS Bangkok 2022 akan mengumpulkan para tokoh terkemuka dari ruang blockchain global dan regional. Beberapa tokoh yang berbicara dalam acara tersebut antara lain:

  • Jirayut Srupsrisopa, Pendiri dan CEO Grup, Bitkub Capital Group Holdings Co., Ltd;
  • Sanjay Popli, CEO, Grup Cryptomind, Penasihat, Asosiasi Aset Digital Thailand;
  • Daniel Oon , Kepala DeFi, Algorand Foundation;
  • Kanyarat Saengsawang, Kepala Pertumbuhan, The Sandbox;
  • Matt Sorg, Kepala Teknologi, Solana Foundation;
  • Nicole Nguyen, Co-founder, APAC DAO.

“Saya menantikan untuk terhubung dengan para pemimpin pasar dan komunitas yang lebih luas, di acara utama blockchain di Asia Tenggara untuk tahun 2022.” kata Toby Gilbert, Cofounder & CEO, Coinweb, salah satu pembicara di WBS Bangkok 2022.

Mohammed Saleem, Founder & CEO, World Blockchain Summit menyatakan “Dengan adopsi global teknologi blockchain yang memiliki dampak signifikan pada setiap sektor bisnis dan industri, Thailand muncul sebagai pemimpin kripto di pasar ASEAN, kami bermaksud untuk menyatukan para pecinta kripto di konferensi dua hari dengan tujuan ‘Fostering the Future of Web 3.0’.”

Bagi kamu yang tertarik untuk menghadiri World Blockchain Summit Bangkok 2022 bisa mendapatkan diskon atau potongan harga tiket sebesar 15% dengan memasukan kode voucher TOKCRYP15. Link pembelian tiket bisa akses di sini.

Continue Reading

Popular