Connect with us

Metaverse

Bank DBS dan The Sandbox Kolaborasi Luncurkan Metaverse Interaktif

Published

on

Bank DBS dan The Sandbox kolaborasi luncurkan metaverse interaktif. Foto: DBS.

DBS Bank Ltd (DBS) mengumumkan kemitraan dengan The Sandbox, anak perusahaan Animoca Brands, untuk menciptakan DBS BetterWorld, sebuah dunia metaverse interaktif yang berkelanjutan. Langkah ini sebagai upaya penting membangun dunia yang lebih baik.

Kolaborasi ini menjadikan DBS sebagai perusahaan Singapura pertama yang menjalin kerja sama dengan The Sandbox dan bank pertama di Negeri Singa yang terjun ke dunia metaverse.

Langkah tersebut juga menandai tonggak pencapaian baru dalam perjalanan DBS yang terus mengeksplorasi potensi peluang Web3 sebagai bentuk kontribusi bank dalam menciptakan dunia yang lebih baik bagi nasabah dan khalayak yang lebih luas.

DBS Akuisisi Lahan Metaverse

Sebagai wujud kerja sama, DBS akan mengakuisisi lahan berukuran 3×3 LAND – unit real estate virtual di metaverse The Sandbox, yang akan dikembangkan dengan elemen imersif.

Bank DBS dan The Sandbox kolaborasi luncurkan metaverse interaktif. Foto: Getty Images.
Bank DBS dan The Sandbox kolaborasi luncurkan metaverse interaktif. Foto: Getty Images.

Baca juga: Disney Metaverse akan Hadir Bawa Konsep Taman Hiburan Virtual

“Selama satu dekade terakhir, perubahan terbesar di industri jasa keuangan dikatalisasi oleh kemajuan digital. Dalam beberapa dekade mendatang, didorong oleh teknologi baru seperti artificial intelligence dan blockchain, perubahan tersebut berpotensi menjadi lebih besar,” kata CEO DBS, Piyush Gupta dalam keterangan resminya.

“Teknologi metaverse, yang masih berkembang, juga dapat secara mendasar mengubah cara bank berinteraksi dengan nasabah dan masyarakat.”

Gupta menambahkan kemitraan dengan The Sandbox dan Animoca Brands menandai awal dari kolaborasi yang menarik dan melampaui batasan-batasan dari apa yang dapat dilakukan di dunia metaverse.

The Sandbox Ciptakan SingaporeVerse

Co-Founder and Executive Chairman of Animoca Brands, Yat Siu, mengatakan sangat senang dengan kolaborasi ini. “Kami sangat senang dapat bersama-sama menciptakan open metaverse bersama Bank DBS melalui kolaborasi ini bersama anak perusahaan kami, yaitu The Sandbox,” jelas Yat Siu.

Sementara, COO and Co-Founder The Sandbox, Sebastian Borget, mengungkap pihaknya telah menciptakan SingaporeVerse, sebuah lingkungan di peta virtual yang akan menghidupkan budaya Singapura ke dalam dunia metaverse secara atraktif, netral, dan inklusif yang terbuka bagi semua orang.

The Sandbox luncurkan Alpha Season 3. Foto: The Sandbox.
The Sandbox luncurkan Alpha Season 3. Foto: The Sandbox.

Baca juga: Starbucks NFT Segera Hadir Bisa Kasih Reward Menarik, Apa Itu?

“Permasalahan ESG merupakan isu yang kami anggap penting, dan kami mengharapkan adanya kolaborasi untuk sebuah pengalaman yang mengundang seluruh audiens dalam membuat dampak global yang positif, dan mungkin untuk menemukan peluang lain yang dapat mengubah hidup mereka melalui metaverse,” terang Borget.

DBS bertujuan agar DBS BetterWorld menjadi platform untuk menambah keterlibatan para nasabah dalam mencapai tujuan keberlanjutan dengan menyediakan jalan bagi para pengunjung ke The Sandbox untuk mempelajari lebih lanjut tentang isu-isu ESG.

DBS akan menggunakan platform tersebut untuk membuat profil wirausaha sosial di Asia yang memberikan dampak positif melalui model bisnis yang inovatif. Selain itu, DBS akan bekerja sama dengan pemerintah, komunitas, pelaku bisnis, dan pemain di sektor teknologi untuk mengembangkan konsep yang bermanfaat guna memperkaya pengalaman dari DBS BetterWorld.

Blockchain

Ini Wujud Pernikahan Metaverse Pertama di The Sandbox

Published

on

The Sandbox gelar pernikahan pertama di dunia metaverse. Foto: Smobler Studios.

The Sandbox akhirnya membawa realitas virtual ke level berikutnya dengan memanfaatkan metaverse tidak hanya untuk bermain game, tetapi juga untuk pernikahan. Untuk menggelar momen suci ini, Sandbox bekerja sama dengan 1-Group dan Smobler Studios.

The Sandbox mengadakan pernikahan pertamanya di metaverse-nya secara hybrid, digital dan kehidupan nyata. Ini merupakan lompatan baru dari perkembangan metaverse dan mendobrak tradisi pernikahan di Asia.

 The Sandbox gelar pernikahan pertama di dunia metaverse. Foto: Smobler Studios.
The Sandbox gelar pernikahan pertama di dunia metaverse. Foto: Smobler Studios.

Baca juga: The Sandbox Rilis Alpha Season 3 Harapkan Pengguna Bahagia di Metaverse

Pengantin yang menikah di metaverse Sandbox adalah pasangan asal Singapura, Joanne Tham dan Clarence Chan, yang merupakan CEO Bandwagon. Mereka merayakan pernikahan pada hari Sabtu (17/9) dalam tema “disko glam 70-an”, yang berlangsung di replika digital The Alkaff Mansion yang terkenal di Singapura.

Desain Pernikahan Metaverse

Untuk momen spesial ini, arsitektur metaverse dan agensi desain Web3, Smobler Studios, membuat aset melalui The Sandbox yang menciptakan The Alkaff Mansion dan arsitekturnya yang khas.

Sementara, pasangan itu secara fisik hadir di tempat hotel dunia nyata bersama dengan beberapa tamu, avatar digital mereka juga hadir dalam metaverse The Sandbox dan dapat dilihat oleh tamu yang bergabung dari jarak jauh. Acara ini diresmikan oleh salah satu pendiri dan kepala operasi The Sandbox Sebastien Borget dalam bentuk avatar digital.

Baca juga: Bank DBS dan The Sandbox Kolaborasi Luncurkan Metaverse Interaktif

Setelah ciuman virtual pertama mereka sebagai suami dan istri, pasangan itu keluar dari Metaverse untuk melanjutkan perayaan mereka secara offline.

Pernikahan digital sangat dapat disesuaikan sehingga dapat dibentuk sejauh imajinasi seseorang membawanya. Pasangan dapat mewujudkan impian fantastis mereka di dunia metaverse, semua tanpa biaya yang lebih besar dan batasan pernikahan fisik di dunia pasca pandemi.

Continue Reading

Metaverse

Disney Metaverse akan Hadir Bawa Konsep Taman Hiburan Virtual

Published

on

Disney Metaverse akan hadir bawa konsep taman hiburan virtual. Foto: Walt Disney.

Disney sedang merencanakan metaverse yang akan membuat orang mengunjungi tempat paling ajaib di Bumi tanpa pernah menginjakkan kaki di taman hiburan. Konsep metaverse yang nanti bakal ditampilkan merupakan dari theme park, Disneyland Resort.

CEO Walt Disney, Bob Chapek, mengatakan metaverse yang sedang dikembangkan oleh perusahaannya akan ada di platform streaming, Disney+, dan memungkinkan 90 persen orang yang tidak akan pernah bisa pergi ke Disneyland bisa mengalaminya dalam realitas virtual.

“Kami menyebutnya next-gen storytelling,” Chapek dikutip DailyMail.

CEO Walt Disney, Bob Chapek. Foto: Chris Pizzello/Invision.
CEO Walt Disney, Bob Chapek. Foto: Chris Pizzello/Invision.

Baca juga: Masuk ke Industri Blockchain, FIFA Resmi Luncurkan Platform NFT FIFA+

Konsep Menarik Disney Metaverse

Chapek mencirikan metaverse Disney sebagai cara untuk mengalami taman hiburan bagi banyak orang yang tidak dapat benar-benar melakukan perjalanan secara langsung.

“Kami berharap setiap orang memiliki kesempatan untuk datang ke taman kami, tetapi kami menyadari itu bukan kenyataan bagi sebagian orang,” katanya kepada Deadline.

“kami memiliki kesempatan untuk mengubah apa yang merupakan platform layanan streaming menjadi metaverse. Platform mereka kemampuan untuk mengendarai Haunted Mansion dari sudut pandang virtual.”

Hadirkan Pengalaman Eksklusif

Chapek juga mengatakan pengguna metaverse akan memiliki pengalaman di luar apa yang dimiliki pengunjung Disneyland biasa, dan dapat keluar dari wahana untuk menjelajahi set dan berinteraksi dengan karakter.

Disney Metaverse akan hadir bawa konsep taman hiburan virtual. Foto: Walt Disney.
Disney Metaverse akan hadir bawa konsep taman hiburan virtual. Foto: Walt Disney.

Baca juga: Para Peneliti Cari Rumus Terbaik Kebijakan Blockchain di Indonesia

“Mungkin kita akan memberi mereka kesempatan apa yang ingin dilakukan setiap orang di taman, dan sayangnya terlalu banyak dari mereka melakukannya, hanya untuk melepaskan ketertarikan. Lihat cara kerjanya, lihat bagaimana penari hantu itu bergerak,” katanya.

Rencana Disney membuat konsep metaverse dari Disneyland juga disambut kritikan. Banyak yang menanggapi dengan menyebut langkah itu tidak berhubungan dengan basis penggemar Disney, dan berpendapat bahwa jika Disneyland berhenti menaikkan harga, lebih banyak orang akan dapat berkunjung.

Harga tiket masuk Disneyland telah meroket sejak Chapek sepenuhnya diberikan kekuasaan pada tahun 2022. Di taman California, harga tiket melonjak 6 persen menjadi US$ 164 untuk satu taman, sementara harga masuk ke lebih dari satu taman selama satu hari naik 9 persen menjadi US$ 319.

Continue Reading

Metaverse

Ini Alasan Elon Musk Tak Tertarik dengan Metaverse

Published

on

Elon Musk usul Twitter dan Tesla terima pembayaran pakai Dogecoin. Foto: Getty Images.

Topik metaverse dan Web3 semakin banyak mencuri perhatian masyarakat. Namun di sisi lain, ada sosok tokoh dunia yang belum tertarik membahas kedua topik itu, dialah Elon Musk.

Dikutip Futurism, Musk sempat menyebutkan metaverse dan Web3 sebagai gimmick dan salah satu trik marketing. Ia tentu saja tidak terdorong oleh gagasan metaverse, walau sudah banyak perusahaan, bahkan negara yang mengembangkannya.

“Saya tidak melihat seseorang memasang layar ke wajah mereka sepanjang hari,” kata CEO Tesla dan SpaceX dalam sebuah wawancara dengan The Babylon Bee.

“Tentu saja kamu bisa memasang TV di hidungmu,” tambahnya dengan nada mengejek. “Aku tidak yakin itu membuatmu ‘di metaverse.'”

Ilustrasi metaverse.
Ilustrasi metaverse.

Baca juga: TokoMall Dukung NFT Bira, Bangun Ekosistem Web3 Perspektif Baru

Pilih Kembangkan Chip Masuk ke Otak Manusia

Dibandingkan dengan mengembangkan metaverse, Musk malah memilih mengembangkan chip yang bisa ditanamkan ke otak manusia yang diklaim akan memudahkan kehidupan mereka. Teknologi itu sedang dikembangkan oleh Neuralink merupakan perusahaan yang dimiliki Elon Musk.

Menurut Musk, dengan menanamkan chip di otak akan lebih berguna dibandingkan metaverse dengan konsep memakai perangkat keras, seperti virtual reality (VR) atau kacamata pintar untuk beralih ke dunia virtual. Ia bahkan menambahkan bahwa headset VR cenderung memicu mabuk perjalanan saat bermain video game.

“Dalam jangka panjang, Neuralink yang canggih dapat menempatkan Anda sepenuhnya ke dalam realitas virtual. Saya pikir kita masih jauh dari metaverse, ini terdengar seperti kata-kata kunci,” ujar Musk.

Ilustrasi Ketika lembaga pemerintahan Indonesia melirik pengembangan metaverse. Foto: Pusat Penerangan Kemendagri.
Ilustrasi Ketika lembaga pemerintahan Indonesia melirik pengembangan metaverse. Foto: Pusat Penerangan Kemendagri.

Baca juga: Proyek Kripto Metaverse yang Bisa Dilirik di Tahun 2022

Musk berujar bahwa orang tidak akan suka bergerak dengan headset VR sepanjang waktu yang menurutnya akan membosankan. Dia juga mengungkap ada saran untuk tidak boleh duduk terlalu dekat dengan televisi, yang konsepnya sama seperti VR saat ini.

Neuralink sempat menargetkan untuk mulai menanamkan microchip pada manusia awal tahun ini. Namun, kemudian melewati target dan hanya mengklaim, chip itu bekerja dengan baik pada monyet.

Continue Reading

Popular