Connect with us

Policy & Regulations

Bithumb Salah Kirim 620.000 BTC, Bank Korea Selatan Siapkan ‘Rem’ Darurat

Bank of Korea usulkan circuit breakers untuk exchange kripto usai kesalahan fatal Bithumb kirim 620.000 BTC. Tim Research Tokocrypto menjelaskan, ini regulasi operasional yang sangat masuk akal, karena Korea Selatan jelas tidak mau exchange bertumbuh dengan standar kontrol yang lebih longgar dari lembaga keuangan tradisional.

Tivan

Published

on

Platfrom exchange kripto asal Korea Selatan, Bithumb. Foto: Getty Images.

Insiden fatal yang melibatkan Bithumb, exchange kripto besar di Korea Selatan, menjadi titik balik penting bagi arah regulasi industri aset digital di Negeri Ginseng.

Sebagaimana dilaporkan Cointelegraph, Bank of Korea kini secara resmi mengusulkan penerapan mekanisme circuit breakers untuk exchange kripto, menyusul kesalahan transfer besar yang terjadi di Bithumb pada Februari lalu.

Alih-alih mentransfer 620.000 won, Bithumb secara tidak sengaja mengirim 620.000 BTC dalam sebuah transaksi internal.

Jika dikonversikan, nilai kesalahan itu setara dengan sekitar 42 miliar dolar AS pada saat kejadian, menjadikannya salah satu blunder operasional paling ekstrem dalam sejarah kripto.

Baca Juga: Bithumb Terancam Suspensi 6 Bulan di Korea Selatan

Kronologi: Salah Input, Dampaknya Global

Kesalahan bermula dari human error sederhana: salah memasukkan nominal transfer.

Namun karena sistem tidak memiliki pembatas otomatis, angka yang seharusnya kecil justru berubah menjadi transaksi masif dalam skala Bitcoin.

Meski Bithumb bergerak cepat dan membatalkan transaksi dalam hitungan menit, kerusakan sempat terjadi. Sebanyak 1.788 BTC dilaporkan sudah terjual sebelum sistem berhasil dikendalikan sepenuhnya.

Peristiwa ini langsung memicu kekhawatiran besar, tidak hanya di kalangan investor, tetapi juga regulator. Bagaimana mungkin sebuah exchange besar bisa melakukan kesalahan dengan skala sebesar itu tanpa sistem pengaman yang memadai?

Bank Sentral Turun Tangan

Menanggapi insiden tersebut, Bank of Korea tidak tinggal diam. Mereka mengusulkan penerapan circuit breakers, mekanisme penghentian sementara perdagangan, yang selama ini lazim digunakan di pasar saham tradisional.

Tujuannya jelas: memberikan waktu bagi sistem dan operator untuk mengevaluasi kondisi ketika terjadi anomali ekstrem, baik akibat kesalahan internal maupun pergerakan harga yang tidak wajar.

Selain itu, bank sentral juga menekankan pentingnya dua hal krusial:

  • Sistem pencegahan human error yang lebih ketat
  • Verifikasi internal antara data exchange dan blockchain secara real-time

Langkah ini menandakan bahwa regulator ingin memastikan exchange kripto memiliki standar operasional setara, atau bahkan lebih tinggi, dibanding lembaga keuangan tradisional.

Standar Baru untuk Industri Kripto

Selama ini, industri kripto dikenal dengan fleksibilitas dan inovasi yang cepat. Namun, insiden seperti yang terjadi di Bithumb menunjukkan bahwa kurangnya kontrol operasional bisa berujung pada risiko sistemik.

Tim Research Tokocrypto menilai langkah Bank of Korea sebagai respons yang logis dan diperlukan.

“Ini regulasi operasional yang sangat masuk akal, karena Korea Selatan jelas tidak mau exchange bertumbuh dengan standar kontrol yang lebih longgar dari lembaga keuangan tradisional. Dampaknya, compliance dan proteksi market structure akan makin ketat, sementara trading halt darurat bisa jadi alat baru saat error internal mengganggu harga,” ujar Tim Research Tokocrypto.

Dengan kata lain, era “bebas tanpa pagar” di industri kripto perlahan mulai ditinggalkan—setidaknya di negara dengan pengawasan ketat seperti Korea Selatan.

Dampak ke Pasar: Lebih Aman, Tapi Lebih Kaku?

Penerapan circuit breakers tentu membawa konsekuensi. Di satu sisi, mekanisme ini dapat meningkatkan kepercayaan investor karena adanya perlindungan tambahan terhadap kejadian ekstrem.

Namun di sisi lain, hal ini juga bisa mengurangi fleksibilitas pasar kripto yang selama ini dikenal berjalan 24/7 tanpa henti.

Trading halt, meskipun bersifat sementara, berpotensi mengganggu strategi trader, terutama yang mengandalkan volatilitas tinggi.

Selain itu, peningkatan standar compliance juga berarti biaya operasional exchange akan meningkat. Hal ini bisa berdampak pada biaya transaksi atau bahkan memperkecil margin bisnis bagi platform kripto.

Sinyal Global untuk Regulasi Kripto

Apa yang terjadi di Korea Selatan kemungkinan besar tidak akan berhenti di sana. Negara lain bisa menjadikan insiden ini sebagai pelajaran penting dalam merumuskan kebijakan serupa.

Dengan semakin besarnya nilai transaksi di pasar kripto, risiko kesalahan operasional juga ikut meningkat. Tanpa sistem pengaman yang kuat, satu kesalahan kecil bisa berdampak besar secara global.

Langkah Bank of Korea ini bisa menjadi awal dari tren baru: integrasi standar keuangan tradisional ke dalam ekosistem kripto.

Antara Inovasi dan Keamanan

Kasus Bithumb menjadi pengingat bahwa di balik teknologi canggih, faktor manusia tetap menjadi titik lemah.

Oleh karena itu, keseimbangan antara inovasi dan keamanan menjadi kunci utama dalam perkembangan industri ini.

Apakah regulasi ini akan membuat pasar kripto lebih stabil? Kemungkinan besar iya. Namun, pertanyaannya: apakah industri siap mengorbankan sebagian fleksibilitas demi keamanan yang lebih tinggi?

Yang jelas, setelah insiden ini, satu hal menjadi pasti—kesalahan kecil tidak lagi bisa ditoleransi dalam dunia kripto bernilai miliaran dolar.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending