Connect with us

Crypto

XRP Turun di Bawah US$1, Analis Ingatkan Pola Panic Selling di Pasar Kripto

Tim Research Tokocrypto melihat komentar tersebut kembali digunakan oleh pelaku pasar bullish sebagai pengingat bahwa narasi negatif sering muncul saat harga turun tajam.

Tivan

Published

on

Ilustrasi aset kripto XRP. Sumber: FX Empire.

Harga XRP kembali turun di bawah level US$1 pekan ini, menyentuh area sekitar US$0,99 di tengah tekanan jual pasar kripto yang lebih luas. Pelemahan tersebut memicu kembali komentar bearish di media sosial, termasuk pandangan bahwa XRP dan aset kripto secara umum sedang memasuki fase penurunan lebih dalam.

Namun, tidak semua pelaku pasar melihat koreksi ini sebagai sinyal akhir tren. Sebagian analis menilai kepanikan seperti ini sudah berulang kali terjadi di pasar kripto, terutama pada Bitcoin yang disebut telah lebih dari 470 kali dinyatakan “mati” sejak kemunculannya.

Tim Research Tokocrypto melihat komentar tersebut kembali digunakan oleh pelaku pasar bullish sebagai pengingat bahwa narasi negatif sering muncul saat harga turun tajam.

“Meski demikian, pendekatan seperti ini tetap perlu dibaca hati-hati karena performa masa lalu tidak menjamin hasil yang sama di masa depan,” katanya.

XRP Kembali Kehilangan Level US$1

Penurunan XRP di bawah US$1 menjadi perhatian karena level tersebut merupakan batas psikologis penting bagi trader. Ketika harga turun di bawah angka bulat seperti ini, sentimen pasar sering kali menjadi lebih sensitif terhadap tekanan jual.

XRP sempat menyentuh level sekitar US$0,99 setelah pasar kripto bergerak melemah secara umum. Koreksi ini terjadi ketika beberapa aset besar juga mengalami tekanan, membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil posisi baru.

Bagi sebagian trader, penurunan di bawah US$1 dapat membuka risiko koreksi lanjutan. Namun, bagi investor jangka panjang, area harga yang lebih rendah sering dilihat sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi bertahap.

Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat pasar XRP saat ini terbelah. Satu sisi melihat penurunan sebagai tanda pelemahan struktur harga, sementara sisi lain melihatnya sebagai bagian dari siklus volatilitas kripto yang sudah sering terjadi.

Baca juga: Bitcoin Turun, Dua Dana Abu Dhabi Tanggung Kerugian US$118 Juta dari IBIT

Narasi “Crypto Mati” Kembali Muncul

Coach JB menyoroti bahwa Bitcoin telah dinyatakan “mati” lebih dari 470 kali sejak awal kemunculannya. Angka tersebut sering digunakan oleh komunitas kripto untuk menunjukkan bahwa narasi negatif hampir selalu muncul setiap kali pasar mengalami koreksi besar.

Menurutnya, investor yang terlalu cepat percaya pada narasi tersebut berisiko melewatkan pemulihan jangka panjang. Namun, argumen ini tetap memiliki kelemahan karena menggunakan sudut pandang hindsight atau melihat kejadian setelah hasilnya diketahui.

Dengan kata lain, fakta bahwa Bitcoin pernah pulih dari banyak koreksi tidak otomatis berarti setiap aset kripto akan selalu pulih. Pasar tetap memiliki risiko tinggi, terutama untuk aset dengan volatilitas besar seperti XRP.

Meski begitu, pola komentar bearish saat harga turun memang bukan hal baru. Setiap kali pasar melemah, narasi kepanikan cenderung meningkat, sementara pelaku pasar jangka panjang biasanya lebih fokus pada strategi akumulasi dan manajemen risiko.

Performa XRP dan Bitcoin Sejak 2020

Berdasarkan angka yang dibagikan Coach JB, Bitcoin tercatat naik sekitar 796% sejak Januari 2020. Dalam periode yang sama, XRP naik sekitar 445%.

Sebagai perbandingan, emas naik sekitar 179%, S&P 500 naik sekitar 137%, dan real estate AS naik sekitar 55% dalam periode tersebut.

Data ini menunjukkan bahwa XRP dan Bitcoin masih mencatat performa historis yang kuat dalam jangka panjang. Namun, angka tersebut tidak menggambarkan seluruh risiko yang terjadi di sepanjang perjalanan.

Dikutip Coinpedia, XRP sempat menghadapi tekanan besar akibat kasus hukum bertahun-tahun dengan SEC. Bitcoin juga mengalami beberapa drawdown tajam yang membuat banyak investor keluar dari pasar saat volatilitas meningkat.

Karena itu, data performa sejak 2020 perlu dibaca sebagai gambaran historis, bukan prediksi. Kenaikan besar di masa lalu tidak menghapus risiko koreksi tajam di masa depan.

Strategi DCA di Tengah Koreksi

Alih-alih melihat penurunan XRP di bawah US$1 sebagai sinyal untuk keluar, Coach JB menyebut dirinya menggunakan strategi dollar-cost averaging atau DCA. Strategi ini dilakukan dengan membeli secara bertahap ketika harga turun dan mengambil profit saat harga kembali pulih.

Menurutnya, pendekatan ini membantu investor mengurangi tekanan psikologis karena tidak perlu menebak titik terendah secara tepat. DCA juga dapat membuat akumulasi lebih disiplin, terutama di pasar yang sangat volatil.

Coach JB mengungkapkan bahwa kepemilikan terbesarnya saat ini adalah XRP, diikuti Bitcoin dan Solana. Ia juga menyebut telah mengakumulasi XRP sejak beberapa tahun lalu, sebelum aset tersebut menjadi trade yang lebih mainstream, serta mulai mengumpulkan Bitcoin sekitar 2023.

Namun, strategi DCA tetap memiliki risiko. Jika aset yang dibeli terus turun atau gagal pulih dalam jangka panjang, investor tetap dapat mengalami kerugian besar. Karena itu, strategi ini perlu disertai manajemen risiko dan pemahaman terhadap aset yang dipilih.

XRP Berisiko Bergerak di US$0,60–US$0,90

Untuk jangka pendek, Coach JB memperkirakan XRP masih dapat bergerak di kisaran US$0,60 hingga US$0,90 sebelum peluang pemulihan muncul pada akhir tahun. Ia juga memperkirakan Bitcoin masih berisiko turun ke area US$40.000 hingga US$50.000.

Namun, proyeksi ini perlu dipahami sebagai pandangan spekulatif satu analis, bukan kepastian pasar. Pergerakan harga kripto sangat dipengaruhi oleh sentimen makro, likuiditas, regulasi, arus dana institusional, dan kondisi teknikal.

Jika XRP gagal kembali merebut level US$1, tekanan jual dapat berlanjut dan pasar berpotensi menguji support yang lebih rendah. Area US$0,90 menjadi level awal yang perlu diperhatikan, sementara penurunan lebih dalam dapat membawa harga ke kisaran US$0,60 hingga US$0,70.

Sebaliknya, jika XRP mampu kembali naik di atas US$1 dan mempertahankan level tersebut, sentimen dapat membaik. Reclaim level psikologis ini akan menjadi sinyal awal bahwa pembeli mulai kembali mengambil kendali.

Secara keseluruhan, penurunan XRP di bawah US$1 kembali menunjukkan tingginya volatilitas pasar kripto. Narasi bearish dan panic selling kemungkinan akan terus muncul setiap kali harga melemah.

Namun, seperti yang sering terjadi dalam siklus kripto, investor perlu membedakan antara kepanikan jangka pendek dan strategi jangka panjang. XRP masih memiliki risiko koreksi lebih lanjut, tetapi arah berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan harga merebut kembali US$1, kekuatan pasar kripto secara umum, dan apakah pembeli besar kembali masuk saat harga berada di area bawah.

Baca juga: SEC Siapkan Regulasi Baru untuk Crypto, Apa yang Bakal Berubah?


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending