Connect with us

Blockchain

Kelas Kripto: Trust Wallet Vs MetaMask, Mana Lebih Baik?

Published

on

Trust Wallet vs MetaMask, mana lebih baik?

Trust Wallet dan MetaMask adalah wallet atau dompet digital tempat Anda dapat menyimpan, mengirim, menerima, menukar, dan membeli aset kripto. Kedua merupakan dua wallet kripto yang paling populer dan sering digunakan oleh banyak penggiat kripto. Pertanyaannya, mana yang lebih baik?

Baik, Trust Wallet dan MetaMask adalah platform sederhana dan ramah bagi pemula di dunia kripto. Keduanya dapat digunakan oleh investor atau traders untuk masuk ke market dengan mudah dan percaya diri.

Kedua dompet ini masing-masing juga memiliki aplikasi mobile, namun ada beberapa perbedaan antara keduanya. Yuk kita bahasa secara detail mengutip artikel dari Coindesk di bawah ini.

Apa Itu Trust Wallet?

Trust Wallet telah menjadi dompet terdesentralisasi resmi dari exchange kripto, Binance sejak diakuisisi pada November 2017. Trust Wallet secara luas dianggap sebagai dompet yang ramah pengguna, aman, dan mudah digunakan. Ini mendukung lebih dari 4,5 juta jenis aset kripto di lebih dari 65 jaringan blockchain.

Ilustrasi dompet kripto, Trust Wallet. Foto: Trust Wallet.
Ilustrasi dompet kripto, Trust Wallet. Foto: Trust Wallet.

Baca juga: Cara Menghasilkan Uang dengan Bermain Game Gods Unchained

Trust Wallet menyediakan lebih banyak fitur daripada sekadar menyimpan aset kripto pengguna. Anda dapat dengan mudah mengakses lebih dari 60 jaringan blockchain, seperti Ethereum dan Polygon dan menggunakan aplikasi terdesentralisasi (dapps) yang populer.

Platform dapps-nya bertindak sebagai jembatan sehingga pengguna bisa mendapatkan akses ke Decentralized Exchange (DEX) populer seperti PancakeSwap dan SushiSwap. Pengguna juga dapat membeli, menukar, dan staking kripto di dalam Trust Wallet.

Soal keamanan, Trust Wallet merupakan hot wallet, artinya terhubung langsung dengan internet. Trust Wallet, bagaimanapun, adalah dompet non-kustodian yang artinya hanya memungkinkan pemiliknya saja yang memiliki dan mengontrol kunci privat dan aset Anda di blockchain. Bagi pengguna yang menginginkan kontrol penuh terhadap dananya, dompet non-kustodian adalah pilihan terbaik.

Apa Itu MetaMask?

MetaMask memiliki konsep dan fungsi yang sama seperti Trust Wallet. MetaMask kompatibel dengan sistem operasi mobile, iOS dan Android, tetapi tidak seperti Trust Wallet, MetaMask juga dapat digunakan di perangkat komputer/laptop.

Ilustrasi dompet kripto, MetaMask. Foto: Getty Images.
Ilustrasi dompet kripto, MetaMask. Foto: Getty Images.

Baca juga: Jelang The Merge, Tokocrypto Bebaskan Biaya Trading Beli Ethereum

MetaMask memungkinkan pengguna berinteraksi dengan berbagai blockchain, seperti Binance Smart Chain dan jaringan Ethereum melalui browser desktop mereka. Sederhananya, ini adalah ekstensi browser web yang dapat terhubung ke dapps seperti platform decentralized finance (DeFi) yang berbeda dan pasar non-fungible token (NFT).

Secara standar, MetaMask dirancang untuk mengakses jaringan Ethereum dan terhubung ke platform, seperti Uniswap dan Compound. Ini mendukung standar token ERC-20, sehingga pengguna dapat menyimpan hampir semua token di jaringan Ethereum.

Salah satu fitur penting dari MetaMask adalah user interface (UI) atau antarmukanya yang sederhana untuk menukar aset kripto. Dari ekstensi atau aplikasi browser web, pengguna dapat mengeklik tombol “Swap” yang memungkinkan untuk menukar berbagai aset kripto dengan cepat dan mudah.

Untuk keamanan, MetaMask sama kuatnya dengan Trust Wallet karena non-kustodian dan hot wallet. Pengguna akan memerlukan dompet non-kustodian saat berinteraksi dengan bursa terdesentralisasi (DEX) atau aplikasi terdesentralisasi (DApp).

Trust Wallet atau MetaMask, Pilih yang Mana?

Pertimbangkan kebutuhan masing-masing pengguna akan mempengaruhi keputusan dalam memilih antara Trust Wallet atau MetaMask. Secara umum, Trust Wallet dan MetaMask berbeda dalam manfaat, fitur, dan pengoperasian.

Pengguna perlu membandingkan dan membedakan kedua dompet tersebut. Daftar ini akan membantu menganalisis dan memutuskan dompet mana yang cocok untuk Anda.

Trust Wallet

Ilustrasi dompet kripto, Trust Wallet. Foto: Trust Wallet.
Ilustrasi dompet kripto, Trust Wallet. Foto: Trust Wallet.

Dompet ini cocok untuk Anda, jika membutuhkan fungsi berikut:

  • Anda membutuhkan fleksibilitas untuk dapat menyimpan lebih dari 4,5 juta jenis aset kripto dan memiliki akses ke lebih dari 60 blockchain.
  • Anda menginginkan opsi untuk membeli aset kripto dengan kartu kredit.
  • Anda ingin mengakses berbagai macam aplikasi terdesentralisasi (dapps) secara langsung melalui aplikasi itu sendiri.

Keterbatasan untuk Dipertimbangkan

  • Tidak ada ekstensi desktop atau browser yang tersedia.

Baca juga: Menimbang Penghentian Izin Baru Exchange Kripto di Indonesia

MetaMask

Ilustrasi dompet kripto, MetaMask. Foto: Getty Images.
Ilustrasi dompet kripto, MetaMask. Foto: Getty Images.

Dompet ini cocok untuk Anda, jika membutuhkan fungsi berikut:

  • Anda terutama tertarik pada dapps berbasis Ethereum dan bertransaksi dengan jaringan Ethereum.
  • Anda memerlukannya agar kompatibel dengan sebagian besar browser dan perangkat mobile berbasis iOS dan Android.
  • Koneksi mudah ke platform, cepat, dan sederhana untuk mengirim ETH ke alamat mana pun dalam aplikasi dalam beberapa detik.

Keterbatasan untuk dipertimbangkan

  • Ekstensi MetaMask berfungsi di sebagian besar, tetapi tidak semua, browser web. Ini kompatibel dengan Chrome, Edge, Brave, dan Firefox.
  • Itu tidak memiliki menu dapps untuk dijelajahi.
  • Itu tidak mendukung Bitcoin.

Blockchain

BPS Pakai Teknologi Blockchain Olah Data Penduduk Indonesia

Published

on

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan menggunakan teknologi blockchain dalam pengolahan data penduduk Indonesia. BPS akan menerapkan blockchain pada platform digital data Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) sebagai bagian dari reformasi birokrasi BPS pada 2023.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono, mengatakan penggunaan blockchain akan menjaga akurasi dan akuntabilitas data. BPS juga berupaya membangun Regsosek yang mengintegrasikan seluruh data ke dalam sistem reformasi perlindungan sosial. Setiap gugus data yang saling terintegrasi dapat dibagi-pakai oleh kementerian/lembaga (k/l) hingga pemerintah daerah (pemda).

“Kami akan gunakan teknologi blockchain supaya akurasi data, akuntabilitas data, dan sejarah data tercatat dengan baik sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Jadi ini adalah sekaligus merupakan tugas BPS dalam perpres 132 2022 tentang Arsitektur SPBE Nasional,” kata Margo dikutip Antara, Rabu (1/2).

Integrasi Data

Ilustrasi blockchain.
Ilustrasi blockchain.

Baca juga: BI Pastikan Rupiah Digital Pakai Teknologi Blockchain, Kapan Dirilis?

Margo berharap Regsosek tidak hanya menjadi gugus data yang baru, tanpa ada integrasi dengan sistem data yang lain. Untuk melakukan integrasi, setiap gugus data harus terkoneksi dengan data Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

Harapannya, sistem data yang menggunakan teknologi blockchain itu terhubung pula dengan gugus data lainnya seperti data perkawinan dan perceraian, serta data lain sebagainya.

Dengan Regsosek, BPS tengah berupaya mendapatkan data terkait kondisi infrastruktur dasar kebutuhan masyarakat, dan terakhir menyangkut kondisi geografis dan kemudahan akses wilayah. Jika dapat diketahui bisa memberikan treatment dan kebijakan sesuai dengan kapabilitas dan kebutuhan masing-masing daerah.

“Jadi melihat si miskin ini spektrumnya 360 derajat, bisa dari kapabilitas individu dan keluarga, kondisi infrastruktur dasar yang menjadi kebutuhan penyangga masyarakat, dan bisa menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dari kondisi geografis dan kemudahan akses wilayah. Dengan melihat data statistik 360 derajat (statistical dataverse 360°), maka kita bisa melihat program yang cocok di setiap wilayah itu apa (mengingat antar daerah memiliki karakteristik yang berbeda),” jelas Kepala BPS.

Pemerintah Indonesia dan Blockchain

Ilustrasi CBDC Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.
Ilustrasi CBDC Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.

Baca juga: Elon Musk Ungkap Fitur Pembayaran Kripto di Twitter, Harga DOGE Naik?

BPS bukan menjadi lembaga pemerintahan yang mulai mengadopsi teknologi blockchain. Sebelumnya yang ramai diberitakan adalah Bank Indonesia yang tengah merancang Rupiah Digital dengan blockchain atau distributed ledger technology (DLT).

Bank Indonesia semakin dekat dengan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau yang bakal dikenal sebagai Rupiah Digital. Salah satu kabar terbaru adalah BI akan menggunakan teknologi blockchain untuk proses distribusinya.

Dikutip Antara, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pihaknya kini sedang dalam proses seleksi pemain terbesar di perbankan atau perusahaan sistem pembayaran, yang akan ditunjuk atau diamanatkan untuk mendistribusikan rupiah digital.

“Platform distribusinya nanti akan menggunakan Distributed Ledger Technology (DLT) blockchain dan perbankan yang ditunjuk akan memiliki dua akun, akun digital dan akun standar. Hanya bank yang bisa menggunakan DLT,” kata Perry.

Continue Reading

Blockchain

Mastercard & Polygon Kolaborasi Bikin Program Bantu Artis Eksis di Web3

Published

on

POLAND - Ilustrasi Mastercard.. Foto: Omar Marques/SOPA Images/LightRocket via Getty Images.

Mastercard telah bermitra dengan Polygon MATIC untuk memperkenalkan artis atau konten kreator baru ke dalam teknologi Web3. Program akselerator ini, akan mengajari lima artis pendatang baru yang berbeda, termasuk penyanyi, musisi, DJ, dan produser, untuk menggunakan teknologi blockchain untuk mengembangkan brand dan keterlibatan penggemar mereka.

Ada berbagai keuntungan yang bisa didapatkan para artis tersebut dengan memanfaatkan blokchain, seperti efisiensi biaya, mencetak koleksi NFT sendiri untuk menumbuhkan keterlibatan penggemar online mereka, dan hadir dalam konser berbasis metaverse dan lainnya.

Web3 memiliki potensi untuk memberdayakan artis pendatang baru yang dapat menumbuhkan basis penggemar, mendapatkan penghasilan, dan memperkenalkan media baru untuk ekspresi diri dan koneksi dengan cara mereka sendiri,” kata Ryan Watts, CEO Polygon Studios dikutip TechCrunch.

Metaverse Fashion Week akan kembali hadir di tahun 2023.
Metaverse Fashion Week akan kembali hadir di tahun 2023.

Baca juga: Solana dan Cardano Naik 21% Raih Kenaikan Tertinggi Bulanan

Web3 dan Musik

Tidak hanya dengan Polygon, hubungan antara Mastercard dan musik telah berjalan lama, karena perusahaan saat ini menjadi sponsor resmi Grammy dan bahkan mencoba-coba produksi musik, meluncurkan rekamannya sendiri pada tahun 2022. Pentingnya teknologi terdesentralisasi untuk Mastercard sudah jelas, karena berusaha untuk memberdayakan artis baru dalam ekosistem untuk mencapai relevansinya sendiri.

“Musik adalah hasrat universal, menginspirasi kita, menggerakkan kita, dan menyatukan kita; Namun, rasanya mustahil bagi seniman pemula untuk menerobos masuk,” kata Raja Rajamannar, CMO Mastercard, memperkuat relevansi teknologi ini untuk perkembangan artis masa kini.

Lima artis yang akan mengikuti program ini masih belum terpilih, mereka masih dapat mendaftar dan menunjukan karyanya. Program ini dijadwalkan akan dimulai pada musim semi 2023, dan penggemar juga akan dapat bergabung dengan para penampil ini, bekerja sama untuk mempelajari cara kerja teknologi blockchain dan web3.

Baca juga: Lido DAO Naik 57% Dalam Seminggu, Bagaimana Prospek ke Depan?

Continue Reading

Metaverse

McKinsey: Metaverse Ciptakan Potensi Ekonomi US$ 5 T di Tahun 2030

Published

on

Ilustrasi metaverse

Metaverse menjadi topik yang paling dibahas pada tahun 2022 lalu, karena memiliki potensi ekonomi besar di masa depan. Namun ternyata, seiring dengan lesunya pasar kripto, perkembangan metaverse juga mengalami pelambatan bahkan kerugian.

Banyak orang, termasuk CEO Meta Inc., Mark Zuckerberg, tetap percaya metaverse masih berada di posisi yang baik untuk jangka panjang. Mempertimbangkan banyak sekali kasus penggunaan yang berpusat pada konsumen dan bisnis yang dapat dipenuhi oleh metaverse, laporan McKinsey & Company menyoroti potensi teknologi untuk menghasilkan nilai hingga US$ 5 triliun pada tahun 2030.

Agar metaverse dapat mencapai potensi penuhnya, laporan tersebut menyoroti kebutuhan akan empat pendukung teknologi — perangkat (AR/VR, sensors, haptics, dan peripherals, interoperabilitas dan standar terbuka, memfasilitasi platform dan alat pengembangan.

Fokus pada Manusia

Laporan McKinsey menyebutkan metaverse kemungkinan menciptakan nilai US$ 5 triliun pada tahun 2030. Sumber: McKinsey.
Laporan McKinsey menyebutkan metaverse kemungkinan menciptakan nilai US$ 5 triliun pada tahun 2030. Sumber: McKinsey.

Baca juga: Kenal Aset Kripto DODO, Fundamental Protokol Blockchain DeFi Optimal

Kesuksesan metaverse ditimbang dengan fokus yang lebih besar untuk memaksimalkan pengalaman manusia yang bertujuan memberikan pengalaman positif bagi konsumen, pengguna akhir, dan masyarakat.

Sampai saat ini, inisiatif metaverse masih seputar pemasaran, pembelajaran, dan pertemuan virtual dan telah melihat tingkat adopsi yang tinggi di berbagai industri. Namun, mayoritas inisiatif di sekitar metaverse telah melihat adopsi rendah-menengah, menurut survei April 2022 terhadap eksekutif senior yang dilakukan oleh McKinsey.

Metaverse terlalu besar untuk diabaikan,” tulis laporan tersebut dikutip Cointelegraph.

McKinsey memperkirakan bahwa lebih dari 50 persen kegiatan dapat diadakan di metaverse pada tahun 2030, berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga US$ 5 triliun. Hal tersebut berkaitan dengan sorotan dampaknya terhadap kehidupan komersial dan pribadi.

Kesenjangan Gender

Ilustrasi metaverse.
Ilustrasi metaverse.

Baca juga: WEF Percaya Kripto dan Blockchain Jadi Bagian Integral Ekonomi Modern

Laporan McKinsey juga menemukan kesenjangan gender dalam metaverse mirip dengan yang ada di perusahaan Fortune 500, di mana kurang dari 10% CEO adalah perempuan. Ini terlepas dari lebih banyak perempuan daripada pria yang mengunjungi metaverse, dan perempuan menghabiskan lebih banyak waktu di dunia virtual.

McKinsey mengatakan bahwa 35% wanita yang disurvei adalah “pengguna kuat” metaverse – artinya mereka menghabiskan lebih dari tiga jam seminggu di sana – dibandingkan dengan 29% pria.

Selain itu, perempuan memimpin lebih banyak inisiatif terkait metaverse di perusahaan tempat mereka bekerja, dengan 60% dari 450 eksekutif wanita yang disurvei telah mendorong rencana ke depan, dibandingkan dengan 50% pria.

Continue Reading

Popular