Connect with us

Bitcoin News

Likuidasi Kripto US$837 Juta: Cascade Long Saat BTC di Bawah US$80.000

Likuidasi posisi kripto mencapai US$837 juta saat BTC turun di bawah US$80.000 pada 24 Oktober 2026. Ini cara kerja cascade likuidasi long Bitcoin dan cara membacanya.

Tivan

Published

on

Likuidasi long bitcoin

Pasar kripto mengalami gelombang likuidasi besar pada 23–24 Oktober 2026 setelah harga Bitcoin (BTC) menembus ke bawah US$80.000.

Dalam periode 24 jam, nilai posisi yang dilikuidasi mencapai sekitar US$837 juta, dengan posisi long menyumbang 82,8% dari total tersebut.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana penggunaan leverage dapat memperbesar tekanan jual ketika harga bergerak berlawanan dengan ekspektasi trader.

Data yang dikutip Yahoo Finance dari CoinGlass mencatat likuidasi sekitar US$837,12 juta dalam 24 jam hingga 24 Oktober.

Dari jumlah tersebut, sekitar US$693,05 juta berasal dari posisi long, sedangkan posisi short menyumbang US$144,07 juta.

Dalam rentang waktu yang lebih pendek, lebih dari US$200 juta posisi kripto dilaporkan terlikuidasi hanya dalam satu jam pada 24 Oktober.

Sebanyak US$191,33 juta di antaranya merupakan posisi long. Bitcoin juga sempat menyentuh kisaran US$79.700, level terendah dalam lebih dari satu bulan.

Namun, laporan lain menunjukkan angka likuidasi 24 jam yang lebih rendah, sekitar US$670 juta.

Perbedaan ini tidak selalu berarti salah satu data keliru karena waktu pengambilan data dan jendela pengukuran dapat berbeda.

Yang menjadi perhatian utama adalah mekanisme deleveraging cascade, ketika penurunan harga memicu penutupan paksa posisi berleverage dan penjualan tersebut memperbesar tekanan harga.

Baca Juga: Leverage dalam Crypto Futures: Peluang dan Risiko

Apa yang Terjadi pada 23–24 Oktober?

Tekanan pasar meningkat ketika Bitcoin kehilangan level psikologis US$80.000 pada perdagangan akhir pekan.

Berdasarkan laporan PrimeXBT, BTC sempat turun hingga sekitar US$79.750 pada 24 Oktober, sebelum berupaya menemukan dukungan di area tersebut.

Penurunan ini diikuti pelemahan sejumlah aset kripto utama. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi juga di pasar derivatif, tempat trader membuka posisi dengan margin dan leverage.

Ketika nilai jaminan tidak lagi mencukupi untuk menutup potensi kerugian, bursa dapat menutup posisi secara otomatis.

Angka likuidasi yang dilaporkan pada periode tersebut bervariasi.

Data CoinGlass yang dikutip Yahoo Finance mencatat sekitar US$837,12 juta dalam 24 jam, sementara laporan PrimeXBT pada jendela pengukuran berbeda menyebut sekitar US$670 juta.

Angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai potret pada waktu pengambilan data masing-masing, bukan dijumlahkan menjadi satu total.

Perbedaan serupa terlihat pada data per jam. Laporan Yahoo Finance menyebut lebih dari US$200 juta posisi terlikuidasi dalam satu jam, termasuk US$191,33 juta posisi long.

Sementara itu, TokenPost melaporkan total sekitar US$291 juta untuk satu jam pengukuran yang berakhir pada pukul 15.18 UTC tanggal 24 Oktober, dengan sekitar US$274 juta berasal dari posisi long.

Perbedaan angka per jam tersebut memperlihatkan pentingnya memperhatikan waktu mulai dan berakhirnya setiap pengukuran.

Dalam pasar yang bergerak cepat, total likuidasi dapat berubah secara signifikan hanya dalam hitungan menit.

Apa Itu Likuidasi Cascade?

Likuidasi terjadi ketika bursa menutup posisi trader secara paksa karena margin atau jaminan yang tersedia tidak lagi memenuhi persyaratan untuk mempertahankan posisi tersebut.

Mekanisme ini umum ditemukan dalam perdagangan derivatif berleverage. Ketika trader membuka posisi long, ia memperoleh eksposur terhadap kenaikan harga.

Jika harga turun tajam, nilai posisi mengalami kerugian. Ketika kerugian mencapai batas tertentu dan jaminan tidak mencukupi, posisi dapat dilikuidasi.

Masalah muncul ketika banyak trader menempatkan posisi dengan arah yang sama dan menggunakan leverage tinggi. Penurunan harga awal dapat memicu likuidasi sejumlah posisi long.

Penutupan paksa tersebut berpotensi menghasilkan tekanan jual tambahan, yang kemudian mendorong harga turun lebih jauh dan memicu likuidasi berikutnya.

Siklus inilah yang dikenal sebagai liquidation cascade atau rangkaian likuidasi berantai.

Tim Research Tokocrypto menjelaskan bahwa likuidasi cascade merupakan mekanisme umpan balik: harga turun, posisi long dilikuidasi, penjualan paksa bertambah, lalu harga berpotensi turun lebih lanjut.

Proses tersebut dapat mempercepat pergerakan pasar, terutama ketika likuiditas menipis dan posisi leverage terkonsentrasi.

Meski demikian, likuidasi bukan satu-satunya penyebab penurunan harga.

Perubahan sentimen, penjualan di pasar spot, arus dana institusional, dan perkembangan makroekonomi dapat menjadi pemicu awal atau memperbesar pergerakan yang sedang berlangsung.

Kenapa Posisi Long Mendominasi?

Dari total likuidasi sekitar US$837,12 juta, posisi long menyumbang sekitar US$693,05 juta atau 82,8%. Sementara itu, likuidasi posisi short mencapai sekitar US$144,07 juta.

Dominasi posisi long menunjukkan bahwa trader yang bertaruh pada kenaikan harga menanggung bagian terbesar dari penutupan paksa selama periode pengukuran tersebut.

Kondisi ini dapat terjadi ketika banyak pelaku pasar memperkirakan harga akan melanjutkan kenaikan, sehingga mereka membuka posisi long, termasuk menggunakan leverage.

Ketika arah harga berbalik dan menembus level yang menjadi batas risiko mereka, posisi tersebut dapat dilikuidasi secara beruntun.

Leverage memperbesar dampak pergerakan harga terhadap modal. Trader yang menggunakan leverage tinggi memiliki ruang lebih sempit untuk menahan pergerakan yang berlawanan dengan posisinya.

Karena itu, perubahan harga yang relatif kecil sekalipun dapat memicu likuidasi jika jaminannya terbatas.

Namun, dominasi likuidasi long tidak otomatis membuktikan bahwa mayoritas investor secara keseluruhan bersikap bullish.

Data likuidasi hanya mencatat posisi yang ditutup paksa, bukan seluruh posisi yang masih terbuka atau semua transaksi di pasar.

Bagi pelaku pasar, angka 82,8% lebih tepat dibaca sebagai gambaran bahwa posisi bullish berleverage mengalami tekanan paling besar dalam periode tersebut.

Angka itu juga menjadi pengingat bahwa keyakinan terhadap kenaikan harga tidak menghilangkan risiko ketika posisi dibangun dengan leverage berlebihan.

Beda Likuidasi Terealisasi dan Klaster Estimasi

Dalam membaca data derivatif, trader perlu membedakan likuidasi yang benar-benar terjadi dengan klaster likuidasi yang diperkirakan berpotensi terjadi pada level harga tertentu.

Likuidasi terealisasi merupakan posisi yang telah ditutup paksa oleh bursa. Angkanya dikumpulkan dari aktivitas yang sudah berlangsung dalam periode tertentu, misalnya satu jam atau 24 jam.

Data inilah yang digunakan untuk melaporkan total likuidasi US$837 juta atau angka lain berdasarkan jendela pengukuran masing-masing.

Sementara itu, klaster estimasi likuidasi adalah perkiraan area harga tempat banyak posisi berleverage berpotensi dilikuidasi jika harga mencapai level tertentu.

Informasi semacam ini biasanya ditampilkan dalam peta likuidasi atau liquidation heatmap.

Klaster estimasi bukan bukti bahwa likuidasi sudah terjadi. Angka dan lokasinya bergantung pada model, asumsi, serta data posisi yang digunakan penyedia analisis. Posisi trader juga dapat berubah sebelum harga mencapai level tersebut.

Tim Research Tokocrypto menilai perbedaan ini penting karena kedua indikator memiliki fungsi berbeda.

Data terealisasi membantu menjelaskan apa yang telah terjadi, sedangkan klaster estimasi dapat digunakan untuk mengamati area risiko yang mungkin relevan dalam skenario pergerakan berikutnya.

Selain itu, open interest atau jumlah kontrak derivatif yang masih terbuka perlu diperhatikan. Open interest yang besar dapat menunjukkan banyaknya posisi yang masih aktif dan berpotensi menjadi sumber likuidasi apabila harga bergerak tajam.

Namun, besarnya open interest saja tidak cukup untuk menentukan arah pasar karena posisi long dan short sama-sama tercatat di dalamnya.

Dengan demikian, penilaian risiko sebaiknya menggabungkan data likuidasi aktual, open interest, pendanaan kontrak atau funding rate, kondisi likuiditas, dan pergerakan harga.

Tidak ada satu indikator yang dapat memastikan kapan cascade berikutnya terjadi.

Pemicu Makro: Geopolitik Timur Tengah

Tekanan terhadap Bitcoin pada 24 Oktober juga terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah.

Laporan CoinDesk mengenai penurunan Bitcoin dan evakuasi personel AS menyebut adanya laporan penarikan personel dari sejumlah kedutaan dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut menyusul kekhawatiran atas potensi ancaman dari Iran.

Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian di pasar global. Ketika risiko geopolitik meningkat, investor dapat mengurangi eksposur terhadap aset berisiko sambil menilai dampaknya terhadap ekonomi, energi, dan kondisi keuangan global.

Namun, hubungan antara berita geopolitik dan pergerakan harga Bitcoin tidak boleh disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat tunggal.

Informasi tersebut muncul bersamaan dengan tekanan dari pasar derivatif, penurunan harga sebelumnya, dan aktivitas jual beli pada akhir pekan.

Data yang tersedia menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut terjadi dalam periode yang berdekatan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan seberapa besar kontribusi masing-masing faktor terhadap penurunan BTC.

Ketika sentimen memburuk, pasar yang menggunakan leverage tinggi dapat menjadi lebih rentan terhadap pergerakan tajam.

Penurunan awal akibat perubahan sentimen dapat memicu likuidasi, sedangkan likuidasi memperbesar volatilitas yang sudah berlangsung.

Karena itu, perkembangan geopolitik perlu diperlakukan sebagai salah satu konteks risiko makro, bukan sebagai penjelasan tunggal untuk seluruh gelombang likuidasi.

Cara Melindungi Diri dari Cascade

Peristiwa 23–24 Oktober menunjukkan bahwa pengelolaan risiko sama pentingnya dengan menentukan arah harga.

Trader tidak dapat mengendalikan volatilitas pasar, tetapi dapat mengatur seberapa besar risiko yang bersedia ditanggung.

Pertama, pahami dampak leverage sebelum membuka posisi. Semakin tinggi leverage, semakin kecil pergerakan harga yang diperlukan untuk menggerus margin dan memicu likuidasi.

Mengurangi leverage dapat memberi posisi ruang lebih besar untuk menghadapi volatilitas.

Kedua, tentukan batas kerugian dan ukuran posisi sejak awal. Jangan hanya mengandalkan asumsi bahwa harga akan kembali ke arah yang diharapkan.

Pergerakan tajam dapat berlangsung lebih lama daripada kemampuan modal untuk menahan kerugian.

Ketiga, hindari menempatkan seluruh modal pada satu posisi atau menggunakan dana kebutuhan pokok untuk perdagangan berisiko tinggi.

Diversifikasi dan pengaturan eksposur dapat membantu membatasi dampak apabila satu posisi bergerak berlawanan dengan perkiraan.

Keempat, perhatikan kondisi pasar secara menyeluruh. Data open interest, funding rate, likuiditas, dan likuidasi aktual dapat memberi konteks tambahan tentang kondisi leverage.

Namun, indikator tersebut bukan jaminan untuk mengetahui titik balik harga atau waktu terjadinya cascade.

Terakhir, jangan menyamakan klaster estimasi likuidasi dengan target harga yang pasti tercapai.

Peta likuidasi dapat membantu memahami area risiko, tetapi bukan alat untuk memastikan bahwa harga akan bergerak menuju level tertentu.

Kesimpulan

Gelombang likuidasi pada 23–24 Oktober 2026 menunjukkan risiko yang muncul ketika penurunan harga Bitcoin bertemu dengan posisi derivatif berleverage.

Data CoinGlass yang dikutip Yahoo Finance mencatat likuidasi sekitar US$837,12 juta dalam 24 jam, dengan posisi long menyumbang 82,8%.

Pada periode satu jam tertentu, lebih dari US$200 juta posisi juga dilaporkan terlikuidasi, termasuk US$191,33 juta posisi long.

BTC sempat turun ke sekitar US$79.700 setelah menembus level US$80.000, di tengah kekhawatiran geopolitik Timur Tengah dan meningkatnya tekanan pasar.

Perbedaan total likuidasi yang dilaporkan sejumlah sumber perlu dibaca berdasarkan waktu dan jendela pengukuran masing-masing.

Sejalan dengan perspektif Tim Research Tokocrypto, likuidasi cascade merupakan mekanisme umpan balik yang dapat mempercepat penurunan, tetapi tidak otomatis menentukan arah harga jangka panjang.

Trader perlu membedakan likuidasi yang telah terealisasi dari klaster estimasi, serta memantau open interest sebagai salah satu indikator potensi kerentanan pasar.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Trending