Connect with us

Crypto

Volume Perdagangan Kripto di India Runtuh Setelah Pajak Baru Berlaku

Published

on

Ilustrasi industri aset kripto di India. Foto: Shutterstock.

Industri kripto di India sedang mengalami gejolak pasca berlakunya kebijakan pajak yang baru tentang aset digital tersebut. India mulai menjalankan aturan pajak aset kripto sebesar 30% atas keuntungan dari transaksi mulai 1 April 2022.

Dilaporkan Coindesk, data yang dikumpulkan oleh Crebaco, perusahaan riset aset kripto, melihat ada penurunan volume perdagangan pada empat exchange di India. Data mengungkapkan penurunan 72% di WazirX, 59% di ZebPay, 52% di CoinDCX dan 41% di BitBns. Volume perdagangan diukur dalam dolar AS.

India sekarang memiliki pajak 30% atas keuntungan dari transaksi kripto dan tidak mengizinkan mengimbangi keuntungan dengan kerugian dari transaksi lainnya. Ketentuan paling kontroversial, adanya kewajiban pajak 1% yang dipotong pada sumber penghasilan akan berlaku 1 Juli mendatang.

Pajak Kripto Baru Turunkan Jumlah Volume Trading

Laporan ini juga mengungkap penurunan volume perdagangan cenderng dampak dari undang-undang pajak baru. Namun, kondisi penurunan volume di exchange India sebagian besar juga sejalan dengan tren global yang mengalami market bearish.

Ilustrasi industri aset kripto di India. Foto: Shutterstock.
Ilustrasi industri aset kripto di India. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Pajak Kripto Perlu Pembahasan Mendalam dan Untungkan Semua Pihak

“1, 2, dan 3 April adalah hari libur. Sejak itu, volume terus turun. Saya tidak berpikir ini akan kembali,” kata CEO Crebaco, Sidharth Sogani.

“Ini telah menciptakan tolok ukur baru. Bisa turun lebih jauh atau melebar, tetapi tidak mungkin naik kembali. Jelas bahwa pajak baru berdampak negatif pada pasar. Pemerintah harus melihat ini, dan karena tidak ada cara untuk menghentikan ini,” tambahnya.

Exchange ZebPay menolak berkomentar, sementara pelaku usaha lainnya tidak segera membalas permintaan komentar.

Sathvik Vishwanath, salah satu pendiri dan CEO Unocoin, salah satu exchange di India lainnya, mengatakan undang-undang pajak baru mempengaruhi pasar.

“Orang yang berpenghasilan kurang dari 1.000.000 Rupee India per tahun dipengaruhi oleh pajak penghasilan tetap 30% untuk kripto. 1% pajak penghasilan mempengaruhi pelaku pasar dan penyedia likuiditas. Keduanya diperlukan untuk ekosistem kripto yang lebih baik di India,” tulis Vishwanath di akun Twitter resminya.

Investor Pemula Jadi Tak Minat Investasi Kripto

Anton Gulin, direktur regional pertukaran crypto, AAX, mengatakan penurunan volume merupakan dampak jangka pendek. “Saya percaya bahwa tarif pajak dapat direvisi untuk menarik lebih banyak pembayar pajak, karena ini adalah tujuan akhir bagi pemerintah mana pun,” kata Gulin.

Ilustrasi pajak aset kripto.
Ilustrasi pajak aset kripto. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Dua Bocah Ini Bisa Cuan Rp 430 Juta per Bulan dari Tambang Kripto

Sementara, Johnny Lyu, CEO KuCoin, platform perdagangan lain, mengatakan bahwa beberapa investor pemula kurang bersedia untuk berinvestasi di instrumen kripto dalam jangka pendek.

“KuCoin belum melihat penurunan, menurut data internal. Ini dapat dijelaskan dengan tingkat transaksi kripto yang lebih tinggi di antara pengguna kami,” katanya. “Undang-undang baru akan memengaruhi kondisi dan perilaku pasar jangka pendek, tetapi akan sulit untuk memblokir adopsi kripto dalam jangka panjang.”

Indonesia Bakal Terapkan Pajak Kripto

Perdagangan aset kripto di Indonesia akan mulai dikenakan Pajak Pertambahan Nilai atau PPN dan Pajak Penghasilan atau PPh yang akan berlaku mulai 1 Mei 2022. Adapun tarif PPN yang dikenakan ialah 0,11 persen dari nilai transaksi kripto. Sementara itu, para penjual aset kripto atau exchanger dikenai PPh 22 final dengan tarif 0,1 persen dari nilai transaksi.

Untuk pedagang yang tak terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), maka tarif pajak yang dipungut berbeda. Yakni, dua kali lipat dari pedagang yang berlisensi atau berarti 0,22 persen untuk PPN dan 0,2 persen sebagai Pajak Penghasilan (PPh).

Ilustrasi pajak aset kripto di Indonesia. Foto: Finance In Bold.
Ilustrasi pajak aset kripto di Indonesia. Foto: Finance In Bold.

Baca juga: Dogecoin Bakal Jadi Metode Pembayaran di Twitter dan Tesla, Harganya Naik?

Penetapan tarif pajak kripto tersebut dinilai memberatkan investor dalam negeri, karena terlalu tinggi. Aturan pajak seharus mengikuti perkembangan industri yang masih tergolong baru di Indonesia. Dikhawatirkan, beleid pajak ini akan membuat investor lebih memilih transaksi di luar negeri, sehingga volume perdagangan turun seperti India.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda, menyambut baik rencana pemberlakuan pajak terhadap transaksi aset kripto di Indonesia. Pengenaan pajak terhadap aset kripto sangat memungkinkan dan memberi dampak positif pada industri yang sudah berjalan baik saat ini.

“Kami yakin peraturan pajak ini dibuat dengan niat dan tujuan yang baik oleh pemerintah. Ini juga merupakan langkah yang baik untuk mendukung berkembangnya industri aset kripto yang dipadang memiliki legitimasi yang kuat,” kata pria yang akrab disapa Manda.

Bitcoin News

Bitcoin Kembali Turun ke Harga di Bawah $ 20 Ribu, Apakah Investor Mulai Menyerah?

Published

on

Bitcoin Kembali Turun ke Harga di Bawah $ 20 Ribu

Pergerakan harga Bitcoin pada perdagangan hari ini, Kamis, 30 Juni 2022, berada pada fase kritis. BTC kembali menyentuh area di bawah US$ 20 ribu, setelah sehari sebelumnya sempat breakout ke level US$ 21 ribu. 

Saat laporan ini ditulis, BTC diperdagangkan di area US$ 19,522, atau turun 2,96% dalam 24 jam terakhir. Titik support terkuat BTC saat ini berada di area US$ 19,3-19,5 ribu. Jika breakdown atau turun dari level tersebut, bukan tidak mungkin BTC anjlok ke area US$ 14,900.

BTC/USDT TF 4 jam. By: Portalkripto/TR

Penurunan ini kembali menegaskan bahwa musim bearish masih mengintai pasar crypto. Meski, sempat membaik selama dua hari ke belakang, namun aktivitas on-chain dan sentimen makro menunjukan bahwa pasar belum baik-baik saja. 

Berdasarkan analisa on-chain, perusahaan analitik blockchain, Glassnode menyebutkan, pasar crypto saat ini tengah berada dalam tekanan yang cukup ekstrem. Kerugian trader di musim ini menjadi paling parah sepanjang masa.

Glassnode mencatat, kondisi harga spot yang diperdagangkan di bawah harga realisasi sebenarnya jarang terjadi. Kondisi ini baru terjadi tiga kali dalam enam tahun terakhir dan lima kali sejak peluncuran Bitcoin pada 2009.

Baca juga: Bos Binance: Bearish Pasar Kripto Mungkin Segera Usai

“Harga spot saat ini diperdagangkan lebih rendah 11,3% dari harga realisasi, menandakan bahwa rata-rata pelaku pasar sekarang berada di bawah posisi saat mereka membeli,” ujar Glassnode.

Sementara itu arus keluar investor institusional di Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya pun mengalami peningkatan. Coinshares melalui laporan mingguannya mencatat bahwa investor institusional telah menarik keluar aset digital mereka sebanyak US$ 422 juta pada pekan lalu. 

Kondisi ini membuat cemas trader dan investor, di mana menurut Glassnode, fase ini sangat memungkinkan pasar menghadapi kapitulasi atau kondisi di mana investor menyerah dengan keadaan pasar yang merah berkepanjangan. 

“Mengingat durasi dan ukuran bearish yang luas, 2022 dapat dikatakan sebagai bear market paling signifikan dalam sejarah aset digital,” tulis laporan mingguan Glassnode berjudul A Bear of Historic Proportions, yang terbit pada 24 Juni 2022.

Artikel ini telah tayang di Portalkripto.com dengan judul “Bitcoin Kembali Turun ke Harga di Bawah $ 20 Ribu, Apakah Investor Mulai Menyerah?

Continue Reading

Bitcoin News

MicroStrategy Serok Lagi 480 BTC Senilai Rp 148 Miliar

Published

on

MicroStrategy Kembali Serok 480 BTC Senilai Rp 148 Milyar

Perusahaan investasi MicroStrategy kembali menyerok Bitcoin di saat harga aset ini tengah terseok-seok di area US$ 20.000. Perusahaan yang dipimpin Michael Saylor ini mengumukan telah membeli 480 BTC senilai US$ 10 juta atau sekitar Rp 148 Miliar.

Dalam sebuah surat pengumuman yang dikeluarkan oleh Komisi Sekuritas dan Exchanges (SEC) Amerika Serikat bertitimangsa 29 Juni 2022, MicroStrategy membeli 480 Bitcoin pada periode Mei-Juni 2022, pada titik harga rata-rata US$ 20.817.

“MicroStrategy memperoleh sekitar 480 Bitcoin untuk sekitar US$ 10,0 juta tunai, dengan harga rata-rata sekitar US$ 20.817 per Bitcoin, termasuk biaya dan pengeluaran,” tulis surat tersebut.

Pertanggal 28 Juni 2022, perusahaan ini memilki total aset BTC sebanyak 129.699 keping dengan nilai pembelian US$ 3,98 miliar. Total pembelian aset tersebut dibeli  dengan harga pembelian rata-rata US$ 30.664 perkeping. Artinya, pertanggal 29 Juni 2022,  Microstrategy tengah mengalami kerugian sekitar 34%.

CEO MicroStrategy, Michael Saylor, dikenal sebagai Bitcoin Maximalist. Ia selalu optimis terkait dengan masa depan Bitcoin. Bahkan, ia percaya bahwa Bitcoin bisa menjadi penyelamat di tengah badai ekonomi yang ia percayai bakal segera tiba. 

Baca juga: 4 Dasar Rekt Capital Klaim Bottom Absolut dari Bitcoin (BTC) Sudah Dekat

Saat diwawancarai oleh CNN pada 22 Juni 2022, ia mengatakan: “Bitcoin adalah sekoci, dilempar ke lautan badai, menawarkan harapan kepada siapa pun di dunia yang perlu turun dari kapal mereka yang tenggelam. Kita menyaksikan kelahiran industri baru selama krisis keuangan terburuk dalam hidup kita.”

Saat pembelian BTC oleh Microstrategy, pergerakan Bitcoin sedang dalam fase kritis. Aset kripto ini kembali tersungkur di bawah harga US$ 20.000. Meski dengan cepat memantul kembali ke harga US$ 20.000, pergerakan BTC terpantau sangat melemah. 

BTC Melemah

Analis Portalkripto, Arly Fauzi, mengatakan pergerakan volume BTC terus mengalami penurunan. Menurutnya, dalam kondisi ini Bitcoin berpeluang untuk terkoreksi lebih dalam lagi. 

“​​Untuk saat ini terlihat pergerakan harga Bitcoin sudah mulai melemah, terlihat dari volume yang terus turun, dan Moving Average (MA) 25 yang menunjukan akan cross dengan MA50 nya,” ujarnya.  “Skenario terburuknya apabila pergerakan harga Bitcoin memilih untuk breakdown support-nya, maka target penurunan akan berada pada Support Area sebelumnya pada area harga US$ 17.592-US$ 18.036.”

BTC/USDT 4Hour. By: Arly Fauzi

Baca juga: Tokocrypto Market Signal 29 Juni 2022: Kripto Bergerak Stagnan

Pelemahan BTC saat ini terkonfirmasi dari aksi jual dan meningkatnya arus keluar investor institusional. Sebelumnya, perusahaan investasi asal Kanada Cypherpunk Holdings (HODL), menjual seluruh kepemilikan aset kripto yang mereka miliki. Langkah ini diambil perusahaan untuk meminimalisir risiko terburuk selama musim dingin kripto ini.

Cypherpunk diketahui menyimpan sejumlah aset kripto diantaranya Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Dalam rilis resminya, mereka telah menjual 205.8209 ETH, senilai US$ 227.000 dan 214.7203 BTC dengan harga sekitar US$ 4,7 juta. Total penjualan dari dua aset kripto teratas tersebut menghasilkan US$ 5 juta.

Artikel ini telah tayang di Portalkripto.com dengan judul “MicroStrategy Kembali Serok 480 BTC Senilai Rp 148 Milyar

Continue Reading

Bitcoin News

4 Dasar Rekt Capital Klaim Bottom Absolut dari Bitcoin (BTC) Sudah Dekat

Published

on

Ilustrasi Rekt Capital.

Level bottom atau dasar dari penurunan harga Bitcoin (BTC) saat ini menjadi hal yang paling nantikan. Pasalnya, bottom ini akan menjadi akhir dari penderitaan berlarut-larut, dan membawa angin segar ke industri kripto.

Secara fundamental, bangkitnya iklim industri dapat terealisasi pasca meredanya gejolak ekonomi, yang menumbuhkan selera risiko investor ke aset seperti saham dan kripto. Secara teknikal, analis dari Rekt Capital melalui laporan analisis teknikal bagi para pelanggannya, telah melihat adanya peluang bottom Bitcoin sudah dekat.

Log Channel Bitcoin 

Berdasarkan dua gambar pemetaan teknikal di atas, pada Log Channel harga BTC terlihat merosot sekitar 49%,. Hal itu juga terjadi di bulan Maret 2020, ketika Bottom pola Channel hilang sebagai Support kali pertama.

Potensi penurunan masih bisa terjadi lantaran Log ini terus menyoroti sisi Oversold dari harga kripto utama. Selain itu, semakin rendah harga maka semakin bersar peluang untuk pemulihan yang lebih kuat.

Tingkat Volume yang Ekstrim

Melirik indikator volune, saat ini harga di grafik Weekly telah melihat volume jual yang ekstrim. Ini sama seperti beberapa Bottom di masa lalu dan berpotensi bakal segera terbentuk, meski masih sekadar kemungkinan dari sudut pandang teknikal.

MA 200-Minggu

Saat berada di bawah MA 200-minggu dengan minus 14% hingga 28%, harga BTC biasanya akan bergerak naik lagi.

Dari grafik di atas, BTC telah memiliki dua penutupan mingguan di bawah MA ini, yang berperan sebagai Support. Ini bisa menjadi tanda upaya pemulihan dapat terjadi di sini. Apabila tidak, maka MA akan berubah menjadi Resistance, namun tidak akan turun terlalu jauh untuk penemuan Bottom selanjutnya.

RSI Bulanan

Terakhir, yakni indikator RSI bulanan (monthly), telah mencapai level terendah yang pernah ada. Hal ini menandakan sudah dekatnya pembentukan Bottom. Tentu saja, pemulihan tidak akan begitu fantastis karena akan menghadapi momen Halving terlebih dahulu yang biasanya akan berlanjut dengan penguatan. [st]

Artikel ini telah tayang di Cryptoharian dengan judul “4 Dasar Rekt Capital Klaim Bottom Absolut dari Bitcoin (BTC) Sudah Dekat

Continue Reading

Popular